El-Jinjizy

Iran, apakah cuma sekedar program nuklir..?

Posted by: Ahmad El-Jinjizy on: December 14, 2011

Program nuklir yang terus dikembangkan oleh Iran rupanya membuat beberapa negara jadi agak ‘gerah’. Padahal berbagai cara hingga pemberian sangsi embargo telah dilakukan, namun rupanya semua itu seakan sia-sia. Apalagi sejak negara-negara maju (Barat) tidak ada niatan memberi kesempatan tukar-menukar uranium dengan Iran. Kejadian itu malah direspon dengan peningkatan pengayaan uranium sebesar 20 persen oleh Iran, yang tentu saja semakin mendorong Amerika Serikat untuk terus lebih menekan. Menurut negara-negara Barat, tingkatan tersebut lebih dari yang dibutuhkan bagi pemanfaatan nuklir untuk tujuan damai. Lah yang segitu saja sudah dicurigai tapi yang lebih dari itu malah dibiarin? Itulah yang disebut kebijakan standar ganda. ;-)

Belum lama ini sempat dibantah jika pesawat pengintai tanpa awak (drone) milik AS jatuh di tembak di wilayah Iran. Tapi kenyataannya memang pesawat itu tidak ditembak jatuh tapi malah ia mendarat mulus dengan resiko kerusakan kecil. Bantahan tentu saja digulirkan AS demi menjaga kredibilitas kemampuan persenjataannya di media masa. Untuk meyakinkan dunia, Garda Revolusi Iran pun akhirnya merilis video yang menampakkan pesawat pengintai tersebut. Pesawat yang mempunyai nomor ekor RQ-170 Sentinel serta memiliki kemampuan antiradar dan rupanya tinggal landas dari Afghanistan.

Bagi Iran tindakan penyusupan itu dianggap suatu agresi dan Iran pun protes secara resmi baik kepada Afghanistan maupun Sekretaris Jendral PBB Ban Ki-moon. Seakan berita gembira yang harus dirayakan, tak lama kemudian Cina dan Rusia pun mengajukan permohonan izin agar supaya bisa menikmati ikut meneliti pesawat berteknologi canggih yang diproduksi oleh Lockheed Martin itu. Kebalikannya di negeri sendiri, berita dibajaknya pesawat ini merupakan kabar pukulan telak bagi AS.

Iran rupanya telah belajar dari pengalamannya selama ini berinteraksi dengan Barat dan itu semua dijadikan bekal bahwa Iran mampu mandiri tanpa mau diatur maupun disetir kebijakannya. Julukan “Iran memprovokasi dunia” pun seakan hanya dianggap angin lalu, bahkan diikuti dengan berbagai sangsi embargo senjata dan ekonomi oleh negara-negara Barat. Satu hal yang tidak bisa dipungkiri adalah keadaan ekonomi dunia kali ini tengah terpuruk. Berselisihnya negara-negara Uni Eropa dengan Inggris dalam menargetkan kesatuan fiskal lebih ketat untuk mengakhiri krisis utang terburuk di Eropa menjadi persoalan tersendiri, apalagi AS sangat tergantung sekali akan pasar Eropa. Sedang Iran malah berjaya seiring dengan meroketnya harga minyak.

Kabar akan penyerangan Iran akhir-akhir ini sering didengar di berbagai media masa, walaupun para analis meyakini kalau perang di abad ke-21 ini telah pecah. Bukan tanpa dasar yaitu dibuktikan dengan kejadian meledaknya beberapa fasilitas-fasilitas Iran secara misterius. Gaya berperang model sabotase dan spionase pun telah dilakukan keduanya. Selain meminimalisir resiko banyaknya korban manusia yang berjatuhan juga menghemat biaya peralatan tempur, bahkan bisa dibilang lebih efektif dalam keadaan terpaan isu ekonomi yang tidak jelas. Paling tidak pengalaman AS dalam perang Irak dan Afghanistan memberikan benturan tersendiri baik oleh warga negerinya maupun warga dunia.

