Mempertanyakan Kemenangan Ahmadinejad

Mempertanyakan Kemenangan Ahmadinejad

Baru saja Presiden Mahmoud Ahmadinejad terpilih kembali menjadi pemimpin Iran untuk periode 2009-2013. Dengan hasil yang diperolehnya dalam pemilu yang meraih 20 juta suara atau 68, 8 persen dari pesaingnya Mousavi yang memperoleh 10 juta suara atau 32,6 persen suara. Adapun capres lain seperti Mehdi Karroubi dan Mohsen Rezaie masing-masing dari mereka mendapat suara kurang dari 2 persen.

Penghitungan suara yang diprediksi akan memenangkan Mousavi dikarenakan penghitungan pertama dimulai di Teheran, yang mana merupakan foundation perolehan massa Mousavi, ternyata klaim kemenangan tersebut perlahan bergeser ketika keluar dari kota-kota besar yang notabene merupakan kawasan kelas menengah ke atas seperti Teheran, Esfahan, Masshad, Tabriz, dan Shiraz, ke pinggiran-pinggiran kota dan desa-desa terpencil di Iran.

Sebagaimana yang diungkapkan pakar Iran asal Mesir, Dr. Mustafa Labbad, mengatakan bahwa kemenangan Ahmadinejad ini atas Mousavi disebabkan popularitas Ahmadinejad yang masih tinggi di pedesaan dan kampung-kampung miskin di kota besar di Iran.

Paling tidak dalam pemilu Iran ini mengajarkan bahwa jangan pernah meremehkan kenyataan lokal dikarenakan nilai-nilai lokal itu kalah oleh modernitas dan kebebasan. Hal ini sangat mencolok sekali di saat perilaku kaum liberal perkotaan dalam mengabaikan nilai-nilai sosial dan agama sehingga menganggap budaya sendiri itu kuno dan puritan.

Banyak pihak yang atas nama menyerukan demokrasi di Barat kecewa dengan hasil yang diperoleh dalam pemilu di Iran kali ini. Melalui Menlu AS, Hillary Rodham Clinton dalam konferensi pers bersama Menlu Kanada Lawrence Cannon, Sabtu (13/6) mengatakan, “Kami sedang mencermati situasi yang terjadi di Iran, tetapi kami, seperti, dunia lain, menunggu dan melihat apa yang akan diputuskan rakyat Iran.” Sejenak kemudian Gedung Putih merilis pernyataan, “Menghargai debat seru dan antusiasme pemilu kali ini, khususnya di antara kaum muda Iran, tetapi kami mengungkapkan keprihatinan tentang laporan-laporan tidak sesuai aturan.”

Ada semacam ketidak puasan dalam pernyataan AS tersebut yang mana diketahui selama kepemimpinan Ahmadinejad, Iran telah mempunyai pendirian sikap terhadap Barat. Banyak pihak baik dalam maupun luar negeri yang kurang setuju dengan hasil pemilu ini sehingga berpendapat banyak terjadi kecurangan dalam penghitungan suara. Ahmadinejad hanya menepis bahwa rakyat memilih dia dikarenakan rakyat Iran mendukung segala kebijakannya selama ini, kemudian lanjutnya pula kebijakan luar negeri dan keamanan pemerintahannya tidak akan terlalu menghiraukan kritikan Barat maupun Eropa.

Faktor Kemenangan

Mahmoud Ahmadinejad yang terpilih kembali sebagai Presiden Iran ini merupakan mantan Gubernur Teheran yang bukan berasal dari kaum Mullah (ulama besar). Sejak mahasiswa dia telah aktif dalam pergerakan politik yang menentang rezim Syah hingga lahirlah revolusi Iran tahun 1979. Jabatan tertinggi yang pernah ia capai sebelum menjadi presiden adalah Gubernur Jendral untuk provinsi Ardebil masa perang Iran-Irak 1980-1988 dan Walikota Teheran pada tahun 2003.

