Membaca Al-Qur’an yuuk…

Membaca Al-Qur’an yuuk…

Sepertinya baru saja kemaren kita memasuki bulan Ramadhan, kita pun tidak menyangka kalo kita bentar lagi akan memasuki pertengahan bulan yang suci nan penuh barokah ini. Banyak sekali amalan-amalan yang dapat menambah kedekatan kita kepada Allah SWT, salah satunya adalah membaca Al-Qur’an. Sayang sekali masih ada saja dari kita yang enggan membaca Al-Qur’an dengan berbagai alasan. Apalagi yang tidak mau membaca hanya karena tidak bisa memahami artinya, sungguh alasan yang terlalu dibuat-buat. Tidak ada kata terlambat bagi kita untuk memperbaiki diri, berharap kita menjadi lebih baik lagi dalam menunaikan segala perintah dan ajaran agama kita, apalagi di bulan Ramadhan ini. Semua itu dibutuhkan panduan serta pedoman petunjuk dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Dan pedoman kita seorang muslim dan muslimah itu adalah Al-Qur’an.🙂

Dalam surat Ar Ra’d ayat 28, Allah SWT berfirman, “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.”

Seringkali kita bingung dan gelisah, kadangkala hati kita sedih ato hampa. Tak ayal juga kita mencari-cari pelarian dengan berbagai hiburan dan kesenangan, namun mengapa seakan-akan masih saja belum bisa menenangkan hati. Lah sebagai seorang muslim dan muslimah tentunya sudah paham bahwa hanya dengan membaca Al-Qur’an lah hati kita terasa sejuk, jiwa ini tersucikan, menyentuh akal sehingga menumbuhkan dan masuk ke dalam hati, iman pun bertambah dan hati pun menjadi tenang.

Rasulullah SAW pun bersabda, “Bacalah Al-Qur’an karena ia datang pada hari kiamat menjadi pemberi syafaat bagi pembacanya.” (HR. Muslim)

Nah kita sudah mendapatkan ketenangan di dunia, mendapatkan pula syafaat di hari akhir nanti. Sungguh cukup bagi seorang muslim dan muslimah yang takwa dan sadar dengan membayangkan gambaran yang indah bagi para pembaca Al-Qur’an. Tapi mengapa masih saja kita itu merasa malas untuk membaca, apalagi di tengah-tengah bulan yang penuh pahala dan barokah ini.

Rasulullah SAW bersabda, “Perumpamaan orang-orang mukmin yang membaca Al-Qur’an seperti buah utrujjah yang baunya wangi dan rasanya enak, dan perumpamaan orang mukmin yang tidak membaca Al-Qur’an, seperti buah kurma, tidak ada baunya namun rasanya manis, dan perumpamaan orang munafik yang membaca Al-Qur’an, seperti raihanah, baunya wangi dan rasanya pahit, dan perumpamaan orang munafik yang tidak membaca Al-Qur’an, seperti buah handzolah, ia tidak ada baunya dan rasanya pahit.” (Muttafaq ‘alaihi)

Waah, kita pun juga sudah tau kalo perumpamaan orang yang sedang berpuasa itu sungguh bau mulutnya lebih wangi di sisi Allah SWT daripada bau kesturi, nah apalagi ditambah baca Al-Qur’an. Belum lagi di lain hadist, Rosulullah SAW bersabda, “Orang yang membaca Al-Qur’an dan ia pandai membacanya, ia bersama para malaikat yang mulia, dan yang membaca Al-Qur’an dengan terbata-bata, dan ia kesulitan membacanya, ia mendapat dua pahala.” (Muttafaq ‘alaihi)

Sungguh banyak manfaat apabila kita membaca Al-Qur’an, belum lagi di bulan suci ini yang sudah pasti pahalanya akan berlipat ganda. Maka dari itu tiada alasan lagi bagi kita seorang muslim ato muslimah untuk bermalas-malasan membaca Al-Qur’an dan menghayati maknanya.

Tadi udah tau faedah manfaatnya tapi kok masih ada saja rasa malas serta berkilah, “Buat apa baca Al- Qur’an tapi kalo gak bisa memahaminya, apalagi aku kan gak ngerti, kayak gak ada gunanya aja baca Al- Qur’an?”