Pilihan untuk menyerang sebagaimana yang diinginkan sekutu AS yaitu Israel rupanya terlalu berisiko. Selain bisa memicu insiden yang lebih besar, Iran ini juga memiliki kekuatan militer terbesar di Timur Tengah disamping Israel. Kekuatan pasukan Iran terdiri dari 545 ribu personel aktif. Jumlah tersebut belum termasuk personel kepolisian dan tentara Garda Revolusi yang sangat ditakuti.  Personel cadangannya berjumlah 650 ribu, ditambah lagi relawan paramiliter yang dikenal sebagai Basij dengan jumlah anggotanya mencapai sekitar 12,6 juta orang.

Dengan anggaran pertahanan US$9.17 milyar, personel militer Iran pun diperkuat dengan persenjataan yang cukup canggih. Termasuk rudal Shahab-3, yang diyakini Israel mampu menjangkau hingga 2.000 km. Iran juga memiliki rudal Ghadr-1 yang daya jelajahnya menjangkau 1.800 km dan rudal Sejjil dengan jangkauan 2.000 km. Pengalaman Iran akan embargo persenjataan menjadikan Iran mandiri akan memproduksi senjata dalam negeri sejak 1992, yang mana industri militernya telah berhasil memproduksi tank, kendaraan lapis baja, rudal pandu, kapal selam, sistem radar, jet tempur dan kapal militer.

Belakangan ini, Iran juga secara resmi mengumumkan pengembangan senjata seperti Fajr-3 (MIRV), Kowsar, Hoot, Fateh-110, sistem rudal Shahab-3 dan pesawat tidak berawak. Ini akan menjadi lebih canggih lagi jika Iran mampu mengakses dan memanfaatkan teknologi canggih yang dimiliki pesawat drone AS. Tapi kemampuan pesawat drone Iran pun telah teruji ketika mampu mengikuti kapal tempur AS USS Ronald Reagan selama 25 menit tanpa terdeteksi sebelum kembali ke pangkalannya.

Ketakutan AS dan sekutu-sekutunya terhadap Iran tidak hanya sekedar program nuklir saja, namun nyatanya lebih dari pada itu. Keadaan alam Timur Tengah yang kaya akan minyak merupakan hal yang tidak dapat dipungkiri lebih daripada sekedar program nuklir semata. Buktinya negara-negara Uni Eropa pun masih bertentangan akan embargo Iran karena mereka pun masih mendapat pasokan minyak dari Iran. Iran pun sejak awal telah menjalin aliansi dengan Rusia dan Cina guna meredam AS dan sekutunya yang nampaknya berjalan dengan baik. Selain itu Rusia dan Cina juga tidak ingin sumber daya alam Iran jatuh ke Barat. Sepertinya strategi aliansi regional meredam ekspansi AS berhasil terus diupayakan oleh Iran.

Jika cuma masalah program nuklir, ada banyak negara memilikinya, bahkan mempunyai hulu ledak luar biasa dan jumlah yang lebih banyak dari Iran. Kemudian jika keadilan yang diutamakan maka tiap negara berhak memilikinya, namun pertanyaannya apakah hanya sekedar program nuklir saja kemudian Iran menjadi bulan-bulanan embargo negara-negara Barat? Yang pasti Iran sebagai negara yang berdaulat tidak akan terima ketika wilayahnya di ‘obok-obok’, harga diri bangsa itu penting dan ketegasan pemimpin negaranya itu lebih penting. Itu semua nampaknya telah ditunjukkan oleh Iran sebagai pelajaran yang berarti buat bangsa-bangsa lainnya. :-)

Advertisement

7 Responses to "Iran, apakah cuma sekedar program nuklir..?"

Pada hakikatnya bukanlah Us ataupun negara yang terlingkar dalam lingkaran Uni Eropa yang memiliki kekhawatiran tinggi terhadap Iran. Sebagai negeri yang memiliki reputasi buruk di mata hukum internasional, Hak azasi manusia,kebebasan bernegara, khususnya hubungan negatif dengan negara-negara arab, Israel negara yang paling cocok diindikasi sebagai negara yang paling khawatir terhadap perkembangan Iran dalam kurun dekade terakhir ini, khususbya perkembangan teknologi nuklir Iran. Dalam kaca mata pandang Israel yang otomatis “realis”, jika teknologi nuklir Iran tersebut rampung secara sempurna, maka bagi Iran untuk menyerang Israel hanya menunggu momen.

