Menyikapi Futur Dengan Istiqamah

Menyikapi Futur Dengan Istiqamah

Bersikaplah istiqamah, namun kalian tidak akan dapat menghitung nilai istiqamah. Ketahuilah, bahwa amalan kalian yang terbaik adalah shalat. Yang dapat memelihara wudhu hanyalah orang beriman.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).

Hadist tersebut mengungkapkan betapa beratnya bersikap istiqamah, sehingga manusia tidak akan mampu melakukannya dengan sempurna. Tak mengherankan memang, karena keimanan setiap Mukmin “terkena” hukum yaziidu wa yanqus, akan bertambah dan berkurang, naik dan turun. Boleh jadi, ada saat-saat iman kita sedang naik, sehingga bersemangat dalam ibadah. Tapi, ketika iman sedang menurun, semangat beribadah pun menjadi lemah.

Dalam Islam, penurunan semangat beribadah ini disebut futur. Akibat yang paling kecil, futur bisa mengakibatkan berupa perasaan malas beribadah, melambat-lambatkan berbuat baik, atau kurang peka terhadap peluang amal. Dan akibat yang paling parah, kondisi futur menyebabkan seseorang berhenti beribadah, melakukan dosa besar, hingga akhirnya jauh dari Allah SWT.

Secara bahasa futur berarti terputus setelah sebelumnya bersambung. Makna lainnya adalah, terdiam setelah bergerak. Sedangkan dalam Islam futur dimaksudkan dengan terjadinya gejala kevakuman atau kemandekan dalam beragama dengan ditandai hilangnya semangat beribadah.

Sangat menyedihkan, penyakit futur kini banyak menyerang umat Muslim. Apalagi dalam mengarungi perjuangan dakwah, umat Muslim kerapkali dihadapkan pada berbagai permasalahan rumit. Awal kali menapakkan kaki di dunia dakwah, semangat mereka begitu kuat. Tapi akibat kesalahan dalam menyikapi tata cara hidup beragama, semangat itu lalu turun secara drastis. Optimisme yang dulu begitu menggebu-gebu, berubah menjadi pesimisme. Saat seperti inilah diri menjadi tidak bersemangat lagi. Setelah itu, mengarah pada menurunnya tingkat keimanan. Padahal, iman itu merupakan bagian asasi bagi setiap individu Muslim. Bahkan, ia adalah media untuk mengukur dan menguji sejauh mana loyalitas seseorang terhadap agamanya. Karenanya, penyakit futur ini tidak boleh diabaikan.

Yang perlu diwaspadai adalah jika penyakit ini telah merata dan menggerogoti sebagian besar umat ini, maka tak mungkin kebangkitan umat Islam dapat ditegakkan. Yang terjadi malah mungkin sebaliknya, kekuatan Islam semakin surut dan tenggelam bahkan karam. Semua musuh Islam siap sedia menghancurkan kehormatan dan kekuatan Islam dengan amat mudahnya.

Tulisan ini akan mencoba untuk menguraikan sebab-sebab terjadinya futur dengan harapan supaya kita dapat mengantisipasinya sejak dini. Yang pertama yaitu tenggelam dan hanyut dalam kemaksiatan. Secara sunnatullah ketika dilahirkan hati kita semua memang bersih, ibarat sebuah cermin kebersihan itu dikotori oleh debu-debu kemaksiatan yang lama kelamaan akan menutupi hati kita. Dan apabila kita jarang membersihkannya dengan nilai-nilai keimanan, maka hati ini akan cenderung untuk melakukan kemaksiatan terus-menerus, akibatnya diri kita semakin jauh dari hidayah. Allah SWT berfirman dalam surat An-Nahl ayat 108, “Mereka itulah orang-orang yang hati, pendengaran, dan penglihatannya telah dikunci mati oleh Allah, dan mereka itulah orang-orang yang lalai.”

