Dimuliakan dan Dimanja

agama, al-qur'an, dunia islam, hidup, ilmu, iman, islam, manja, mulia, muslim, nabi, ramadhan

Mungkin teman-teman telah banyak mendengar tentang kisah Nabi Yunus ‘alaihis salam ketika beliau dimakan oleh sejenis ikan paus. Ada suatu petikan hikmah dalam kisah tersebut tentang bagaimana orang yang berputus asa dan menghindar dari suatu kewajiban yang diamanahkan ke beliau.

Dalam surat Ash-Shaffat ayat 139-140, Allah SWT berfirman, “Dan sesungguhnya Yunus benar-benar seorang Rasul. (Ingatlah) ketika ia lari (dari kewajiban) ke kapal yang penuh muatan.”

Saat itu Nabi Yunus ‘alaihis salam telah pergi meninggalkan satu medan dakwahnya, beliau lebih mengutamakan upayanya untuk mencari tempat atau medan lain yang menurutnya lebih baik, meski dengan konsekuensi harus meninggalkan kaumnya yang sementara itu mengingkari risalah. Apakah dengan menghindar kemudian beliau mendapatkan yang mudah? Justru karena rasa sempit yang dialami Nabi Yunus ‘alaihis salam lantaran sikap kaumnya itu, Allah SWT malah menurunkan sebuah peringatan kepadanya dengan kesempitan yang lebih dahsyat. Nabi Yunus ‘alaihis salam pun lalu diuji melalui tiga kegelapan, yaitu kegelapan di tengah perut ikan, kegelapan di tengah malam dan kegelapan di tengah dalamnya laut.

Mungkin tidak akan terbayang dalam benak kita bagaimanakah kita hidup dalam kesendirian, dalam kegelapan, kedinginan, ketakutan, dekat kematian dan tiada harapan. Dalam keadaan seperti itulah kita lalu ingat kepadaNya serta berharap, berdoa, meneteskan air mata, merenungi apa yang telah diperbuat dan menyesalinya sehingga tidak akan pernah mengulangi lagi perbuatan buruknya. Itu pun jika ia beriman, namun jika tidak, sebaliknya, pastilah ia telah mengakhiri masa hidupnya.🙂

Lain kisah Nabi Yunus ‘alaihis salam, lain pula dengan kisah yang satu ini. Suatu hari datanglah dua orang pemuda ke rumah seorang ustadz yang dikenal tinggi ilmunya namun rendah hati.

Pemuda yang pertama lantas bertanya, “Ustadz.. kenapa sih hidup ini selalu saja penuh dengan yang namanya krisis, ketidakadilan, korupsi, ngantri sembako, BBM dan kemiskinan?”

Sebelum ustadz tersebut menjawab, dalam kepala pemuda yang kedua saat itu telah berfikir banyak logika, mungkin bisa jadi karena itu, ini dan sebagainya. Pemuda yang kedua itu pun lantas mencoba menjawab duluan, kali saja sang ustadz membenarkan jawabannya. “Iya itu karena manusia mau menangnya sendiri, nggak mau tahu sama yang lain, sama kurang menerapkan ajaran agamanya. Istilahnya itu tahu agama tapi nggak peduli, padahal agama Islam itu tidak tidur tapi umat muslimnya aja yang tidur. Kita itu malas belajar, pinginnya semua serba instan. Belum lagi penjajah zaman dulu itu pada kurang ajar, masak cuma menjajah saja tanpa meninggalkan pendidikan, mending kan dijajah tuh sama Inggris daripada Belanda, coba lihat Malaysia dan India. (Heran dijajah kok bangga, masih minta pilih-pilih lagi, ckckck.. ;-)) Apalagi negara-negara maju zaman sekarang juga cuma bisanya mengeksploitasi negara-negara berkembang. Benar nggak ustadz?” tanya pemuda yang kedua dengan pedenya.

Ternyata diluar dugaan dari jawaban pemuda kedua tersebut. Sang ustadz pun menjawab, “Sebenarnya Allah SWT itu tidak ingin kita itu hidup miskin anak muda, apalagi kita disuruh ngantri BBM terus sembako padahal negara kita kan kaya, apalagi merasakan ketidakadilan, kebodohan, korupsi dan lain sebagainya. Tujuannya kita itu diciptakan oleh Allah SWT justru malah sebaliknya, yaitu hanya dua tujuan saja. Yang pertama itu untuk dimuliakan dan kedua dimanja. Masih ingatkan ketika Allah SWT menciptakan Nabi Adam ‘alaihis salam, setelah itu diperintahkanlah semua makhluk untuk sujud kepada Nabi Adam ‘alaihis salam, lantas apa selanjutnya? Kemudian beliau itu dimanja di surga dan dimuliakan juga oleh Allah SWT.”

