Seorang Mukmin dalam Bekerja

Mencari nafkah merupakan tuntutan seorang mukmin di dunia ini, namun mengapa terkadang hal tersebut terlupakan dari kita. Kenyataan ini akhirnya menjadikan sebagian dari kita kurang memahami arti pentingnya bekerja untuk seorang mukmin.

Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, Maka Allah dan rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang Telah kamu kerjakan.” (At- Taubah: 105)

Dapat disimpulkan dari ayat tersebut diatas bahwa secara haqiqi, bekerja bagi seorang muslim adalah ‘ibadah’, yaitu membuktikan pengabdian dan rasa syukurnya untuk senantiasa melakukan yang terbaik. Tak hanya itu, dilanjutkan kembali dalam firman Allah surat Al-Kahfi ayat 7,

“Sesungguhnya kami Telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.”

Rosulullah SAW pun bersabda sebagaimana yang diriwayatkan oleh Daruquthi, “Perkara yang paling kutakutkan menimpa umatku adalah besar perut atau doyan makan, terus-menerus tidur, kemalasan dan lemah keyakinan.”

Dari beberapa ayat Al-Qur’an dan hadist Rosulullah SAW, paling tidak kita telah mengetahui makna bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup di dunia dan untuk mencapai ridhaNya di akhirat kelak. Di sini ada suatu kisah menarik yang semoga dapat memberikan kita hikmah dalam arti penting niat dalam bekerja, yaitu dikisahkan tentang seorang kakek pedagang buku agama yang hendak menunaikan sholat Jum’at dengan melewati gang kecil di pinggir kota.

Di ujung gang keluar yang menuju jalan besar, kakek tersebut berjumpa seorang pemuda yang sedang duduk murung sambil memangku dagu. “Ada apa gerangan yang menimpamu, Anakku, hingga kamu duduk murung seperti itu?” “Sudah dua bulan ini saya menunggak bayaran sekolah, Kek!” Masih adakah ayah dan ibumu?” tanya kakek tersebut. “Keduanya sudah tiada!” “Sekarang kamu tinggal dengan siapa?” “Dengan paman saya, namun karena saya suka mabuk-mabukan paman mengusir saya dari rumahnya.

Sekarang saya kehilangan pegangan. Saya merasa putus asa, Kek, saya menyesal. “Tidak usah resah, Nak. Bagaimana jika kamu tinggal bersama kakek dan mencoba berjualan kecil-kecilan?” “Berjualan apa, Kek?” “Berjualan buku-buku agama!” “Saya malu pada teman-teman saya jika berjualan di depan masjid besar sana.” “Mengapa harus malu? Kamu mestinya merasa malu bila melakukan perbuatan yang menyimpang seperti melakukan kejahatan atapun menzalimi orang lain. Ayolah! Bangkitlah! Jangan mengikuti rasa gengsi mau pun malu yang menyesatkan. Sesudah sholat Jum’at kita berjualan di depan masjid. Insya Allah, Tuhan akan melimpahkan berkahnya pada usaha kita.”

Anak muda itu pun bangkit mengikuti langkah si kakek tua pergi ke masjid menunaikan sholat Jum’at. Sesudah sholat Jum’at, mereka menggelar dagangan di depan masjid. Dua jam mereka berjualan dan mendapatkan hasil yang lumayan besar. Setelah sholat Ashar sang pemuda pulang ke rumah si kakek tua dengan penuh rasa syukur. Alhamdulillah, Ya Allah! Kini hamba mampu membayar uang sekolah dengan hasil jerih payah hamba sendiri.

Apakah yang patut kita ambil dari sepotong kisah tadi adalah untuk apa kita malu, untuk apa kita gengsi selama pekerjaan itu benar di mata Allah, halal dan untuk menggapai ridho ilahi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s