Kedua, yaitu berlebihan dalam menjalankan agama. Setan begitu pandai memperdaya manusia. Ia bisa menebarkan sembilan puluh sembilan kebaikan, tetapi disamarkannya satu keburukan yang akan menghapus seluruh kebaikan. Seorang Muslim seringkali terpancing untuk mengerahkan semangatnya dalam beribadah secara berlebihan sehingga menyebabkan kelelahan fisik dan mental. Ia tidak menyadari bahwa tubuh dan jiwa manusia itu serba terbatas. Ia hanya mampu memikul berat beban yang normal dengan batas waktu yang sangat wajar. Jika didera dengan pemaksaan, maka tentu saja akan terjadi pelanggaran terhadap fitrahnya sendiri. Akibatnya sangat fatal, yaitu semangat ibadah yang begitu menggebu-gebu akan berubah menjadi kelemahan dan kejenuhan.

Rosulullah SAW bersabda, “Jauhkanlah dirimu dari sikap berlebihan dalam beragama (beribadah). Karena sesungguhnya orang-orang sebelum kamu binasa akibat berlebih-lebihan dalam beragama.” (HR. Ahmad).

Dalam riwayat lain Rosulullah SAW juga bersabda, “Beramallah kamu sesuai kemampuanmu, karena sesungguhnya Allah tidak akan jenuh hingga kamu jenuh sendiri. Dan, sesungguhnya amal yang paling disukai Allah adalah amal yang terus-menerus meskipun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Allah SWT pun telah berfirman dalam surat Al-A’raf ayat 31, “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap memasuki masjid. Makan dan minumlah, tetapi janganlah kamu berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.”

Dalam riwayat Anas bin Malik ra disebutkan juga bahwa pernah ada tiga orang ke rumah Rasulullah SAW. Mereka menanyakan perihal bagaimana ibadah Rasul kepada istri-istri beliau. Setelah mendengar bagaimana ketekunan ibadah Nabi, sadarlah mereka akan sedikitnya ibadah yang mereka lakukan selama ini. Sehingga salah satu dari mereka berkata, “Saya akan sholat sepanjang malam.” Yang kedua berkata, “Saya akan berpuasa selamanya.” Yang ketiga berkata, “Saya akan menjauhi istri dan tidak akan menikah selamanya.” Mendengar seperti itu, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Demi Allah, aku adalah hamba yang paling takwa kepada Allah di antara kalian, namun aku berpuasa dan berbuka. Aku sholat, tidur dan juga menikah. Barangsiapa mengabaikan sunnahku, maka ia bukanlah golonganku.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Yang ketiga penyebab futur adalah cinta dunia dan melalaikan akhirat. Sebagaimana kita ketahui bahwa tingkat kelemahan seorang Muslim itu akan selaras dengan tingkat kedekatannya dengan akhirat. Cinta akhirat akan melahirkan rasa optimisme dalam diri. Semakin tinggi intensitas seorang Muslim untuk selalu mengingat kematian dan hari akhirat, semakin mantaplah segala gerak dan sepak terjangnya. Ia akan senantiasa berhati-hati dalam menentukan langkahnya. Namun sebaliknya, ketika cinta dunia membelenggu maka akan menyebabkan diri semakin lupa akan segalanya. Dalam surat Asy-Syura ayat 20 Allah SWT berfirman,

“Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bagianpun di akhirat.”

Kemudian yang keempat yaitu memisahkan diri dari jamaah. Jika dalam diri kita menjauh dari jama’ah maka akan semakin mudah didekati setan. Rosulullah SAW bersabda, “Setan hanya menerkam manusia yang menyendiri sebagaimana serigala menerkam seekor domba yang terlepas dari kawanannya.” (HR. Muslim)

Hidup berjamaah dan berkumpul dengan orang-orang sholeh memberikan pengaruh positif, ketimbang hidup mengucilkan diri. Dalam jamaah, kita selalu terinstropeksi, sehingga langkah kita juga senantiasa berada di atas rel kebaikan. Ini pun diingatkan kembali oleh Ali ra, “Sekeruh-keruhnya hidup berjamaah jauh lebih baik daripada beningnya hidup sendiri.”

