Mengenal Singkat Teori-Teori Hubungan Internasional [2]

hubungan internasional,HI,ilmu,international relations,politik,teori,konsep,realis,idealis,liberalis,politik luar negeri,politik internasional

Sebelumnya saya pernah sedikit mengenalkan akan beberapa teori-teori awal dari studi hello yaitu realisme, liberalisme, neorealisme, dan neoliberalisme pada tulisan saya yang berjudul Mengenal Singkat Teori Hubungan Internasional yang pertama. Pada kesempatan kali ini saya akan coba melangkah kepada pengenalan teori lainnya yaitu teori-teori paska positivis. Okelah kita lanjutkan saja pada teori yang pertama yaitu konstuktivisme sosial.🙂

Konstruktivisme sosial ini mencakup luasnya teori yang bertujuan menangani berbagai pertanyaan tentang ontologi

Misalnya saja seperti perdebatan tentang lembaga (agency) dan struktur serta pertanyaan-pertanyaan tentang epistemologi seperti perdebatan tentang ide yang menaruh perhatian terhadap peranan relatif kekuatan-kekuatan materi versus ide-ide. Konstruktivisme ini bukanlah murni teori hello, sebagaimana halnya neorealisme, tetapi sebaliknya merupakan teori sosial. Konstruktivisme dalam hi dapat dibagi menjadi apa yang disebut sebagai konstruktivisme konvensional dan kritis.

Hal yang terdapat dalam semua variasi konstruktivisme adalah minat terhadap peran yang dimiliki oleh kekuatan-kekuatan ide. Pakar konstruktivisme yang paling terkenal adalah Alexander Wendt yang menulis tentang organisasi internasional pada tahun 1992 yang kemudian diikuti oleh satu buku berjudul Social idea of world Politics tahun 1999. Dalam keterangannya menyatakan bahwa anarki itu adalah hal yang diciptakan oleh negara-negara tersebut, maksudnya sendiri bahwa struktur anarki yang diklaim oleh para pendukung neorealisme sebagai pengatur interaksi negara pada kenyataannya merupakan fenomena yang secara sosial dikonstruksi dan direproduksi oleh negara-negara itu sendiri.

Sebagai contoh, jika sistem internasional didominasi oleh negara-negara yang melihat anarki sebagai situasi hidup dan mati, yang mana diistilahkan oleh Wendt yaitu sebagai anarki Hobbesian, maka sistem itu akan dikarakterkan dengan peperangan. Jika pada pihak lain anarki dilihat sebagai anarki Lockean maka sistem yang lebih damai akan eksis. Anarki menurut pandangan ini dibentuk oleh interaksi negara, bukan diterima sebagai aspek yang alami dan tidak mudah berubah dalam kehidupan internasional seperti menurut pendapat para pakar hello non realis.

Namun banyak kritikus yang muncul dari kedua sisi pembagian estimologis tersebut. Para pendukung paska positivis mengatakan bahwa fokus terhadap negara dengan mengorbankan etnisitas, ras, jender dapat menjadikan konstruktivisme sosial sebagai teori positivis yang lain. Tapi penggunaan teori pilihan rasional secara implisit oleh Wendt ini telah menimbulkan berbagai kritik dari para pakar seperti Steven Smith. Para pakar positivis pun juga berpendapat kalau teori konstruktivisme sosial ini dianggap mengesampingkan terlalu banyak asumsi positivis untuk bisa dianggap sebagai teori positivis.

Teori yang kedua yaitu teori masyarakat internasional yang mana juga disebut aliran pemikiran Inggris

Teori ini berfokus pada berbagai norma dan nilai yang sama-sama dimiliki oleh negara-negara dan bagaimana norma dan nilai tersebut dalam mengatur hubungan internasional. Contoh norma-norma seperti itu mencakup tatanan politik, diplomasi dan hukum internasional. Tidak seperti neorealisme, teori ini tidak selalu positivis. Mengapa? Karena pada teoritisi ini telah berfokus terutama kepada ikut campurnya humanitarian dan dibagi kembali antara pendukung yang cenderung lebih menyokong hal tersebut, dan para pendukung yang lebih menekankan tatanan dan kedaulatan. Nicholas Wheeler adalah seorang pendukung terkemuka teori ini, sementara itu Hedley Bull sebaliknya mungkin cenderung perhatian kepada tatanan dan kedaulatan.

