Hussh… sana!! Jangan deket-deket sama politik

al-qur'an, dunia islam, hadist, ilmu, islam, kebangkitan islam, mati, membaca, motivasi, muslim,politik

Walaupun mau tidak mau kita harus mengakui bahwasannya politik itu telah mengintervensi seluruh urusan kita di dunia ini, namun kenapa kita masih berupaya untuk menanggalkannya. Ada baiknya kita ketahui kalaupun kita mencoba-coba untuk meninggalkan politik, maka politik tidak akan pernah mau meninggalkan kita. Terus pertanyaannya, apakah setelah itu kita harus terjun ke enviornment politik? Apakah kita terus harus ikut partai politik? dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang terkadang malah membuat kita itu malah takut akan politik. Apalagi itu didukung oleh kenyataan-kenyataan yang ada disekitar kita politik itu kotor, politik itu busuk, politik itu anarki, politik itu jahat atau apapun pokoknya mending jauh-jauh dari yang namanya politik.

Jika kita mau merunut kembali kepada sejarah bangsa ini, sebenarnya gara-gara kita tidak mengenal politik lah kita jadi terpedaya. Pada saat zaman penjajahan dahulu sepertinya ini telah dipahami oleh para negara-negara kolonial alias penjajah. Mengapa mereka tidak mengenalkan politik kepada rakyat yang dijajahnya? Kenapa politik terdengar asing bagi kita? Rupanya bangsa penjajah ini telah tahu bahwa politik itu berbahaya, dicurigai, dan ditakuti. Kenapa bisa begitu? Iya soalnya tiap-tiap yang berbau politik berarti akan merobohkan pemerintahan jajahan, membahayakan keamanan dan ketertiban serta akan berkencenderungan melawan balik para penjajah itu sendiri.

Itulah mengapa kata ‘politik’ tidak begitu populer di kalangan negara-negara jajahan. Nah bangsa Indonesia merupakan termasuk bangsa-bangsa jajahan ini dahulu. Kita sudah terlambat mengetahuinya, apalagi mempergunakannya di dalam kehidupan kita sehari-hari, dibandingkan dengan bangsa-bangsa yang merdeka di Eropa dan Amerika. Ini semua karena tekanan penjajahan Belanda saat itu, barulah pada akhir abad 19, bangsa kita mengenal perkataan politik.

Dalam buku Sejarah Pergerakan Rakyat Indonesia menguraikan bahwa pada awal abad 20, tepatnya dengan berdirinya Serikat Islam pada tahun 1912, barulah perkataan politik terpakai dalam bahasa kita. Tapi tetap saja, pemakaiannya masih dibawah pengawasan yang sangat keras dan kecurigaan yang hebat dari pihak penjajah, belum lagi dibawah berbagai ancaman-ancaman seperti hukuman penjara atau dibuang ke tempat pengasingan. Namun setelah merdekanya bangsa Indonesia serta dengan kondisi penjajah yang bergantian antara Belanda dan Jepang, barulah politik ini menjadi ucapan sehari-hari dalam masyarakat Indonesia.

Kalau begitu politik itu memang apa?

Nah dalam masalah definisi pun sebenarnya banyak pihak masih mempunyai pendapat yang berbeda-beda. Prof. Barents mengungkapkan politik itu adalah ilmu mempelajari kehidupan negara. Prof. W. Zevenbergen mendefinisikan politik itu adalah organisasi tentang kehidupan bersama dalam negara. Cohen Stuart berpendapat politik ialah kepandaian memegang pemerintahan negara. Prof. Miriam Budiarjo mengatakan politik adalah bermacam-macam kegiatan dalam suatu sistem politik (atau negara) yang menyangkut proses menentukan tujuan-tujuan dari sistem itu dan melaksanakan tujuan-tujuan itu. Ringkasnya itu konsep pokok dari politik identik dengan negara, kekuasaan, pengambilan keputusan, kebijakan, pembagian dan alokasi.

