Antara Ketergantungan dan Keamanan Energi

Antara Ketergantungan dan Keamanan EnergiMinyak merupakan salah satu energi yang masih tetap dipertahankan dan masih banyak yang membutuhkan. Dunia saat ini dihadapkan kepada produksi minyak yang terus menurun. Sebaliknya kebutuhan akan konsumsi minyak terus meningkat sebanding dengan jumlah populasi yang juga terus meningkat.

Saat ini bahan bakar fosil masih akan menjadi sumber energi primer yang dominan. Dari sisi konsumsi energi saja, tingkat konsumsi energi dunia tahun 1980 hingga tahun 2000 telah mencapai 34 persen.

Disamping itu pertumbuhan ekonomi dunia yang relatif begitu tinggi merupakan salah satu faktor penting meningkatnya kebutuhan energi dunia.

Berangkat dari peningkatan tajam harga minyak dunia yang pernah terjadi beberapa waktu lalu, telah memunculkan adanya suatu kebijakan energi nasional yang komprehensif dan terpadu. Paling tidak isu keamanan energi kini telah menjadi salah satu isu terhangat dalam agenda keamanan global dan hubungan internasional.

Ada banyak peristiwa terjadi dalam tatanan interaksi global yang sulit dilepaskan keterkaitannya dengan upaya mendapatkan akses sumber daya energi.

Keamanan Energi

Konsep keamanan energi pada awalnya dipahami sebagai ketersediaannya pasokan energi dalam kuantitas yang cukup disertai dengan harga yang dapat terjangkau. Singkatnya kemudahan untuk mengakses energi yang terjangkau, dimana merupakan salah satu faktor penting dalam ekonomi up to date.

Kecemasan terhadap keamanan energi pada awalnya muncul sekitar awal 1970-an sebagai akibat dari terjadinya krisis bahan bakar minyak ketika beberapa negara-negara pengekspor minyak yang berasal dari negara-negara berkembang mendirikan OPEC.

Meningkatnya persaingan dalam penyedia sumber daya energi juga telah membentuk formasi keamanan yang memungkinkan negara penghasil minyak mengatur harga jual minyak, bahkan sebagai senjata yang ampuh.

Bagaimanapun kita tidak akan pernah lupa saat terjadinya konflik Arab-Israel tahun 1973, ketika itu OPEC yang anggotanya didominasi oleh negara-negara Arab memaksakan agenda dan isu politik tersebut agar dapat diterima seluruh anggota OPEC. Ini semacam ‘bargaining chip’ bagi OPEC untuk melakukan embargo minyak terhadap barat.

Para Pemain Energi

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ketika membuka Pertemuan Perkumpulan Ahli Perminyakan Se-Asia Pasifik di Jakarta 30 Oktober 2007, menyatakan bahwa negara-negara yang bergantung pada minyak bakal mengalami situasi krisis dalam anggaran mereka yang berdampak pada kebijakan ekonomi dan sosial.

Yang perlu diketahui bahwasannya sejak awal mula ditemukannya, industri minyak banyak berkaitan dengan Amerika Serikat. Selama bertahun-tahun dari tujuh perusahaan minyak utama yang menguasai produksi dan pemasaran minyak dunia, hanya dua yang tidak berasal dari Amerika Serikat: British Petroleum dan Shell. Lima lainnya adalah Texaco, Gulf, Mobil, standard Oil of California dan raksasa Exxon (dulu bernama standard Oil of new Jersey).

Paska krisis minyak dunia tahun 1973-1974, dominasi industri minyak dan kebijakan energi AS memasuki era baru, dengan munculnya beragam aktor energi internasional baru.

Dalam stage pemerintahan nasional seperti NIOC (nationwide Iranian Oil firm), kemudian dari degree organisasi internasional antar-pemerintah seperti OPEC, OAPEC (group of Arab Petroleum Exporting countries), OECD (group for financial Cooperation and development), IEA (international energy company), bank Dunia dan IMF (world Monetery Fund).

Selain itu masih ada kelompok-kelompok non-pemerintah seperti perusahaan multinasional minyak raksasa dan kelompok lingkungan hidup.

Imbalance

Jika mau dilihat dari berbagai sisi, ada banyak ketidakseimbangan (imbalance) yang menyebabkan krisis energi. Fakta dilapangan yang tidak dapat dibantah adalah bahwa permintaan terhadap bahan bakar minyak dan gasoline sehingga salah satu sumber energi mengalami pertumbuhan yang terus-menerus.

Kemudian penyebab yang kedua terkait dengan sebaran geografis dari pasokan sumber energi yang berasal dari bahan bakar minyak dan fuel. Memang secara geografis tidak semua Negara memiliki sumber daya energi bahan bakar minyak.

Yang selanjutnya terkait dengan hubungan antara upaya diversitifikasi energi dan insentif harga. Eksplorasi dan eksploitasi dilaut lepas pasti membutuhkan teknologi yang tinggi dan karena itu membutuhkan biaya dan investasi yang sangat besar. Belum lagi pertimbangan dampak lingkungan yang dipandang sebagai akibat dari proses industrialisasi dan eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan.

Mungkinkah bergeser dari minyak?

Sebagian orang telah beranggapan bahwasannya energi fosil tidak akan pernah tergantikan oleh sumber energi alternative. Perkembangan saat ini pun menunjukkan fenomena transisi energi di berbagai negara. Di negara kita sendiri Indonesia, karena begitu terpesonanya pada sihir minyak sampai-sampai potensi sumber daya alam lain jadi terlupakan.

Padahal, tahun 2007 produksi batu bara Indonesia diperkirakan bakal mencapai 198.000 juta ton atau naik 23 persen dibandingkan dengan tahun 2006. Penggunaan biofuel maupun biodiesel hingga tenaga surya juga mulai diterapkan. Dan wacana yang terus berkembang sampai saat ini yaitu penggunaan energi nuklir sebagai sumber energi various.

Tentu saja keamanan akan tercipta dengan kemampuan Negara itu sendiri dalam menghasilkan dan memanfaatkan dengan baik seluruh sumber daya energinya masing-masing. Sehingga timbul kemampuan untuk mengatasi ketergantungannya yang rawan akan berbagai macam konflik dan ancaman-ancaman yang kemungkinan muncul dari aktor-aktor non-negara semacam tindakan dan serangan bersenjata dari teroris.

Jika keadaan semacam ini tidak segera ditindaklanjuti dengan langkah-langkah preventif, ketergantungan akan terus berlanjut. Sudah saatnya bangsa ini berbenah diri, sungguh tidak bijaksana masyarakat harus menanggung akibat dari kesalahan perhitungan yang ditetapkan pemerintah.

Semoga ketakutan mantan Menteri Keuangan Radius Prawiro dalam bukunya Pergulatan Indonesia Membangun Ekonomi (1998) yang menuliskan bahwasannya dalam abad-21, Indonesia kemungkinan secara netto menjadi negara pengimpor minyak, benar-benar tidak akan pernah terjadi.😉

Iya, mungkin teman-teman ada yang berpendapat lain, kita bisa diskusikan lebih lanjut dengan  meninggalkan pesan dibawah ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s