Indonesia, Malaysia dan Bulan Suci Ramadhan

Akhir-akhir ini banyak sekali teman yang mengungkapkan kekecewaannya terhadap perilaku Pemerintah Malaysia. “Udaaah… ganyang saja Malaysia, ayoo kita serbuu..! Kita perang aja,” terus ada juga yang berkata, “Malaysia ini lama-lama gak tau diri, dulu padahal kita udah bantu mereka.” Belum lagi ini diperparah dengan pemberitaan media-media nasional kita seperti mendampingkan saja foto Presiden Soekarno versus Presiden Yudhoyono, memperdengarkan pidato sepotong-sepotong mereka, ditambah lagi digembor-gembori secara continue slogan “Ganyang Malaysia”.

Insiden yang bermula dari pengejaran nelayan Malaysia yang mencuri ikan di perairan Tanjung Berakit, Bintan pada tanggal 13 Agustus 2010 oleh petugas patroli dari Kementerian Kelautan dan Perikanan menjadi asal muasal permasalahan. Apalagi ini juga ditambah dari banyak masalah kasus Tenaga Kerja Indonesia (TKI) kita di negara tetangga tersebut yang banyak mendapatkan perilaku diskriminasi, kekerasan, pelecehan, penyiksaan, dan pelanggaran hukum.

Banyak masyarakat Indonesia yang geram dan sebagian pun ada yang melakukan berbagai insiatif tindakan-tindakan sendiri. Seperti misalnya demonstrasi, penggalangan masa, pembakaran bendera Malaysia, melempari kotoran ke kedutaan besar Malaysia, membuka posko sukarelawan dan sebagainya. Saya berpendapat itu semua suatu hal yang wajar jika masyarakat Indonesia kesal, namun langkah-langkah penyelesaian terhadap masalah-masalah tersebut yang kita butuhkan. Bukan malah sebaliknya menambah masalah atau menahan alias membiarkan masalah. Tindakan-tindakan seperti sigap, cerdas dan tegas (tegas itu lawan dari kata ragu-ragu) amat sangat diperlukan dengan melihat keseluruhan pokok permasalahan.🙂

Kita tidak usah memungkiri bahwasannya Malaysia saat ini tengah melangkah perlahan meninggalkan kita. Okeh… dulu pada tahun 1970-an, mereka masih banyak mendatangkan dosen-dosen dari Indonesia untuk mengajar di Universitas Kebangsaan Malaysia. Tapi kalo kondisi sekarang malah sebaliknya, mahasiswa-mahasiswa dan dosen-dosen malah menuntut ilmu disana. Hubungan ekonomi antara dua negara ini Indonesia dan Malaysia juga berkembang pesat. Para investor Malaysia sangat cermat bahwa masih banyak pasar yang luar biasa dan belum tergarap most excellent di Indonesia. Akhirnya mereka pun berbondong-bondong membeli perusahaan-perusahaan yang sudah mantap dan eksis.

Dari sektor perbankan banyak investor Malaysia telah ikut mengambil peran, seperti contohnya financial institution Niaga, Bumiputera, bank Lippo, belum lagi sektor perkebunan melalui Guthrie dan di sektor telekomunikasi yang kita sudah banyak kenal mereka kuasai yaitu XL, serta media elektronik sudah ada Astro dan masih banyak lagi yang gak bisa kesebut. Itu belum perusahaan-perusahaan mereka yang bermain di Indonesia semacam kendaraan mobil Proton dan minyak Petronas.

Nah malah kemudian bagaimana dengan investor Indonesia. Mereka sangat minim sekali, namun kita malah banyak ‘berinvestasi’ di Malaysia dalam sektor tenaga kerja. TKI-TKI kita bekerja mulai dari tenaga kerja kasar, seperti buruh di perkebunan, buruh konstruksi, maupun pembantu rumah tangga. Ya sudah.. tidak usah heran kalo misalnya menjadi sasaran tindakan kekerasan, belum lagi minimnya pendidikan dan perlindungan terhadap mereka.

Saya jadi heran dengan tanggapan banyak orang yang mengatakan, “Udaah perang aja..!”. Entah apa yang terbenak dalam pikiran mereka, apa kalo perang terus masalah selesai? Apa kalo dengan menyerbu Malaysia semua beres? Apa dengan mengirimkan tentara-tentara kita atau mengerahkan persenjataan kita kemudian Malaysia takluk? Apa dengan mengirimkan sukarelawan-sukarelawan kemudian Malaysia tidak akan mengulangi kesalahan lagi? Parahnya ini semua hanya didasari oleh politik konfrontasi “Ganyang Malaysia” yang didengungkan pada tahun 1963. :-5 Powers Defence arrangements, yaitu Pengaturan Pertahanan Lima Negara antara Inggris, Australia, Selandia Baru, Singapura dan Malaysia yang ditandatangani pada tahun 1971 yang mana sampai sekarang belum dicabut.

