Belajar Ilmu HI Yuk.. [8]

Belajar Ilmu HI Yuk.. [8]

Belajar HI itu pasti akan dikenalkan dengan kata Realisme, apa itu? Sebuah nama makanankah? Sebuah nama jalan? Atau sebuah nama yang apalah arti sebuah nama? Halaah.. Baiklah untuk saat ini saya akan coba kenalkan dengan salah satu aliran dalam ilmu hubungan internasional yaitu realisme.

Sebagaimana yang kita ketahui bahwa perkembangan aliran pemikiran dalam hubungan internasional itu pun memiliki akar dari filsafat politik. Realisme pun mendasarkan diri pada filsafat politik dari Thucydides dan Aristoteles.

Thucydides dianggap sebagai penulis realis dalam hubungan internasional yang pertama. Ia hidup pada tahun 400 SM di Athena dan menulis buku History of the Peloponnesian War. Yang mana buku tersebut berisikan dialog antara orang Melian dengan Athena.

Jika orang Athena saat itu mengandalkan alasan idealis (keadilan), sementara itu orang-orang Melian lebih menekankan kepada kepentingan negara, fakta yang menyebabkan timbulnya perang.

Nah setelah itu barulah muncul konsep kedaulatan negara di akhir abad pertengahan Eropa. Konsep partikularis negara dari Marsilius Padua yaitu balance of power atau perimbangan kekuatan, dan teori negara dari Machiavelli, akhirnya ikut melengkapi juga akar filosofis aliran realisme dalam ilmu hubungan internasional.🙂

Jika Thucydides dan Aristoteles boleh kita sebut sebagai realis klasik, maka Machiavelli dapat juga disebut sebagai realis modern. Melalui karyanya II Principe dan Discourse, Machiavelli menguraikan tentang kekuasaan, kekuatan, formasi aliansi dan kontra aliansi, serta sebab-sebab terjadinya perang antar negara.

Tidak seperti Thucydides, Machiavelli lebih memfokuskan diri kepada masalah-masalah keamanan nasional.

Kalau misalnya boleh ditambah lagi, realis modern itu selain Machiavelli ada juga Thomas Hobbes. Lewat karyanya yang berjudul Leviathan pada tahun 1651, ia menulis tentang bagaimana kondisi anarki Eropa selama ia hidup. Selain itu ia lebih berfokus kepada bagaimanakah negara-negara di Eropa saling berperang dan tidak menghormati perjanjian perdamaian.

Dari pemikiran semacam Hobbes mengenai anarki dan kekuasaan inilah kemudian banyak berpengaruh kepada para teoretisi kontemporer semacam Hans J. Morgenthau lewat bukunya Politics Among Nations.

Pada akhirnya, aliran realisme ini pun mengalami perkembangan. Ini dikarenakan munculnya globalisme sistem politik internasional dari pihak idealisme. Owh iya saya tegaskan juga bahwa realis dan neorealis adalah berbeda. Realis itu beranggapan sistem internasional itu selalu dalam kondisi anarki, sementara neorealis menganggap kalau anarki itu akibat dari ketiadaan otoritas sentral.

Perbedaan lainnya adalah, jika realis itu mengkaji aktor state atau negara yang berusaha memenuhi kepentingan nasionalnya, maka neorealis itu lebih membahas sistem internasional yang didalamnya terdapat hubungan antar negara.

Lebih lanjut, realis dan neorealis juga berbeda dalam konsep ‘stabilitas’. Dalam hal ini realis menganggap keteraturan akan otomatis muncul jika masing-masing negara bisa memaksimalisasi kepentingan nasionalnya dengan memperhatikan kekuatan dan kelemahan dari negara lain, sedangkan neorealis itu memandang setiap negara itu harus mempertahankan posisi kekuatan relatifnya di dalam sistem yang ada.

Sebab bagi aliran neorealis memandang kalau negara yang memaksimalisasi kepentingan ala realis maka akan disisihkan dari sistem politik internasional. Dalam hal ini neorealis pun mengajukan beberapa konsep yaitu unipolar (satu negara sebagai pusat kekuasaan), bipolar (dua negara sebagai pusat kekuasaan), dan multipolar (banyak negara sebagai pusat kekuasaan)

Perkembangan dari neorealis yang paling berpengaruh itu adalah neorealis-strukturalis yang dicetuskan oleh Kenneth N. Waltz. Neorealis-strukturalis ini menganggap kalau struktur sistem politik internasional itu sebagai penentu.

Dalam sistem ini, kemampuan tiap negara untuk memenuhi kepentingan nasionalnya dibatasi oleh kekuatan negara lain. Sistem internasional ini akan terbentuk melalui perubahan dalam pola distribusi kemampuan antar masing-masing unit atau negara. Anarki internasional itu baru akan muncul ketika kekuatan salah satu negara berubah, baik itu berubah menjadi lebih kuat maupun menjadi lebih lemah.😉

Berbeda dengan pandangan realis atas hubungan internasional. Dalam gambaran aliran realis itu, negara-negara yang ada di dunia ini berinteraksi layaknya seperti bola bilyard. Masing-masing terpisah dan saling bertabrakan sesuai dengan kepentingan nasionalnya sendiri-sendiri.

Maka dari itu, kajian atas politik luar negeri menjadi inti kaum realis dalam hubungan internasional. Penekanannya lebih lanjut kepada aspek kepentingan nasional, sebagai dasar dari dibuatnya kebijakan politik luar negeri setiap negara.

Bahkan realisme ini kemudian seakan-akan menjadi mapan tak tergoyahkan setelah Liga Bangsa-Bangsa saat itu tidak mampu menanggulangi konflik antar negara di Eropa pada tahun 1930an, yang pada akhirnya meletuslah Perang Dunia ke II.

Baiklah kita akan lanjutkan lagi tulisan ini dalam edisi selanjutnya yaa..

Salam Hangat dan Jabat Erat Selalu,

Akhmad Jenggis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s