Aktualisasi Diri, Bergerak & Bermanfaat

Sudah selayaknya seorang mukmin itu mengetahui akan jati dirinya, siapakah dirinya sebenarnya. Dia akan mencari tahu apa tujuan dia hidup di dunia ini dengan memanfaatkan segala apa yang telah di karuniakan kepadanya. Dia tidak hanya mampu mengembangkan anugerah yang ada pada dirinya namun juga menjadi cahaya penerang bagi orang-orang disekitarnya. Kemampuan untuk selalu bermanfaat bagi yang lain sudah menjadi prioritas dalah hidupnya. Rosulullah SAW mensifati seorang mukmin laksana sebuah pohon kurma, kurma adalah pohon yang daunnya senantiasa hijau dan banyak manfaatnya. Batangnya kokoh dan dahannya menjulang ke langit. Tak jatuh daunnya, tak layu pelepahnya, tak rusak mayangnya, dan tak berubah warnanya. Mayangnya adalah sebagus-bagus mayang, naungannya pun sangat teduh dan manfaatnya adalah sangat besar dan banyak.

Demikian pula halnya seorang mukmin. Dia selalu beribadah kepada Allah, taat kepada-Nya dan ridha dengan ketentuan-Nya. Menyerah pasrah kepada hukum-Nya baik saat berada dirumah maupun sedang bepergian, saat tidur maupun terjaga, saat kaya maupun miskin dan saat lapang maupun sempit.

Hendaknya kesempatan kita di dunia ini untuk mengumpulkan amalan-amalan yang paling baik, kalau perlu, mengukir sebuah sejarah jariyah, di mana pahalanya tidak pernah terputus dan tidak terhenti dengan terlepasnya ruh dan jasad.

Firman Allah dalam Surat Hud ayat 7:

“Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah singgasana-Nya (sebelum itu) di atas air, agar dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya, dan jika kamu Berkata (kepada penduduk Mekah): “Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan sesudah mati”, niscaya orang-orang yang kafir itu akan berkata: “Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata”.

Sudah sepatutnya sebagai manusia kita tidak perlu takut untuk berbuat. Perlu kita sadari bahwa ketakutan adalah belenggu yang mengekangi diri dengan keraguan dan rasa khawatir, hingga menjadikan manusia sosok yang ‘tumpul’. Karena hidup tanpa usaha adalah kemubadziran, usaha tanpa hasil cermin ketidakmajuan, sementara buah dari hasil usaha adalah prestasi. Dan, nilai dari prestasi tidak lain adalah sebuah arti akan besarnya makna.

Oleh karena itu, hendaknya kita bergerak, berbuat, dan berkiprah dalam segala bidang, karena perlu diingat bahwa dalam setiap gerakan itu ada barakahnya :

“TAHARROK FAINNA FIL HAROKAH BAROKAH”

Semakin besar usaha kita, semakin besar pula hasil yang kita capai. Dan dengan kerja keras, bentuk kedengkian terhadap kita dapat diluruhkan.

Rosul pun mengingatkan kita dalam sabdanya :

“Jika seseorang menyedikitkan amalnya, Allah akan menimpakan kegundahan padanya”

Disebutkan pula dalam hadist: Nabi Muhammad SAW bersabda : “Barangsiapa yang rela dengan sedikit amal, berarti ia ridho dengan rezki yang sedikit pula”

Jika kita bertanya untuk apa kita beramal atau bekerja, jawaban orang bisa berbeda-beda tergantung niatnya. Bisa jadi sebagian orang mengatakan bekerja adalah untuk bertahan hidup. Ada pula yang mengatakan bekerja adalah untuk mengejar kekayaan dan kekuasaan. Pengangguran muda mengatakan tujuan bekerja adalah supaya bisa cepat bisa menikah. Anak-anak yang selalu menggantungkan nasib pada orang tuanya akan mengatakan bahwa tujuan bekerja adalah agar bisa mandiri, dan sebagainya.

Al-Qur’an menandaskan bahwa yang perlu dicari adalah “keutamaan dan keridhoan”, dalam Surat Al-Fath ayat 29 :

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya Maka tunas itu menjadikan tanaman itu Kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya Karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.”

Dalam Surat Al-Jumu’ah ayat 10 :

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung”

Pada intinya yaitu mencari keridhaan Allah dan mendapatkan keutamaan, kualitas, hikmah dari hasil yang diperoleh. Kemudian supaya hidup kita ini lebih bermutu dan bermanfaat maka :

Pertama, meningkatkan iman dan taqwa kita kepada Allah yang telah menciptakan kita, kemudian meningkatkan hubungan kita dengan Allah dan berusaha meningkatkan akhlaqul karimah serta menambah ilmu pengetahuan.

Kedua, selalu berusaha bersungguh-sungguh.

Ketiga, istiqomah (di sisi Allah). Istiqomah ini salah satu unsur penting agar mutu hidup kita lebih baik dan lebih bermakna baik bagi diri kita sendiri maupun orang lain. Orang yang istiqomah pasti akan ditolong Allah, dalam Surat Af-Fushilat ayat 30 :

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” Kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, Maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang Telah dijanjikan Allah kepadamu”.

Keempat, selalu memperbaiki niat.

Kelima, selalu merasa kurang

Selain hidup yang bermutu, kita juga harus mati yang bermutu :

Pertama, mengucap tahlil ketika kematian ajal menjemput. “Allahummaj ‘al fi akhiri haya tina bi qouli la ilaaha illallahu.”

Kedua, mudah dalam sakaratul maut. Ada orang yang dimudahkan oleh Allah dalam menghadap kematiannya ada juga yang mengalami kesusahan. Maka dari itu kita berdoa “Allahumma sahhilnii fi sakarotul mauti.”

Ketiga, selalu bertanya kepada anak- anaknya, apa yang akan kau sembah setelah saya mati. Diantara tanda orang yang matinya bermutu adalah apabila ia mempunyai anak, murid, atau keluarga menjelang kematiannya dia bertanya “Apa yang akan kau sembah sepeninggalku?” bukan “Apa yang akan kau makan sepeninggalku?” misalnya dan lain sebagainya. Berarti orang seperti itu ketika masih hidup selalu memikirkan anak cucu keturunannya untuk tidak melupakan ibadah kepada Allah. Berarti ia selalu mengajarkan kepada anak cucunya agama. Insya Allah hingga ia mati, maka anak cucunya akan selalu mendoakan dan selalu kuat ibadahnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s