Paska berakhirnya perang dingin tahun 1991, tingkah laku hubungan internasional negara-negara mengarah kepada perdamaian dan saling ketergantungan. Disadari bahwa perang bukannya membawa penyelesaian yang tepat namun berdampak sebaliknya, begitu banyak korban akan berjatuhan kemudian juga akan menguras uang negara. Dalam hal inipun, akhirnya banyak negara yang sudah tergabung dalam kekuatan-kekuatan regional, yang mana mereka akan saling membantu apabila salah satu anggotanya mengalami penyerangan. Belum lagi dukungan kerjasama-kerjasama tiap negara dengan negara yang lain untuk saling komitmen saling mendukung. Tidak usah jauh-jauh lah.. lihat saja Israel yang begitu didukungnya bahkan dalam PBB oleh Amerika Serikat. Yang laen disuruh tanda tangan Nuclear Non-Proliferation Treaty, eh cuma Israel aja dibiarin. Inilah bentuk hubungan-hubungan internasional yang terjadi saat ini.

Saya pun bertanya, jangan-jangan kasus sengketa perbatasan Indonesia-Malaysia ini hanya sebagai bentuk pengalihan kondisi Indonesia yang belum kunjung membaik. Sudah barang tentu salah satu sumber kebijakan politik luar negeri adalah societal sources. Yang mana ini mencakup faktor kebudayaan dan sejarah, pembangunan ekonomi, struktur sosial, dan perubahan opini publik. Tapi meminjam istilah Henry Kissinger, seorang akademisi yang menyatakan bahwa “foreign policy starts offevolved when home coverage ends”. Maksudnya sama saja politik luar negeri itu berada pada intersection antara aspek dalam negeri suatu negara dan aspek internasional dari kehidupan suatu negara. Gampangnya adalah sulit bagi kita untuk memisahkan antara politik luar negeri dengan politik dalam negeri. Inilah yang diperlukan dalam menyikapi persoalan dengan Malaysia.

Penuntasan kasus Indonesia dalam hal korupsi dan banyak pelaku koruptor yang masih melenggang bebas, tidak berdayanya pemerintah dalam penyediaan lapangan pekerjaan, pendidikan yang masih belum menyentuh seluruhnya, kondisi ekonomi yang bertabrakan dengan ledakan penduduk, aturan hukum yang masih jauh dari keadilan, kemiskinan dan pengangguran yang terus meningkat. Menunjukkan bahwa kondisi dalam negeri kita masih carut marut. Ini juga masih mengharap perlengkapan persenjataan dan pertahanan kita guna menjaga wilayah kedaulatana NKRI yang mana terdiri dari kepulauan. Makanya bisa terjadi kapal patroli petugas kita katanya tidak dilengkapi GPS-lah, gak dipersenjatai-lah, gak bisa nembak-lah, gak bisa ngebut-lah, dan lah-lah sebagainya.

Banyak yang menyamakan politik luar negeri dengan diplomasi, paling tidak pengertian diplomasi itu sendiri menurut Sir Ernest Satow dalam bukunya A information to Diplomatic apply, “Diplomasi adalah penggunaan dari kecerdasan dan kebijaksanaan untuk melakukan hubungan resmi antara pemerintah negara-negara merdeka, kadang-kadang juga dilakukan dalam hubungannya dengan negara-negara pengikutnya, atau lebih singkatnya lagi, pelaksanaan urusan tersebut dilakukan antara negara dengan cara damai.” Nah yang harus diketahui pula politik luar negeri ini maupun diplomasi merupakan perpanjangan politik dan kondisi dari dalam negeri itu sendiri.

Mengapa sepertinya suatu kebetulan atau bagaimana kok insiden Indonesia-Malaysia ini terulang lagi namun sekarang pada bulan suci Ramadhan. Di bulan yang penuh berkah ini, umat Muslim yang merupakan mayoritas di kedua negara tersebut sedang menjalani puasa, esok pun sudah akan menghadapi hari raya kemenangan yaitu Idul Fitri. Seakan-akan gejolak jiwa ini masih teredam dan terfokus kepada peningkatan ibadah. Namun kalau misalnya berperang siapakah yang diuntungkan? Tentu saja pihak yang anti-Islam. Dalam hati mereka politik devide et empera atau memecah persatuan umat Muslim berlangsung dengan amat sangat mudah. Tidak dipungkiri kita saling membutuhkan, kita saling mengisi dan kita saling mengingatkan. Menyakiti, bertindak dengan kekerasan, membalas dendam, dan rasa amarah bukannya malah menyelesaikan namun akan timbullah kekerasan, dendam, dan amarah yang lainnya. Bersikap tenang, cerdas, dan terarah disertai rasa ukhuwah Islamiyah ini harus tetap dijaga.

Langkah pemerintah yang diambil saat ini pun sudah tepat yaitu berdiplomasi, namun sekali lagi rakyat mungkin sudah bosan dengan keraguan, dengan ketidakberdayaan, ketidaktegasan, dengan diamnya, dan hanya ngikut-ngikut saja. Yang ingin disaksikan kita saat ini adalah bentuk penyelesaian persoalan-persoalan bangsa tidak hanya perbatasan Indonesia-Malaysia, namun mencakup pula kehidupan ekonomi rakyat, penuntasan korupsi, pendidikan yang terjangkau, kesejahteraan, kemiskinan, dan sebagainya. Dengan peningkatan kesejahteraan, pertahanan, ekonomi, pendidikan, perlindungan dan persatuan sudah barang tentu tingkah laku bangsa ini dalam kancah internasional juga tidak akan diremehkan atau dianggap sebelah mata. Nah saat ini pertanyaannya adalah kepedulian itu dimulai dari siapa?😉

Salam Hangat dan Jabat Erat Selalu,

@jenggis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s