Oleh karena itulah, berbagai cara dilakukan Israel untuk mendesak pemerintahan US di bawah perintah Obama apalagi jika bukan melalui loby-loby zionis Amerika untuk menyerang -paling tidak memojokkan- Iran. Hal tersebut dilakukan Israel agar peningkatan teknologi nuklir Iran bisa stop sampai disini, atau bahkan jika mampu menjadikan Iran “musuh dibawah kendali” seperti negara-negara arab lainnya yang memiliki nasib tragis seperti Afghanistan, Iraq, Libya dsb.

Iya dzul, dalam hal ini memang Israel berusaha sekali meyakinkan bahwa program nuklir itu untuk tujuan yang lebih tinggi lagi yaitu alat perang. Kompetisi dan kemandirian Iran justru akan memperkuat posisi bargaining Iran apalagi mendapat dukungan dari negara yang mempunyai hak veto yaitu Rusia dan Cina.

tulisan yang bagus sekali pak eljinjizy, kesimpulan saya setelah membaca tulisan ini adalah penekanan anda terhadap antagonisme kekuatan barat (AS & allies) versus Islam (Iran). Tapi ada satu variabel lain yang menurut saya belum anda masukkan di sini adalah kompetisi antar negara Islam (Arab) itu sendiri.

Seperti awam kita ketahui tensi antagonisme Sunni vs Syiah sangat keras di jazirah Arabia, terakhir kita tahu ada kelompok yang diduga salafi yang menyerang kelompok Sunni di Yaman, dan beberapa mahasiswa kita jadi korbannya. Terakhir dalam konteks Iran ini kita sudah mahfum bahwa Arab Saudi ternyata memberi “restu” kepada AS dan sekutu untuk menyerang Iran.

Jadi menurut pak eljinjizy ini memang pertarungan barat vs Iran, atau jangan-jangan inti dari semua konflik di jazirah Arab adalah persaingan antar negara-negara Islam sendiri, (c.q dalam selubung ideologi syiah vs sunni)?

Terima kasih banyak buat ‘savindievoice’ telah menyempatkan membaca tulisan saya, memang saya dalam hal ini lebih menekankan kepada kondisi Iran itu sendiri agar lebih fokus. Jika saya memasukkan variabel lain pastinya akan melebar kemana-mana, bahkan menurut saya bukan hanya Arab saja tapi Timur Tengah, untuk sejarahnya mungkin bisa dibaca dalam buku saya yang berjudul ‘Kebangkitan Islam’, karena didalamnya sedikit banyak saya telah membahasnya.
Menengok konstelasi hubungan internasional saat ini kita tidak bisa melihat sempit hanya Barat vs Iran saja, apalagi mengambil inti dari semua konflik di Arab hanya karena persaingan antar negara-negara Islam itu sendiri, kemudian jika hanya menyimpulkan Syiah vs Sunni saja itu juga baru sebagian, karena hanya diwakili sekelompok orang saja. Yaitu kelompok yang hanya ingin selalu mengungkit perbedaan-perbedaan saja demi satu tujuan memecah persatuan umat Muslim dengan mengesampingkan usaha proses perdamaian. ;-)

Thx atas responnya pak eljinjizy, saya bisabelajar banyak dari anda, mohon maaf jg saya belum membaca buku anda.

Apa yang saya tangkap dari konflik di dunia Arab itu menjadi semacam “hipotesis kecil”, bahwa variabel yang lebih banyak berperan (signifikan) adalah konflik sunni vs syiah.

Dengan kata lain, dalam konteks ilmiah saya tidak serta merta menisbikan atau menegasikan variabel lain (seperti konflik
barat vs islam, dll), saya rasa pak eljinjizy yg berkecimpung dalam dunia akademisi sudah sangat mahfum.