Rasulullah SAW pun bersabda, “Barangsiapa memisahkan diri dari jamaah satu jengkal saja, maka sungguh dia telah melepaskan tali Islam dari lehernya.” (HR. Bukhari)

Oleh karena itu dalam surat Al-Hujurat ayat 10, Allah SWT selalu menekankan akan pentingnya ukhuwah Islamiyah yang terjalin diantara kita semua, “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.”

Walau kemungkinan terkena futur sangat besar, tapi kita dianjurkan untuk tetap berlaku istiqamah dalam kebenaran sesuai kemampuan diri. Allah SWT telah menyediakan perangkat-perangkat dalam diri ini sehingga kita mampu mengikuti Rasulullah SAW dengan standar dan kemampuan kita. Kalau tidak bisa semuanya, maka sebagian harus kita perjuangkan. Contoh, Rasul bisa qiyamullail semalam suntuk sampai kakinya bengkak. Bila kita tak mampu seperti itu, minimal paling tidak kita tidak sampai meninggalkannya.

Secara bahasa istiqamah berarti tegak dan lurus. Ada pula yang mengatakan bahwa istiqamah berarti “jalan yang lurus” atau “jalan yang berada dalam satu garis lurus”. Dari definisi ini terlihat adanya hubungan antara istiqamah dengan kebenaran. Al-Qur’an menyebutnya dalam surat Al-Fatihah dengan shiratal mustaqim atau jalan yang lurus. Ihdinass siraatal mustaqiim, tunjukkilah kami ke jalan yang lurus.

Oleh karenanya seseorang disebut istiqamah bila ia tetap berada di jalan yang lurus. Itulah arti firman Allah SWT dalam surat Fushilat ayat 30, “Sesungguhnya orang-orang yang berkata “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap lurus (istiqamah) dalam keimanannya.”

Secara umum, sikap istiqamah menyangkut tiga hal, yaitu istiqamah dengan lisan, istiqamah dengan hati, dan istiqamah dengan jiwa. Istiqamah dengan lisan artinya kita bertahan untuk tidak mengucapkan hal-hal yang tidak bermanfaat serta dosa, dan menyibukkan diri dengan perkataan yang baik dan benar. Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam” (HR. Bukhari Muslim)

Istiqamah dengan hati maksudnya selalu melakukan tajdid an-niyat, memperbarui niat. Seseorang yang hatinya istiqamah tidak pernah melakukan suatu amal, kecuali ia meniatkannya hanya untuk Allah. Hal ini sesuai dengan pendapat Utsman bin Affan ra bahwa istiqamah adalah keikhlasan. Sedangkan istiqamah dengan jiwa mengandung arti ketetapan diri untuk terus-menerus melakukan ibadah dan ketaatan pada Allah SWT.

Walau tampak terpisah, ketiganya berhubungan antara satu sama lain. Disabdakan oleh Rasulullah SAW dari Anas bin Malik, “Belum dinamakan lurus keimanan seseorang, sehingga lurus pula hatinya; dan belum dinamakan lurus hatinya, sehingga lurus pula lisannya” (HR. Ahmad).

Karena itu, seseorang bisa dikatakan istiqamah dalam hidupnya bila ia senantiasa lurus dalam hidupnya, konsisten, taat asas, pantang menyerah, dan selalu mengambil sikap pertengahan dalam segala hal, dalam wujud ucapan maupun perbuatan.

Mengingat begitu pentingnya arti semangat dalam beragama, maka lebih bijak kalau setiap kita selalu instropeksi diri. Yang perlu diingat, sampai sejauh manakah kita melangkah? Apakah sudah ada kemajuan atau malah sebaliknya? Kekhawatiran akan diri kita terjatuh ke jurang futur akan segera pupus bila kita istiqamah menjalankan agenda ibadah kita secara baik, menjauhi kemaksiatan dan menjaga ketaatan, tidak berlebihan dalam menunaikan ajaran agama, mengingat pula bahwa kematian dan hari akhirat kelak disamping komitmen kita dalam berjamaah. Wallahu a’lam bishawab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s