Bekerja

bekerja-jenggis-com

“Apabila Telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (Al-Jumu’ah: 10)

Bagi setiap laki-laki Muslim pastinya seringkali mendengar ayat Al-Qur’an tersebut dalam sholat Jum’at. Itulah ayat yang terkadang dijadikan bukti bahwasannya umat ini tidak boleh hanya pasrah menyerah terhadap tantangan kehidupan. Setiap muslim menyadari bahwa dirinya hanya berharga apabila dia berkarya, menciptakan sesuatu dan mampu memberikan arti kepada lingkungannya.

Sudah berkali-kali mungkin kita mendengar atau membaca kalimat Nabi Muhammad SAW yang mengatakan bahwa sebaik-baik manusia adalah orang yang memberi manfaat bagi orang lain.😉

Khairunnas anfa’uhum linnas maksudnya adalah mendatangkan keuntungan bagi orang lain. Baik berupa pemikiran, tenaga, dana dan lain-lain. Orang yang demikian, biasanya mudah mengulurkan tangan untuk memberi bantuan. Otomatis pastilah kita dituntut untuk bisa lebih dari orang lain dalam hal apapun sehingga dapat memberikan manfaat.

Bagaimana kita akan memberikan manfaat jika diri kita sendiri tidak memiliki apa-apa? Terus apa hubungannya bermanfaat bagi orang lain dengan bekerja? Baiklah kita lanjut membacanya.

Rasulullah SAW bersabda, “Mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.” Jika kita mau sejenak berpikir, Allah SWT itu telah memberikan nikmat yang tiada kiranya, yaitu anggota tubuh kita.

Lantas bagaimana kita mensyukuri nikmat Allah yang tiada taranya tersebut? Kita mempunyai sepasang kaki sehingga kita mampu berjalan, kita mempunyai sepasang tangan sehingga mampu mengambil sesuatu dan berpegangan, kita mempunyai sepasang mata sehingga kita bisa melihat indahnya alam karunia Allah SWT di muka bumi ini, kita diberikan sepasang telinga untuk mendengar, hidung, mulut dan sebagainya.

Lantas rasa syukur yang patut kita lakukan yaitu mendayagunakan seluruh potensi kesemuanya itu dalam segala aktivitas kita dengan bekerja menggapai ridho ilahi.

Dalam hal ini Allah SWT telah berfirman dalam surat Az-Zumar ayat 39 yang berbunyi, “Katakanlah: “Hai kaumku, Bekerjalah sesuai dengan keadaanmu, Sesungguhnya Aku akan bekerja (pula), Maka kelak kamu akan mengetahui.”

Hampir di setiap sudut kehidupan, kita akan menyaksikan banyak orang bekerja. Di dalam mereka bekerja ada tujuan serta usaha yang sungguh-sungguh untuk mewujudkan sehingga pekerjaan itu berarti.

Namun dilihat dari motivasinya, setiap orang memiliki persepsi masing-masing tentang pekerjaan. Ada yang mengatakan bekerja itu ya intinya mengumpulkan harta. Dia berupaya habis-habisan memeras keringat banting tulang hanya untuk mencapai harta yang berlimpah.

Ada pula yang mengatakan, bekerja merupakan kewajiban. Bahkan ada juga yang melengkapi pemahaman ini dengan keyakinan bekerja itu selain kewajiban juga ibadah.

Ibadah, itulah motivasi umat Muslim dalam melaksanakan tugas bukan sekedar memeras keringat tetapi juga mendapat pahala. Dua hal yang diraih yaitu duniawi dan ukhrowi, atas dorongan motivasi ini pun bekerjanya lebih giat apalagi ingat akan kewajiban menafkahi keluarga.

