Bekerja Fisabilillah

Apabila Telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (Al-Jumu’ah: 10)

Setiap muslim menyadari bahwa dirinya hanya berharga apabila dia berkarya, menciptakan sesuatu dan mampu memberikan arti kepada lingkungannya. Rosulullah SAW bersabda: “Mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.” Allah telah memberikan nikmat yang tiada kiranya, yaitu anggota tubuh kita. Lantas bagaimana kita mensyukuri nikmat Allah yang tiada taranya tersebut.Kita mempunyai sepasang kaki sehingga kita mampu berjalan, kita mempunyai sepasang tangan sehingga mampu mengambil sesuatu dan berpegangan, kita mempunyai sepasang mata sehingga kita bisa melihat indahnya alam karunia Allah di muka bumi ini, kita diberikan sepasang telinga untuk mendengar, hidung, mulut, dan sebagainya. Rasa syukur yang patut kita lakukan yaitu mendaya gunakan potensi kesemuanya itu dalam segala aktivitas kita dengan bekerja menggapai ridho ilahi.

Hal ini sebagaimana firman Allah dalam surat Az-Zumar: 39,

Katakanlah: “Hai kaumku, Bekerjalah sesuai dengan keadaanmu, Sesungguhnya Aku akan bekerja (pula), Maka kelak kamu akan mengetahui,

Hampir di setiap sudut kehidupan, kita akan menyaksikan banyak orang bekerja. Didalam mereka bekerja ada tujuan serta usaha yang sungguh-sungguh untuk mewujudkan sehingga pekerjaan itu berarti. Apa yang perlu kita ingat, yaitu niat kita dalam bekerja. Diriwayatkan dari Ka’ab bin Umrah,

“Ada seseorang yang berjalan melalui tempat Rosulullah SAW, orang itu sedang bekerja dengan sangat giat dan tangkas. Para sahabat lalu berkata, ‘Ya Rosulullah, andaikata bekerja semacam orang itu dapat digolongkan fi sabilillah, alangkah baiknya. ‘Bersabdalah Rosulullah, ‘Kalau dia bekerja itu hendak menghidupi anak-anaknya yang masih kecil, itu adalah fi sabilillah; kalau ia bekerja untuk membela kedua orang tuanya yang sudah lanjut usianya, itu adalah fi sabilillah; kalau ia bekerja untuk kepentingan dirinya sendiri agar tidak meminta-minta, itu adalah fi sabilillah…” (HR. At-Tabrani)

Bekerja untuk mencari fadhilah Allah, menjebol kemiskinan, meningkatkan taraf hidup dan martabat serta harga diri adalah merupakan nilai ibadah yang bermakna, karena Rosulullah SAW bersabda, “Kemiskinan itu sesungguhnya lebih mendekati kepada kekufuran.”

Dalam sebuah riwayat dikisahkan bahwa pada suatu saat Rosulullah SAW berjalan bersama para sahabatnya. Di suatu tempat, beliau melihat beberapa orang pemuda kekar sedang membelah kayu bakar. Para sahabat berkata, “Sayang sekali para pemuda itu, Mengapa keperkasaan mereka tidak digunakan untuk berjuang di jalan Allah?” Rosulullah bersabda, “Janganlah berkata begitu. Sesungguhnya, jika mereka bekerja agar terhindar dari meminta-minta, berarti mereka berada di jalan Allah. Jika mereka bekerja untuk mencari nafkah dan mencukupi kebutuhan keluarga atau orang tuanya, mereka juga berada di jalan Allah.”

Bertawakal Setelah Bekerja

 “Hai anak-anakku, pergilah kamu, Maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”. (Yusuf: 87)

Sebagai hambanya tidaklah pantas bagi kita berdiam diri sebagaimana Umar radhiyallahu ‘anhu mengatakan “Janganlah diantara kamu mencari rizki dengan cara duduk-duduk sambil berkata: “Ya Allah, berilah aku rizki!” Padahal ia tahu bahwa langit tidak akan menurunkan hujan emas atau perak.” Sebagai manusia kita harus menjemput rizki Allah tersebut dengan bekerja keras dan bersemangat kemudian barulah kita bertawakal pasrah kepada Allah. Tidak pantas bagi kita untuk berputus asa dari rahmat Allah. Rosulullah SAW dalam riwayat Tirmidzi bersabda, “Kalau kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya Allah memberi rizki kepada kalian sebagaimana burung diberi rizki, ia berangkat pagi-pagi dengan perut kosong dan kembali dengan perut terisi.”

“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (Ar-Ra’d: 11)

Dan selanjutnya firman Allah dalam surat An-Najm ayat 39,

“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang Telah diusahakannya,”

Kemudian Rosulullah pun menekankan kembali dengan bersabda: “Sesungguhnya Allah sangat senang jika salah seorang diantara kamu mengerjakan sesuatu pekerjaan yang dilakukannya dengan tekun dan sangat bersungguh-sungguh.” (HR Muslim)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s