Kebudayaan dan Sikap Seorang Muslim

Kebudayaan dan Sikap Seorang Muslim

Islam merupakan agama yang mempunyai karakteristik universal, yang diturunkan untuk semua penghuni langit dan bumi. Tidak seperti Yahudi dan Nasrani, dimana Nabi Musa dan Nabi Isa ‘Alaihimassalam memang diutus khusus untuk Bani Israil saja.

Demikian pula dengan kebudayaan Islam (tsaqafah), ia juga mempunyai sifat universal yang mana akan membuka diri (inklusif) terhadap beraneka ragam kebudayaan tetapi tetap bersandar kepada berbagai syarat dan ketentuan tertentu seperti misalnya bermanfaat dan aman bagi akalnya, dirinya dan agamanya. Bukan kemudian malah sebaliknya, membahayakan.

Kebudayaan yang merupakan hasil perpaduan dari ideologi, pemikiran, ilmu pengetahuan, pengaruh pergaulan dan hubungan sosial di antara manusia, akan selalu berkembang seiring dengan perkembangan dalam kehidupan masyarakat yang selalu berada dalam posisi mempengaruhi dan dipengaruhi.

Oleh karena itu, saat ini ataupun sejak dahulu kala akan sangat sulit untuk menemukan suatu masyarakat yang benar-benar memiliki budaya aslinya yang steril dari kebudayaan-kebudayaan asing. Hal ini pun berlaku terhadap masyarakat Timur maupun Barat, masyarakat muslim maupun masyarakat non-muslim.

Lantas bagaimanakah yang harus dilakukan umat Islam agar supaya dapat mempertahankan kepribadian diri, yang mana merupakan ajaran Rasulullah, para sahabat dan para pendahulu yang sholeh, terhadap berbagai perkembangan kebudayaan saat ini, terlebih di era globalisasi yang mana pintu-pintu informasi demikian terbuka dengan lebar.

Tsaqafah atau kebudayaan menurut Mu’jam Al-Wasith mempunyai makna yaitu kumpulan pemikiran, ilmu pengetahuan dan pemahaman yang disertai dengan seperangkat nilai, keyakinan, dan perasaan yang dapat disebut akhlak, ibadah, adat kebiasaan, tata krama dan perilaku.

Atau bisa juga dikatakan dengan beragam ilmu, sastra dan seni yang bersifat nyata maupun abstrak. Terkadang tsaqafah sering dikaitkan dengan agama, seperti contoh adanya ungkapan ‘kebudayaan Islam’, ‘kebudayaan Yahudi’, ‘kebudayaan Masehi’ dan lain-lain.

Dalam hal ini maka kebudayaan Islam dapat disimpulkan sebagai suatu identitas, falsafah, dan pandangan umat yang menyeluruh terhadap eksistensi kehidupan ini, terhadap ilmu dan nilai-nilai. Yang dimaksud yaitu terhadap Allah, manusia, alam dan kehidupan serta pandangannya terhadap prinsip, tujuan dan risalah.

Terkadang dalam kenyataannya, sebagian orang mengatakan kebudayaan Islam merupakan kebudayaan agama. Seperti misal pendidikan agama identik dengan pendidikan Islam, padahal pandidikan agama merupakan bagian dari pendidikan Islam (tarbiyah) itu sendiri. Sebagaimana terhadap pendidikan akal, pendidikan akhlak, pendidikan sosial kemasyarakatan, militer, keterampilam jasmani dan lain-lain.

Dapat dikatakan pula bahwa kebudayaan Islam meliputi kebudayaan sastra dan bahasa, kebudayaan sejarah, humaniora, dan kebudayaan yang berkaitan dengannya seperti ilmu alam dan ilmu pasti, kesenian dan segala macam ragamnya, juga kebudayaan yang bertalian dengan realita umat manusia, baik umat Islam maupun umat lain, yang tentunya termasuk didalamnya juga kebudayaan agama.