Kenapa saya berhipotesis seperti itu, karena beberapa contoh empiris negara yang berkonflik di jazirah Arab adalah negara yang mayoritas sunni vs mayoritas syiah (Iran-Irak, Arab Saudi-Iran), serta mayoritas gejolak dalam negeri yang muncul adalah nuansa sektarian (di bahrain, yaman, suriah). Itu yang saya lihat sesuatu yang sangat krusial, tapi hilang (atau “dihilangkan”) dari tulisan
pak eljinjizy.

Yang saya lihat dari tulisan anda memang menempatkan perspektif atau sudut pandang dari aktor tertentu, (c.q perspektif Iran).
Memang tidak ada yang salah, tapi kecenderungan pendekatan bernuansa fenomenologis atau sudut pandang orang pertama ini punya kecenderungan selain orientasi “framing” juga melupakan variabel lain, yg bisa saja berperan lebih signifikan, jadi tugas mulia seorang analis seperti anda untuk membeberkan semua variabel, mulai dari yg paling tidak penting bagi kita sampai paling penting, itu nanti yang akan kita uji lewat metodologi tertentu. Sehingga yang menentukan variabel itu signifikan atau tidak adalah hasil proses metodologi tadi, bukan asumsi atau pendapat pribadi kita.

Seperti analogi analisis suatu kejadian tabrakan antara dua mobil di perempatan, maka kita harus mengungkap setiap variabel yang ada, mulai apakah lampu merahnya yang mati, mesin mobilnya yang mogok, jalan yang licin, ada pejalan kaki, desain jalannya yang salah,dll. Jadi tidak serta merta saya menuduh bahwa kecelakaan ini karena pemilik mobil satu punya dendam dengan pemilik mobil yang ditabraknya. Apalagi jika saya hanya mendengar dan melihat dari sudut pandang orang yang ditabrak. Jadi alasan “normatif” (“bisa memecah umat kelompok agama tertentu” atau “merusak perdamaian”), saya rasa juga tidak tepat, malah lebih berdosa lagi jika kita menarik kesimpulan yg salah dan nantinya mempengaruhi orang bertindak lebih salah lagi.

Merdeka ….!

Wah luar biasa sekali terima kasih banyak atas tanggapannya dari mas atau mba’ savindievoice… dalam komentar saya sebelumnya saya tidak menyimpulkan bahwa penyebab konflik jazirah Arab itu Sunni-Syiah, namun itu ‘hanya sebagian saja’ dari banyaknya sebab-sebab yang lain. Kemudian memang saya tidak menulis tentang konflik Arab tetapi fokus tentang “Nuklir Iran” dan hubungan kontranya dengan Barat, bukannya membahas tentang inti dari semua konflik di jazirah Arab adalah persaingan antar negara-negara Islam sendiri. Itu sudah tema yang berbeda dari tulisan yang saya angkat, apalagi membahas tentang sunni vs mayoritas syiah (Iran-Irak, Arab Saudi-Iran), serta mayoritas gejolak dalam negeri yang muncul adalah nuansa sektarian (di bahrain, yaman, suriah). Itu sudah jauh dari tema tulisan saya. Apalagi ini sekedar opini yang memang tidak sedetail tulisan ilmiah yang berasal dari framing saya pribadi. Mohon coba dibaca kembali tulisan saya.
Namun sepertinya mas atau mba’ savindievoice suka sekali akan konflik di dunia Arab sehingga mempunyai semacam “hipotesis kecil”, bahwa variabel yang lebih banyak berperan (signifikan) adalah konflik sunni vs syiah. Padahal bangsa Arab itu hanya sebagian loh masih ada bangsa Turki, Parsi, Semit, Kurdi, Azeri, Bakhtiari, Kashgai, dan lain-lain. Juga jangan lupa mengesampingkan bangsa Yahudi dan Nasrani, lagipula tidak mungkin kita mengelompokkan begitu saja mereka hanya sunni dan syiah. Belum lagi era globalisasi saat ini yang bisa mempengaruhi berbagai sektor dan tidak boleh juga kita mengesampingkan kepentingan AS dan Israel di tengah-tengah Dunia Arab.
Boleh-boleh saja membicarakan framing tertentu itu tidak salah, bahkan masing-masing media memiliki sudut framing masing-masing. Justru analisa framing itu diperlukan, lebih lanjut nanti mas atau mba’ savindievoice bisa mengerti setelah membaca buku Analisis Framing: konstruksi, ideologi, dan politik media karya dari Eriyanto. Sudut pandang itu memang banyak rupa dan ragamnya. ;-)

