Islamic Studies: Menyambut Tantangan Globalisasi

al-qur'an, dunia islam, hadist, ilmu, islam, kebangkitan islam, mati, membaca, motivasi, muslim,inklusif, kebudayaan, tsaqafah,hubungan internasional,contoh hubungan internasional,makalah hubungan internasional,pengertian hubungan internasional,hubungan internasional dan organisasi internasional
 “Globalism refers to perception and reality of the boardeless world, which allows the spread of ideas from one country to another within or outside the same continent.” Jan Aart Scholte
“Islam tidak dapat ditaklukkan dengan darah dan air mata, tetapi dengan cinta kasih dan doa.” Raymond Lull, Tokoh Misionaris Kristen

Globalisasi telah berlangsung sejak beberapa dekade terakhir di hampir berbagai negara, termasuk Indonesia. Tidak dapat dipungkiri pada satu sisi, globalisasi memang merupakan peluang, yang muncul antara lain dalam bentuk kemungkinan-kemungkinan perdagangan, investasi antar negara dan kerja sama. Pada sisi lain, globalisasi juga merupakan tantangan atau ancaman, yakni berupa kemungkinan masuknya pengaruh-pengaruh asing yang dapat mengaburkan nilai-nilai agama dan kebangsaan.Arus globalisasi terasa semakin deras dengan semakin berkembangnya teknologi komunikasi. Pengaruh perkembangan di luar negeri, khususnya di negara-negara barat, dengan hampir tidak terbendung dapat mempengaruhi tatacara kehidupan sehari-hari serta cara-cara pengambilan keputusan pemerintah dan pelaku ekonomi di Tanah Air.

Melihat fenomena mahasiswa Indonesia sendiri dalam keberangkatannya belajar kajian ilmu-ilmu keislaman (Islamic studies) ke negara-negara barat tak lepas merupakan dampak globalisasi yang diwujudkan dalam kerja sama yang dijalin Indonesia dengan beberapa negara-negara Barat seperti Kanada, Australia, Jerman dan Belanda. Tentu ada banyak alasan kenapa mahasiswa Indonesia tertarik untuk belajar Islam ke negara-negara Barat, seperti misalnya fasilitas yang lengkap dan modern disertai beasiswa selama menempuh studi bahkan uang saku yang besar tanpa harus membayar uang kuliah. Disini penulis berpendapat kemudahan-kemudahan tersebut merupakan alasan utama untuk belajar ke negeri barat di tengah-tengah kondisi sekarang. Hamid Fahmi Zarkasyi, salah satu lulusan universitas di Inggris mengatakan bahwasannya penyebab mahasiswa Indonesia belajar ke Barat bukan semata-mata karena minat, tapi lebih karena dana yang disediakan untuk belajar Islam di sana mengalir deras.🙂

Islamic Studies: Barat dan Timur

Sudah barang tentu dimana pun kita belajar kajian ilmu-ilmu keislaman, baik itu di timur maupun di barat pasti ada kelebihan dan kekurangannya. Dari sisi keilmuan, tentu saja Timur (terutama Timur Tengah) memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh Barat, karena ajaran Islam sendiri lahir, didakwahkan, dikembangkan dan dianut di Timur. Disamping itu sebagaimana kita ketahui kesejahteraan masyarakat yang dilambangkan dengan penghasilan perkapita yang tinggi disertai kemajuan yang pesat dalam ilmu pengetahuan dan teknologi menjadikan setiap ilmu pengetahuan berkembang dengan baik, didalamnya juga termasuk pula Islamic studies. Tetapi dapat disimpulkan bahwa Islamic studies di Barat diarahkan untuk membentuk para peneliti Islam, sedangkan di Timur diarahkan untuk mencetak pendakwah Islam (da’i).

Ada Udang di Balik Batu

“But I attack you not, as some of us [Christians] often do, by arms, but by words; not by force, but by reason; not in hatred, but in love…” Peter The Venerable atau Petrus Venerabilis (1094-1156M)

Peter adalah tokoh misionaris Kristen pertama di dunia Islam, yang merancang bagaimana menaklukkan umat Islam dengan pemikiran, bukan dengan senjata. Menurutnya juga, pengkajian Islam (Islamic Studies) perlu dilakukan oleh kaum Kristen, agar mereka dapat “membaptis pemikiran kaum Muslimin”. Jadi, kaum Muslim bukan saja perlu dikalahkan dengan ekspedisi militer, melainkan juga harus dikalahkan dalam pemikiran mereka. Strategi penaklukan Islam melalui pemikiran ini kemudian dikembangkan oleh para orientalis Barat.

Kini, setelah beratus-ratus tahun, kaum Orientalis telah berhasil meraih sukses besar dalam bidang studi Islam. Bukan saja mereka berhasil mendirikan pusat-pusat studi Islam di Barat dan  menerbitkan ribuan buku tentang Islam, tetapi mereka juga berhasil menghimpun literatur-literatur Islam dalam jumlah yang sangat besar. Tidak hanya sampai di situ, kerja keras mereka pun kemudian membuahkan hasil yang lebih mengagumkan, yaitu terciptanya kader-kader cendekiawan dan pemikir dari kalangan Muslim, yang getol sekali mengais-ngais dan membongkar serta menyerang bangunan pemikiran Islam dan umat Islam.