Kebudayaan Islam bukan merupakan kebudayaan yang tertutup, kebudayaan Islam merupakan kebudayaan yang inklusif atau terbuka bagi kebudayaan-kebudayaan lainnya. Dalam keterbukaan ini yaitu menerima segala kebudayaan lain dalam konteks memberi dan mengambil sesuai dengan ukuran yang dimilikinya sesuai dengan nilai-nilai yang islami.

Beberapa bukti yang menyatakan kebudayaan Islam itu mempunyai sifat membuka diri dapat dicontohkan dari dasar-dasar berikut ini:

Al-Qur’an membenarkan dan memelihara kitab-kitab terdahulu

Jika kita kembali mencoba untuk memahami Al-Qur’an, maka akan didapatkan bahwasannya Al-Qur’an itu datang untuk membenarkan dan memelihara kitab yang datang sebelumnya. Allah SWT berfirman dalam surat Al-Ma’idah: 48,

“Dan kami Telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. untuk tiap-tiap umat diantara kamu, kami berikan aturan dan jalan yang terang.” 

Dari ayat tersebut diatas dapat diuraikan, bahwa Al-Qur’an merupakan penguat bagi akidah dan dasar-dasar agama yang tidak diperselisihkan oleh agama-agama, yaitu yang disebutkan dalam ayat berikut ini,

“Dia Telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang Telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang Telah kami wahyukan kepadamu dan apa yang Telah kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya).” [Asy-Syura: 13]

Dari sinilah Islam datang dengan misi utamanya sebagai penyempurna dan pembangun, bukan pembasmi dan penghancur (kecuali terhadap yang batil). Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya aku tidak lain diutus untuk menyempurnakan akhlakul karimah.” [HR. Ibnu Sa’ad dan Bukhari]

Rasulullah mempertahankan tradisi jahiliah yang baik

Melalui sirah dan sunnahnya kita dapat mengetahui bahwa Rasulullah SAW tidak melenyapkan semua tradisi atau adat bangsa Arab sebelum Islam (jahiliah). Tetapi yang Rasulullah lenyapkan hanyalah yang batil dan yang buruknya saja.

Bahkan dalam ibadah haji misalnya, kebanyakan tata caranya dipertahankan oleh Islam padahal ia telah dijalankan secara turun-temurun oleh bangsa Arab dari ajaran Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam, seperti thawaf, sa’i dari Shafa ke Marwa, dan lainnya.

Sementara yang tidak sesuai dengan akidah Islam dihapus, seperti ucapan orang-orang jahiliah terdahulu dalam talbiah “Labbaik la syariika laka illa syariikan huwa laka tamlikuhu wa ma malak” yang ditujukan kepada berhala-berhala orang jahiliah. Kemudian yang dihapuskan adalah thawaf yang dilakukan sambil telanjang oleh mereka. Mereka beralasan bahwasannya mereka melakukan thawaf mengelilingi Baitullah dengan tidak mengenakan pakaian yang digunakan untuk maksiat.

Boleh mengambil yang baik dari umat lain

Bukti lain dari keterbukaan kebudayaan Islam adalah dibolehkannya mengambil adat, peraturan, atau segala sesuatu yang dilakukan oleh orang atau umat lain yang memberi manfaat bagi kaum Muslimin selama tidak bertentangan dengan akidah atau syariat Islam.

Dalam riwayat Bukhari di kitab Al-Libas diuraikan ketika sebagian sahabat mengusulkan kepada Rasulullah SAW agar beliau membuat stempel seperti yang diperbuat para pemimpin-pemimpin dunia untuk mencap buku-buku dan surat-surat mereka, karena mereka tidak mau menerima surat ataupun tulisan kecuali jika ada stempelnya, maka Rasulullah SAW pun mengabulkan usul tersebut.