Dikenal sebagai orang yang sederhana dan bersih dari praktik KKN dibandingkan pesaingnya presiden Rafsanjani yang syarat akan korupsi. Keikutsertaannya dalam penggulingan rezim Syah telah mendatangkan dukungan dari organisasi Garda Revolusi yang mana sangat anti akan rezim korup dan syarat KKN yaitu Rafsanjani. Namun yang terpenting adalah dukungan dari Pemimpin religious Ayatullah Ali Khamenei.

Keluasan Ahmadinejad dalam bergaul di kalangan menengah ke bawah menjadikan ia harapan rakyat kecil. Ketimpangan sosial yang mencolok dan kemiskinan yang merajalela telah membuat sebagian rakyat cenderung memilih pemimpin yang peduli terhadap rakyat jelata. Ketidak puasan terhadap kebijakan-kebijakan pemimpin terdahulu telah menyadarkan mereka sehingga menunggu momen yang tepat yaitu menyuarakannya dalam pemilu. Padahal sebagaimana diketahui Iran merupakan negara terbesar kedua pengekspor minyak dunia namun kemiskinan tetap tidak terhindarkan.

Kekuatan dibelakang Ahmadinejad yang tidak dapat diabaikan bahkan menjadi semacam pemicu bangsa lain adalah keberaniannya dalam mensikapi setiap kebijakan-kebijakan Barat yang banyak merugikan dunia Islam. Popularitasnya meningkat dalam ranah regional dan internasional akhir-akhir ini dikarenakan juga pernyataan-pernyataan politik kerasnya terhadap AS dan Israel, terutama sekali menyangkut keberadaan Israel di Timur Tengah yang menurutnya harus dihapuskan dari peta dunia.

Masih segar dalam ingatan yaitu pidatonya dalam discussion board akbar PBB pada April 2009 di big apple, Ahmadinejad menuduh Israel telah melakukan kebijakan rasisme terhadap rakyat Palestina.

“Dewan Keamanan PBB telah memungkinkan negara ilegal ini (Israel) terbentuk. Selama 60 tahun negara ini didukung oleh dunia. Banyak negara Barat berkata bahwa mereka memerangi rasisme, namun kenyataannya mereka justru membantu rasisme dengan membiarkan pendudukan, pengeboman, dan kejahatan-kejahatan sebagaimana yang terjadi di Gaza. Negara-negara itu mendukung kejahatan,” ungkap Ahmadinejad dalam pidatonya.

Yang mana pada saat itu 23 delegasi negara-negara Eropa kemudian Amerika, Australia, Kanada dan Israel menyingkir bahkan memilih tidak menghadiri discussion board sejak awal. Tapi sebaliknya Ahmadinejad selalu mendapatkan sambutan yang antusias dan bergemuruh dari lantai markas besar PBB tersebut.

Masa Depan Iran

Pidato presiden AS Barack Obama beberapa waktu lalu yang berusaha mengubah segala kebijakannya terhadap dunia Islam memang masih dinanti. Perubahan yang nampak dari ‘hard diplomacy’ menjadi ‘smooth diplomacy’ belum dapat menjadikan dunia Islam percaya begitu saja dari perubahan sikap AS ini.

Sikap yang dingin yang ditunjukkan Iran sejak semula paling tidak menjadi salah satu suara dunia Islam. Kebijakan-kebijakan Barat yang sering terlihat berstandar ganda kemudian berbagai tekanan baik dari mulai pengadaan nuklir, sangsi ekonomi hingga ikut campurnya Barat dalam seluruh kegiatan demokrasi di dunia Islam telah dijadikan pengalaman oleh negara-negara dunia Islam.

Iran dibawah kepemimpinan Ahmadinejad sepertinya akan tetap teguh dalam pendiriannya selama ini, yaitu tidak akan mudah begitu saja mengikuti setiap kebijakan yang dikeluarkan oleh Barat. Kemandirian Iran mulai dari ekonomi, teknologi dan militer sedikit demi sedikit di pupuk sehingga mengurangi akan ketergantungannya terhadap Barat. Maka hal inilah yang menjadikan pertanyaan mengapa Ahmadinejad dipercaya rakyat Iran dan dipilih kembali memegang amanah menjadi presiden Iran untuk yang ke dua kalinya.😉

Salam Hangat dan Jabat Erat Selalu,

@jenggis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s