Kita juga patut berfikir kritis dengan aktifnya Barat mengundang mahasiswa Muslim untuk belajar Islam di Universitas mereka. Tentu dibalik itu semua mereka memiliki tujuan tertentu. Hal ini tidak terlepas dari agenda mereka untuk mengubah cara pandangan umat Islam terhadap agamanya. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Hamid Fahmi Zarkasyi, beliau mengatakan sekarang ini Barat menginginkan orang Islam memahami Islam sebagaimana Barat memahami Islam. “Karena sementara ini mereka mengganggap bahwa pemahaman-pemahaman Islam yang berasal dari lembaga-lembaga Islam seperti pesantren menghasilkan Islam yang tidak toleran terhadap agama lain atau bangsa lain yang pada puncaknya tidak toleran terhadap Barat.” Mungkin dalam benak kita masih ingat ketika Pemerintah Amerika Serikat berusaha menekan Mesir agar mengubah semua kurikulum Universitas Al-Azhar, pusat lahirnya gerakan Islam di dunia. Kemudian strategi meminimalisir sentimen terhadap Barat yang cenderung kepada tujuan politik, ekonomi dan budaya dilakukan terus-menerus untuk mendukung ide-ide Barat. Salah satunya dengan beasiswa, penawaran belajar dan pertukaran mahasiswa. Itu semua pasti dilakukan dengan maksud tertentu sesuai kepentingan mereka. Ini semua dapat dilihat dari berkembangnya berbagai wacana seperti isu-isu sistem politik demokrasi, doktrin kesetaraan gender, pluralisme agama, hak asasi manusia, liberalisme, sekularisme, dan relativisme.

Tetapi tidak selamanya lulusan Barat terpengaruh gaya berfikir ala Barat yang liberal dan sekuler. Sebagian ada yang tetap kritis, bahkan ikut menghadang gerakan sekularisme dan liberalisme di Indonesia. Kita mungkin mengenal sebagiannya ada Prof. Rasjidi, Hamid Fahmi Zarkasyi, dan Syamsuddin Arif.

Islamic Studies: Baiknya belajar dimana?

Penulis berpendapat sebelum menjawab pertanyaan tersebut, ada baiknya jika kita melihat dari salah satu sisi, terutama yang ada dalam diri kita sendiri sebagai mahasiswa yang ingin belajar Islam. Karena sebenarnya diri kitalah yang menentukan. Belajar Islam itu sendiri mengandung arti tilawah (membaca), taklim (menambah ilmu dan rasa takut kepada Allah) dan tazkiyah (mensucikan jiwa) guna mencapai tujuan puncak yaitu tauhid. Jadi setelah belajar Islam seyogyanya seorang Muslim semakin dekat dengan Al-Qur’an, kian saleh dan takut kepada Allah SWT, mengamalkan ilmunya, semakin bersih jiwanya dan semakin murni tauhidnya. Mungkin hal ini tidak didapatkan di Barat karena tidak ada keteladanan amal disana. Efek negatif belajar Islam di Barat pun ada, seperti orang bisa menjadiskeptis (senantiasa meragukan), agnostik (selalu mencari tapi tidak pernah menemukan), pedantik (cenderung berbelit-belit), reduksionistik (suka mengerucutkan permasalahan), dan lain sebagainya.

Penulis pun beralasan belajar ke Barat tetap perlu. Maksudnya belajar studi Islam di Barat, bukannya belajar Islam. Tetapi harus diiringi niat meningkatkan pengetahuan, menambah pengalaman dan memperluas wawasan lillahi ta’a la.Kemudian syaratnya sebagaimana yang diungkapkan Syamsuddin Arif dan Hamid Fahmi Zarkasyi; Pertama, niatnya harus benar. Kedua, harus sudah matang dulu secara intelektual maupun spiritual. Yang bersangkutan mempunyai latar belakang pemikiran Islam yang baik, penguasaan Islamnya harus mencukupi, hadistnya mencukupi, tafsir dan fiqihnya mencukupi. Ketiga, sebelum belajar filsafat Barat, harus belajar filsafat Islam terlebih dahulu.

Dr. Daud Rasyid juga kembali menekankan pentingnya untuk mempelajari metode ilmiah dari Barat, tetapi jangan mengambil mentah-mentah produk budaya mereka, karena belum tentu cocok dengan Islam.

Penulis menganggap keterbelakangan umat ini bukan disebabkan oleh ajaran Islam, sebagaimana kemajuan Barat bukan karena agamanya tetapi karena mentalitas mereka soal disiplin, kejujuran, kerja keras untuk kemajuan, kebersihan, kesehatan, ketertiban, dan lain sebagainya. Di era sekarang ini, seorang mahasiswa Muslim pun dituntut untuk menguasai benar-benar ilmu yang menjadi bidang studinya tetapi minimal juga memiliki dan menguasai bidang-bidang yang lain, atau dengan kata lain seorang mahasiswa Muslim yang bermultitalenta. Inilah yang menjadi tantangan kita sebagai mahasiswa Muslim dalam rangka menyaring derasnya arus globalisasi saat ini, yaitu mengaktualisasikan Islam dalam berbagai dimensi kehidupan kita.😉

Penulis sendiri menilai wacana Islamic studies apakah ke barat atau ke timur, itu ditentukan dari niat diri kita sendiri tanpa mengabaikan berbagai syarat-syarat belajar Islam di negeri orang, karena baik itu di barat maupun di timur ada kelebihan dan kekurangannya. Wallahu a’lam bis-shawab.

Wassalam,

Akhmad Jenggis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s