Kemudian Rasulullah SAW membuatnya dari perak dengan bertuliskan Muhammad Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Seorang muslim itu dianjurkan mengambil ilmu dari manapun

Seorang muslim tidak sebagaimana yang digambarkan oleh sebagian orang sebagai manusia yang menutup diri dan tidak mau menerima masukan dari luar kecuali yang datang dari syaikhnya saja. Seorang muslim tidak bersikap seperti itu. Seorang Muslim yang sebenarnya adalah, ia dapat mengetahui dari Al-Qur’an dan sunnah Rasul-Nya bahwa yang haq atau kebenaran itu bisa diperoleh dari alam, dari kedalaman jiwa dan dari sejarah. Sebagaimana yang telah difirmankan Allah SWT dalam Al-Qur’an,

“Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin. Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” [Adz-Dzariyat: 20-21]

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa Sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?” [Fushilat: 53]

“Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah, dan kemungkinan Telah dekatnya kebinasaan mereka? Maka kepada berita manakah lagi mereka akan beriman sesudah Al Quran itu?” [Al-A’raaf: 185]

Kemudian seorang muslim juga dapat untuk mempercayai kata-kata kebenaran yang diucapkan oleh orang yang tidak beriman, karena yang kita lihat adalah ucapannya bukan yang mengucapkan. Dalam Al-Qur’an, sebagian ucapan dari kata-kata non-mukmin telah diabadikan seperti yang dapat dijumpai pada ucapan Ratu Saba’ tentang bagaimanakah tindakan seorang penjajah ketika menjajah,

“Dia berkata: “Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri, niscaya mereka membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina; dan demikian pulalah yang akan mereka perbuat.” [An-Naml: 34]

Ayat tersebut menerangkan maksud dari Ratu Saba’ mengenai kaum penjajah yang apabila mereka datang memasuki suatu negeri, maka mereka akan membuat kerusakan dan menghinakan penduduknya. Kemudian dalam Al-Qur’an juga diabadikan perkataan istri Al-Aziz di saat Al-Aziz menegurnya tentang peristiwa yang terjadi antara istrinya dengan Yusuf Alaihis Salaam,

“Dan Aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), Karena Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha penyanyang.” [Yusuf: 53]

Bahkan dalam riwayat shahih juga telah disebutkan bahwa Rasulullah SAW telah membenarkan nasehat syetan kepada seorang sahabat agar ia membaca ayat Kursi jika ingin terhindar dari syetan. Rasulullah bersabda, “Ucapan syetan itu benar padahal ia adalah pendusta.” [HR. Bukhari]

Jadi syetan sendiri pernah mengucapkan kata-kata kebenaran sehingga seorang Muslim diperkenankan untuk mengambil hikmah dan pelajaran dari ucapan syetan jika ia tahu ucapan syetan itu benar. Akhirnya, seorang mukmin diharapkan selalu untuk mempunyai mata hati, maksudnya seorang Muslim dapat membedakan antara benar dan dusta, antara haq dan batil dan antara baik dan buruk.

Demikian pula kita dapat mengambil ucapan yang benar dari orang munafik. Mu’adz bin Jabal Radhiallahu ‘Anhu mengatakan bahwa orang munafik kadang mengucapkan kata-kata yang benar. Mu’adz juga mengingatkan kita bahwasannya orang yang bijak pun kadang bisa salah ucap.

Lanjutnya, “Dan ambillah haq karena haq adalah cahaya,” maksudnya adalah kita dapat mengambil kebenaran sekalipun datang dari orang munafik, karena cahaya yang menyelimuti kebenaran tersebut akan menunjukkan kepadanya, dan itu tidak akan samar bagi ulil albab, yaitu yang selalu mengembalikan segala sesuatunya kepada Al-Qur’an.