Terus kenapa malah politik dibilang anarki? Kenapa politik itu kotor dan politik itu jahat? Sudah barang tentu pelaksana dari politik itu sendiri adalah manusia. Ketentuan dan pelaksanaan dari politik pastinya akan dilihat dari manusia yang berpolitik. Masalahnya kita selama ini melihat banyak definisi politik adalah anarki, kekerasan dan sebagainya karena identik dengan kegiatan politik saat itu yang penuh dengan peperangan, kejahatan kemanusiaan, perebutan jajahan dan parahnya adalah menghalalkan segala cara. Ini tentu saja pemahaman dari aktor politik sendiri yang memahami bahwa politik hanya untuk dunia saja. Memisahkan kegiatan dan tujuan politik dengan dasarnya sejarah gelap bangsa Eropa terhadap dominasi gereja sehingga berdampak pada sekulerisme. Agama ya urusannya agama, dunia urusannya ya dunia. Memang sepertinya sekali lagi sejarah tidak akan lepas dari semua perilaku ataupun kejadian yang terjadi saat ini.

Makanya tidak heran jikalau sekarang mengemuka kembali etika berpolitik, bagaimana sekarang politik telah jauh dari moral, nah loh?

Padahal sebagai seorang Muslim sebenarnya telah diajarkan semua bagaimana bersikap, berkomunikasi, ethical saling menjunjung tinggi dan sebagainya dalam kehidupan sehari-hari. Ini yang seharusnya menjadi landasan juga dalam berpolitik, dan sekali lagi ini kembali kepada aktor politik itu sendiri.

Kalau kita mendengar selalu definisi politik dari sarjana Barat, mengapa kita asing malah enggan mendengar dan mengetahui dari sarjana Muslim? Padahal arti politik itu saat baik dan alangkah baiknya umat Islam pun menguasainya. Muhammad Rusydi dalam karangannya Madaniyat Al Arabi mendefinisikan politik adalah ilmu pengetahuan tentang jabatan-jabatan dalam negara dan tentang pimpinan dalam masyarakat yang meliputi segala urusannya, seperti soal jabatan Kepala Negara, dengan segala pembesar-pembesar lainnya, ahli-ahli pemeriksa, kehakiman, keuangan, perbendaharaan dan segala jabatan yang berhubungan langsung dengan negara.

Guru Besar Universitas Al Azhar, Syekh Muhammad Bakhtieth dalam Haqiqatul Islam mengatakan, Politik adalah peraturan-peraturan yang dibuat untuk memelihara adab dan akhlak, memelihara kepentingan umum dan menetapkan dasar-dasar keamanan. Kemudian Abdur Rahman Kawakibi juga mendefinisikan bahwa politik adalah menyelesaikan soal-soal masyarakat dengan segala kebijaksanaan. Bahkan Abul Baqai mengatakan politik adalah memberikan perbaikan kepada rakyat dengan jalan memimpin mereka kepada jalan kemenangan dan keberuntungan di dunia dan akhirat.

Ini tentunya dapat dilihat dari perbedaan dasar bagaimanakah yang berlandaskan nilai-nilai dan tidak. Coba kita menengok bagaimana menurut pemikir Machiavelli dalam bukunya La Prince yang membagi politik menjadi 5 macam: politik berarti kekuatan, politik berarti balas membalas, politik berarti kebingungan merupakan tanda kemenangan di pihak lawan, politik berarti memakai topeng, dan politik berarti mencari kelemahan lawan. Tentu saja kalau gambaran pengertian politik seperti itu ya sudah pasti tidak akan membedakan antara hak dengan batil, antara halal dengan haram, antara adil dengan dhalim, dan sudah barang tentu semau nafsunya sendiri.

Tokoh komunis Lenin pernah mengatakan, “Yang disebut kesusilaan ialah apa saja yang memperhebat usaha untuk menghancurkan segala apa yang lama yang bersifat penghalang dan apa saja yang dapat dipergunakan utnuk mempesatukan kaum proletar. Setiap muslihat perjuangan, segala macam tipu daya, segala cara penipuan dan semua cara yang dapat menyelimuti kebenaran kita, semuanya itu harus dipergunakan.” Nah kalau model aktornya seperti itu apa ndak dibilang politik itu busuk, menghalalkan segala cara, tidak kenal kawan, tidak kenal lawan, politik itu anarki. Yah sudah pasti orang akan beranggapan terus politik adalah kotor dan harus dijauhi, pokoknya gak usahlah yang namanya politik-politikan he.. Nah terus bagaimanakah politik menurut nilai-nilai Islam, emang ada teori politik dalam Islam, lah selama ini kita pake selalu definisi dari sarjana Barat? Insya Allah nanti saya akan teruskan lagi dalam tulisan selanjutnya.😉

Salam Hangat dan Jabat Erat Selalu,

@jenggis

2 thoughts on “Hussh… sana!! Jangan deket-deket sama politik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s