hahaha..,setelah saya mencoba membaca dialog interaktif antara saudara eljinjizy dan savindievoice..,sepertinya saya fikir ada semacam gejala miss persepsi dari kedua saudara saya diatas ini…,saya tidak terlalu mencari tahu latar belakang timbulnya gejala tersebut, namun mungkin saya hanya bisa mendiagnosa dimana gejala miss tersebut berawal…

dengan berlandaskan spirit obyektifitas..,saya melihat bahwa saudara saya eljinjizy mencoba memberikan sebuah opini dari persepektif sosial & politik tentang issu yg sedang berkembang dan menjadi topik hangat khususnya bagi negara-negara barat (maju), yang merasa akan adanya bahaya bagi bangunan kokoh HEGEMONI mereka terhadap negara-negara berkembang dengan bangkitnya nuklir Iran.

Saya fikir olah logika dari pernyataan HEGEMONI dapat dipahami oleh kita semua..,atau seperti ini gampangnya..,selama ini Amerika Serikat dalam konteks sebuah negara super power beserta “his alliance” dianggap telah semena-mena menacapkan pengaruhnya yang jelas melanggar batas-batas kedaulatan, nasionalisme negara-negara berkembang (Phery-phery). Nah jika negara phery-phery tersebut mampu bangkit bahkan mungkin melawan pengaruh AS beserta sekutunya maka bukan hal yg sulit di tebak jika AS beserta sekutu merasa khawatir akan kebangkitan kekuatan baru tersebut atau sebaliknya.Dan anti thesisnya adalah “cegah”.

Hanya sebatas itu framingnya..,tidak lebih

Nah jika saudara saya savindievoice berusaha mengangkat variable variable lain yang serupa tapi tidak sejenis dari konteks diatas itu mungkin yg dianggap keluar jalur “out off line” pembahasan.

saya sadar bahwa saudara saya savindievoice ingin mengatakan bahwa timbulnya konflik timur tengah itu bermula dari dua jalan..,internal (konflik syiah-sunni) atau eksternal (negara-negara barat)
mungkin itu benar….
tapi sepaham saya dari tulisan di atas bukan itu yang dibahas…

saudara saya el jinjizy ingin mengarahkan pembahasan ke arah konteks kenapa program nuklir Iran jadi maslah ?, apa iya Iran di singkirkan dari forum internasional yg di pengaruhi AS dan sekutu hanya karna nuklir ?, atau kenapa AS bersikeras memojokkan Iran dengan praduga namun membiarkan negara nuklir lainnya denga fakta ? hipotesisnya adalah apa iya hanya karna nuklir, nah ingat ini jga buka sebuah penelitian ilmiah namun hanya sekedar opini…,just opinion.

Artinya..,saudara saya el jinjizy membahas apa, saudara saya savindievoice membahas apa..,letak miss tersbut jelas di dalam maslah ini adalah persepsi bahwa yg kita bicarakan ini adalah issu nuklir iran yg gencar dimana mana, dan yg terkait langsung adalah AS, Israel dan sekutu..,bukan masalah konflik timur tengah secara keseluruhan…,bukan itu…

Mungkin sekian tanggapan dari saya yang memang memulai tanggapan ini di awal..,semoga usaha share ini membuka dialog yg lebih besar lagi ke depannya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Calendar

December 2011
M T W T F S S
« Aug   Jan »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Recent Comments

Bella on Aisha
Ahmad El-Jinjizy on Mempertahankan akidah dengan b…
Fikar Fasya on Iran, apakah cuma sekedar prog…
Ahmad El-Jinjizy on Mempertahankan akidah dengan b…
Ahmad El-Jinjizy on Iran, apakah cuma sekedar prog…
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.