“Itulah kehidupan sebenarnya yang diinginkan Allah SWT kepada manusia, tidak hanya Nabi Adam ‘alaihis salam tapi juga keturunan-keturunannya. Namun hanya karena satu dosa yang dilakukan Nabi Adam ‘alaihis salam pada akhirnya hidupnya pun dipersulit. Padahal kan sudah diperingatkan untuk jangan memakan buah khuldi, eh tapi malah dimakan juga itu buah khuldi. Maka pada akhirnya diturunkanlah Nabi Adam ‘alaihis salam ini ke bumi. Lantas diberitahukanlah ini bumi dan itu ada pohon maka panjatlah dan petik buahnya.”

“Coba ingat kembali, yang dulunya tinggal kepingin makan buah langsung minta ada disediakan, sekarang di bumi harus memanjat dan memetik dahulu. Bahkan harus dikupas dulu baru bisa dimakan. Lebih susah hidupnya. Yang tadinya tinggal pesan, eh sekarang harus usaha dulu.”

“Lalu apakah dosanya manusia kemudian berhenti? Tidak, bahkan dosa terus manusia, dan tidak berhenti tuh manusia berbuat dosa. Pada akhirnya sekarang nggak bisa yang namanya memetik tapi harus menanam dulu. Maka dari itu dia harus ambil benih dulu ditempat lain kemudian diletakkan di tanah yang subur, baru tumbuh dan kira-kira setelah 4 sampai 6 bulan atau satu tahun bahkan mungkin puluhan tahun baru dia bisa ambil hasilnya. Urutannya dipanen, dipetik, dikupas baru bisa dimakan. Lebih susahkan hidupnya? Iyaa.. tapi lantas apakah manusia kemudian berhenti berbuat dosa?”

“Nah sekarang tidak boleh hanya menanam tapi harus beli, akhirnya semua orang juga harus kerja keras untuk bisa beli sesuatu, pergi pagi banting tulang, pergi pagi pulang sore, pergi pagi pulang malam, pergi pagi pulang pagi lagi. Untuk bisa mendapatkan sesuatu. Lebih susahkan hidupnya?”

“Tapi apakah manusia terus dosanya berhenti? Tidak, malah dosa terus manusia. Pada akhirnya sekarang nggak bisa beli, terus akhirnya ngutang. Jadi karena dosa, maka kehidupannya pun makin dipersulit sama Allah SWT. Beli ini ngutang, beli itu ngutang. Oke terus apakah kemudian berhenti manusia berbuat dosa? Malah tidak, tapi buat dosa lagi.”🙂

“Nah akhirnya nggak bisa ngutang, tapi malah gali lubang tutup lubang, gali sini tutup sana, gali sana tutup sana. Terus apakah dosanya berhenti? Tidak juga… dosanya malah lanjut terus.. Pada akhirnya pun malah nggak bisa gali lubang tutup lubang tapi gali sumur tutup sumur. Subhanallah.. lantas apa yang harus kita lakukan supaya hidup kita tidak dipersulit?”

“Anak muda.. sebenarnya kalau kita itu ingin hidup damai, tenang, tentram, dimanja oleh Allah SWT itu gampang. Sederhana saja yaitu jangan pernah buat dosa. Ketika kita berhati-hati dari dosa maka keajaiban pun akan datang, seperti engkau hidup disurga, apa yang kita inginkan maka ‘cling’ ada, karena semua itu telah diambil alih oleh Allah SWT demi seluruh kehidupan kita. Sebenarnya beda kehidupan surga di dunia dan akhirat itu hanyalah kematian saja. Hal ini telah disadari dalam-dalam oleh orang-orang yang beriman, yaitu menunggu kematian. Ketika mereka mati maka mereka masuk ke surga yang hakiki. Jadi jika kita telah mencoba meminimalisir dan semakin kita berhati-hati dari dosa, maka keajaiban-keajaiban itu pun akan muncul.”

Baiklah, mungkin saya tidak akan memberikan kesimpulan dalam tulisan saya ini, sahabat para pembaca pastilah bisa mengambil satu, dua atau bahkan lebih banyak pesan yang terkandung di dalamnya. Pertanyaannya, terus apa hubungannya nih kisah pertama tentang Nabi Yunus ‘alaihis salam dengan kisah kedua Nabi Adam ‘alaihis salam? Wah.. Silahkan ditentukan sendiri ya setelah membacanya.

Namun satu hal pasti dan yang sulit dari hidup ini adalah bersabar. Bersabar untuk menanti hikmah dari sebuah kegagalan, kesakitan, rintangan, tekanan, kebodohan, ketidakadilan dan lain sebagainya. Bersabar untuk diberikan yang terbaik dari yang baik. Bersabar untuk mengatakan kepada waktu, kapan saat yang dinanti itu datang. Hanya hambaNya yang bersabar yang dapat melihat cahaya sang Khalik dan mengatakan, “Inilah makna tersembunyi dari bersabar, mutiara yang indah ada di dalam cangkang kesabaran.”

Semoga tulisan yang singkat ini menjadikan kita lebih dekat kepadaNya, juga memberikan sedikit manfaat dan berharap kita semua diberikan kesehatan, kemudahan, kebaikan, kesuksesan, ampunan, kasih sayang dan pahala yang melimpah di tengah kita menjalani ibadah di bulan suci Ramadhan ini.😉

Wallahu a’lam bishowab.

Wassalam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s