Ibarat sholat lima waktu yang kita kerjakan dimana seakan-akan kita itu mandi bersuci hingga lima kali dalam sehari. Yang mandi sekali dua kali aja dah bersih apalagi tuh mandi lima kali hee… itulah perumpamaan orang yang menunaikan sholat lima waktu dalam satu hari. Kotoran dosa-dosa kita dibersihkan dan diri kita disucikan kembali.

Nah kalo untuk menjawab pertanyaan tadi sih ada baiknya, sekalian saja saya mengakhiri uraian kali ini, sekaligus saya kasih cerita aja yah.😉

Begini ceritanya, di pinggir sawah sambil menikmati semilir angin dan rindangnya pepohonan dengan ditemani secangkir teh. Waah amboi rasanya, gemericik air sungai dan kicauan burung yang sedang menari-nari di dahan seakan-akan tidak membuat panas seorang kakek yang tengah beristirahat ditemani cucunya. Tiba-tiba sang cucu ini bertanya kepada kakeknya, “Kakek, aku coba membaca Al- Qur’an sepertimu tapi aku tak bisa memahaminya, dan walaupun ada sedikit yang aku pahami tapi segera saja aku lupa begitu aku selesai membaca dan menutupnya. Jadi apa gunanya kek, aku membaca Al-Qur’an jika tak memahami artinya?”

Sang kakek pun dengan tenang sambil menyeruput tehnya yang belum habis menjawab pertanyaan sang cucu, “Cobalah sekarang ambil keranjang rumput itu kemudian engkau pergi ke sungai sana, dan ingat jangan lupa pula bawakan ke kakek kembali dengan sekeranjang air.”

Tak lama kemudian si cucu mengerjakan seperti yang diperintahkan kakeknya, tetapi ketika saat sudah mau sampai ketempat si kakek, semua air yang dibawa sudah habis terlebih dahulu. Kakeknya pun tertawa dan berkata, “Sepertinya kamu harus lebih cepat lagi cucuku.” Nah sang kakek pun meminta cucunya untuk kembali ke sungai bersama keranjangnya agar mencoba lagi. Karena tadi gagal maka kali ini cucu itu berlari lebih cepat, tapi lagi-lagi keranjangnya kosong sebelum sampai ke tempat kakeknya. Ia pun dengan terengah-engah mengatakan kepada kakeknya bahwa tidak mungkin membawa sekeranjang air dan dia kemudian pergi untuk mencari sebuah ember untuk mengganti keranjangnya.

Kakeknya pun mengatakan, “Aku tidak ingin seember air, namun aku ingin sekeranjang air. Kamu harus mencoba lebih keras lagi.” Pada saat itu, sang cucu tahu bahwa hal ini tidak mungkin, namun dia ingin sekali menunjukkan kepada kakeknya bahwa meskipun dia berlari secepat mungkin, air itu tetap akan habis sebelum sampai kepada kakeknya. Tak putus asa sang cucu mengambil dan mencelupkan kembali keranjangnya di sungai dan kemudian berusaha kembali berlari secepat mungkin, tapi ketika sampai di depan kakeknya, keranjang itu kosong lagi tak ada airnya. Dengan nafas yang tersengal-sengal ia berkata, “Kakek, ini tidak ada gunanya, ini pekerjaan yang sia-sia.”

Sang kakek menyeruput tehnya lagi sebelum menjawab, kemudian berkata, “Cucu kakek yang tersayang, mengapa kamu berpikir ini semua tidak ada gunanya? Coba lihatlah dan perhatikan baik-baik keranjang rumput itu.” Sang cucu pun memperhatikan keranjangnya dan baru ia menyadari bahwa keranjangnya nampak sangat berbeda. Keranjang itu kini telah berubah dari sebuah keranjang rumput yang kotor dan bau namun sekarang menjadi sebuah keranjang yang bersih luar dan dalam. “Cucuku, apa yang terjadi ketika kamu membaca Al-Qur’an itu, boleh jadi kamu tidak mengerti atau bisa jadi malah tidak memahami sama sekali, tapi ketika kamu membacanya, tanpa kamu sadari kamu akan berubah, luar dan dalam. Itulah pekerjaan Allah SWT dalam mengubah kehidupan kamu.” Wallahu a’lam bishowab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s