Menyuruh umat muslim laksana lebah

Muslim yang sebenarnya itu tidak menjadi pengekor atau bertaklid buta, yaitu yang mengikuti orang-orang kemana mereka pergi dan tidak memandang ataupun tidak peduli itu benar atau salah. Sepatutnya seorang Muslim sejati senantiasa melihat dan mengikuti yang terbaik dalam segala hal. Allah SWT pun memuji hambaNya yang mendapat hidayah dan menggunakan akalnya,

“Dan orang-orang yang menjauhi thaghut (yaitu) tidak menyembah- nya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba- hamba-Ku, Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. mereka Itulah orang-orang yang Telah diberi Allah petunjuk dan mereka Itulah orang-orang yang mempunyai akal.” [Az-Zumar: 17-18]

Inilah sikap seorang Muslim terhadap berbagai kebudayaan dan peradaban, yakni laksana lebah yang dapat mengambil yang baik untuk dapat ditambahkan kepada apa yang sudah ia miliki. Kita dapat melihat lebah dimana ia berpindah-pindah dari satu pohon kepada pohon yang lain, dari satu bunga ke bunga yang lain sekedar untuk menghisap saripati bunga yang baik-baik.

Kemudian ia mengubahnya menjadi madu yang keluar dari perutnya yang mana begitu banyak mengandung obat bagi manusia. Rasulullah SAW bersabda, “Orang mukmin itu bagaikan lebah. Ia tidak memakan kecuali yang baik dan tidak meninggalkan sesuatu kecuali yang baik pula.” [HR. Thabrani dan Ibnu Hibban]

Bagaimana menyikapi

Dari uraian yang telah disebutkan diatas, dapat kita ketahui bahwasannya seorang Muslim yang benar akan membuka diri terhadap keberagaman kebudayaan tetapi harus sesuai dengan syarat dan ketentuan yang mana dapat  menjadikannya bermanfaat dan aman bagi akalnya, diri dan agamanya. Bukan malahan membahayakan.

Yang patut diwaspadai kemudian keterbukaan diri juga akan menjadi berbahaya bilamana keterbukaan diri seorang Muslim itu tidak diikuti dengan kematangan ilmu dan pengetahuan.

Selanjutnya yang patut diwaspadai juga adalah keterbukaan yang kagum atau silau terhadap kebudayaan orang lain, yang menjadikannya mengagungkan dan membanggakannya sehingga apa yang datang dari orang lain dianggapnya benar dan baik dan apa yang dikerjakannya adalah bagus.

Seorang Muslim hakiki sepatutnya mengambil dari mereka dan lainnya apa yang cocok dengan akidahnya dan meninggalkan yang tidak sesuai dengannya. Ia dapat mengambilnya lalu menyaringnya. Dengan kata lain ia selalu memilih dari semuanya itu apa yang sesuai dengan ilmu, agama dan akidah yang dianutnya, serta mencampakkan yang tidak baik dan tidak sesuai dengannya, ia menerima yang ma’ruf dan menolak yang munkar.

Akhirnya, kita adalah umat yang memiliki risalah istimewa yang dengannya kita menjadi umat pertengahan, menjadi saksi atas segenap umat manusia, dan sebagai khaira ummah (umat terbaik). Hal ini bukanlah disebabkan oleh warna kulit, ras ataupun suku, melainkan karena risalah robbaniyah yang bersifat insaniyah, akhlakiyah, tawazun dan komprehensif.

Risalah yang tercermin pada kebudayaannya yang murni, yang bersumber dari mata air yang bersih, yaitu kebudayaan yang mempunyai kelebihan yang kokoh dengan akar-akarnya, namun terbuka terhadap kebudayaan luar, tapi juga menolak untuk larut dan cair terhadap kebudayaan luar.

Kebudayaan lain yang tidak sesuai identitas dan pilar-pilar Islam maka dihancurkan dan dilenyapkannya. Maka semboyan yang senantiasa dikumandangkan dan dipegang teguh saat berinteraksi dengan beragam kebudayaan adalah “Teguh namun tidak eksklusif, terbuka namun tidak larut.” Wallahu a’lam bis-shawab.

Wassalam,

Akhmad Jenggis

6 thoughts on “Kebudayaan dan Sikap Seorang Muslim

  1. Assalamu’alaikum kak….
    mksih ya atas artikel ini….
    krna Artikel ini bnar2 membntu kta untuk mNjdi seoRaNg MusLim/MusliMat yanG leBih baik…kRna arTikeL ini Membri thukan kita unTk mnJdi musLim yg baik……
    Like it!!! ^^

    Wassalam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s