Selanjutnya adalah teori kritis

Maksudnya adalah menerapkan ‘teori kritis’ dalam aktivitas hubungan internasional. Teoritisi seperti Andrew Linklater, Robert W. Cox dan Ken sales space adalah pendukungnya yang lebih berfokus kepada kebutuhan terhadap emansipasi kebebasan manusia dari negara. Maksudnya adalah, teori ini bersifat kritis terhadap teori-teori hello mainstream yang telah ada sebelumnya cenderung berpusat kepada negara (state centric). Pengembangan yang ada kemudian dilanjutkan kepada teori-teori semisal fungsionalisme, neofungsionalisme, feminisme dan teori dependen.

Teori yang keempat adalah marxisme

Teori marxis dan neomarxisme dalam hi menolak pandangan realis ataupun liberalis tentang konflik dan kerja sama antar negara, tetapi sebaliknya lebih fokus kepada aspek ekonomi dan materi. Marxisme membuat asumsi bahwa ekonomi lebih penting daripada persoalan-persoalan yang lain, lantas memungkinkan bagi peningkatan kelas sebagai fokus studi.

Para pendukung marxis memandang sistem internasional sebagai sistem kapitalis terintegrasi dengan banyak hal yang mengejar akumulasi modal saja. Dengan demikian, periode kolonialisme pada saat itu dimanfaatkan untuk membawa masuk berbagai sumber daya untuk bahan-bahan mentah dan pasar-pasar yang pasti (captive markets) guna diekspor, sementara dekolonisasi membawa masuk berbagai kesempatan baru dalam bentuk ketergantungan (dependensi).

Berkaitan dengan teori-teori Marx ini, ada teori dependensi yang menganggap bahwa negara-negara maju dalam usaha mereka untuk mencapai kekuasaan, akan melakukan apapun untuk menembus negara-negara berkembang lewat penasehat politik, misionaris, pakar bahkan perusahaan-perusahaan multinasional yang mana untuk mengintegrasikan negara-negara berkembang tersebut ke dalam suatu sistem kapitalis. Fungsinya sendiri pada akhirnya untuk mendapatkan sumber-sumber daya alam dan lebih meningkatkan lagi ketergantungan negara-negara berkembang terhadap negara-negara maju.

Pandangan marxisme ini sendiri kurang mendapatkan perhatian lebih di Amerika Serikat karena disana tidak ada partai sosialis yang signifikan. Sebaliknya teori ini lebih cenderung eksis di berbagai negara bagian Eropa dan juga merupakan salah satu kontribusi teoritis yang paling penting bagi dunia akademis di Amerika Latin, semisalnya saja melalui teologi.😉

Yang terakhir yaitu teori paska strukturalis

Teori hello ini berkembang pada tahun 1980an dari studi-studi  paska modernis dalam ilmu politik. Paska strukturalisme lebih mengeksplorasi dekonstruksi konsep-konsep yang secara tradisional tidak problematis dalam hi, seperti contohnya saja kekuasaan dan agensi. Kemudian lebih lanjut diteliti bagaimana pengkonstruksian konsep-konsep ini bisa membentuk aktivitas hubungan internasional.

Penelitian terhadap narasi misalnya memainkan peran yang penting dalam analisa paska strukturalis, sebagai contoh dalam studi paska strukturalis, feminis telah meneliti peran yang dimainkan oleh kaum wanita dalam masyarakat global dan bagaimana juga kaum wanita dikonstruksi dalam perang sebagai tanpa dosa (harmless) dan termasuk kategori warga sipil. Contoh-contoh lain riset paska positivis ini mencakup berbagai bentuk feminisme (gender battle) dan paska kolonialisme.

Salam Hangat dan Jabat Erat Selalu,

@jenggis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s