Pantang dia memberikan rezeki yang tidak barokah apalagi dari hasil usaha yang haram. Inilah apa yang perlu kita ingat sebagai Muslim, yaitu niat kita dalam bekerja. Diriwayatkan dari Ka’ab bin Umrah,

“Ada seseorang yang berjalan melalui tempat Rasulullah SAW, orang itu sedang bekerja dengan sangat giat dan tangkas. Para sahabat lalu berkata, ‘Ya Rasulullah, andaikata bekerja semacam orang itu dapat digolongkan fi sabilillah, alangkah baiknya. ‘Bersabdalah Rasulullah, ‘Kalau dia bekerja itu hendak menghidupi anak-anaknya yang masih kecil, itu adalah fi sabilillah; kalau ia bekerja untuk membela kedua orang tuanya yang sudah lanjut usianya, itu adalah fi sabilillah; kalau ia bekerja untuk kepentingan dirinya sendiri agar tidak meminta-minta, itu adalah fi sabilillah…” (HR. At-Tabrani)

Bekerja untuk mencari fadhilah Allah SWT, bangkit dari kemiskinan, meningkatkan taraf hidup dan martabat serta harga diri adalah merupakan nilai ibadah yang bermakna, karena Rasulullah SAW bersabda, “Kemiskinan itu sesungguhnya lebih mendekati kepada kekufuran.”

Dalam sebuah riwayat dikisahkan bahwa pada suatu saat Rasulullah SAW berjalan bersama para sahabatnya. Di suatu tempat, beliau melihat beberapa orang pemuda kekar sedang membelah kayu bakar. Para sahabat berkata, “Sayang sekali para pemuda itu, Mengapa keperkasaan mereka tidak digunakan untuk berjuang di jalan Allah?”

Rasulullah bersabda, “Janganlah berkata begitu. Sesungguhnya, jika mereka bekerja agar terhindar dari meminta-minta, berarti mereka berada di jalan Allah. Jika mereka bekerja untuk mencari nafkah dan mencukupi kebutuhan keluarga atau orang tuanya, mereka juga berada di jalan Allah.”

Dalam surat Yusuf ayat 87, Allah SWT berfirman, “Hai anak-anakku, pergilah kamu, Maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”.

Sebagai seorang Muslim, kita dilarang keras untuk berputus asa, putus asa sama dengan tidak yakin akan peran Sang Pencipta. Untuk itu kita dituntut untuk selalu mengevaluasi diri atau muhasabah diri agar selalu ada peningkatan. Dengan bekerja giat pun, selain tugas selesai, ada keuntungan jangka panjang dan mendapat ridho Allah SWT.

Sebagai hambanya tidaklah pantas bagi kita berdiam diri sebagaimana Umar radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Janganlah diantara kamu mencari rizki dengan cara duduk-duduk sambil berkata: “Ya Allah, berilah aku rizki!” Padahal ia tahu bahwa langit tidak akan menurunkan hujan emas atau perak.”

Sebagai manusia kita harus menjemput rizki Allah tersebut dengan bekerja keras dan bersemangat kemudian barulah kita bertawakal pasrah kepada Allah. Tidak pantas bagi kita untuk berputus asa dari rahmat Allah.

Rasulullah SAW dalam riwayat Tirmidzi bersabda, “Kalau kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya Allah memberi rezeki kepada kalian sebagaimana burung diberi rezeki, ia berangkat pagi-pagi dengan perut kosong dan kembali dengan perut terisi.”

“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (Ar-Ra’d: 11)

Dan selanjutnya Allah SWT berfirman dalam surat An-Najm ayat 39, “Dan bahwasannya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang Telah diusahakannya.”

Kemudian Rasulullah SAW pun menekankan kembali dengan bersabda: “Sesungguhnya Allah sangat senang jika salah seorang diantara kamu mengerjakan sesuatu pekerjaan yang dilakukannya dengan tekun dan sangat bersungguh-sungguh.” (HR Muslim)

Ini artinya, Allah SWT mencintai hambaNya yang suka bekerja keras. Paham ini menghapus anggapan kalau agama itu melarang seseorang menjadi kaya. Agama Islam ini mendorong umatnya bekerja keras lagi cerdas agar hidup berkecukupan sehingga dapat memberikan manfaat sekitarnya. Yang penting, setelah harta diraih, tidak jadi penghalang untuk dekat dengan Allah SWT. Wallahu a’lam bishowab.

Wassalam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s