Belajar Ilmu HI Yuk.. [9]

Belajar Ilmu HI Yuk.. [9]

Sebelumnya saya sudah sedikit menulis tentang realisme. Dalam tulisan kali ini saya akan coba lanjutkan kepada beberapa aliran-aliran dalam ilmu hubungan internasional selanjutnya, yaitu idealisme.

Akar filsafat politik aliran idealisme ini sendiri berasal dari Plato. Saat itu Plato membayangkan bahwa konsep-konsep seperti keadilan dan harmonisasi yang mempunyai sifat positif itu merupakan ide mutlak dan bisa diterapkan di dunia ini.

Baginya pemimpin yang bisa menerapkan dan menerjemahkan itu semua adalah seorang yang bukan hanya filosof tapi juga sekaligus raja. Selanjutnya pemikiran Plato ini diteruskan oleh para kaum Stoic, yaitu raja-raja yang memanfaatkan filsafat Plato ini untuk memerintah.

Maka dari itu telah dikenal bahwa ciri-ciri raja Stoic pastilah mereka yang menahan nafsu untuk berperang, dan beranggapan bahwa seluruh negara itu sama, yaitu sekumpulan warga dunia atau kosmopolitanisme dan saling bantu-membantu.

Kemudian kosmopolitanisme ini mengembangkan suatu ide utopis yaitu berupa satu negara di dunia. Utopis sendiri berarti belum ada dalam kenyataan. Nah dari sinilah kemudian yang mengilhami akan lahirnya Liga Bangsa-Bangsa paska pecahnya Perang Dunia I.

Tujuan lahirnya Liga Bangsa-Bangsa ini pada mulanya adalah untuk mencapai perdamaian internasional melalui hubungan kerjasama antar negara. Pemikiran yang melandasi berdirinya Liga Bangsa-Bangsa ini sering disebut aliran idealis, dan bagi para pendukungnya, seperti Presiden Amerika Serikat tahun 1920an Woodrow Wilson disebut bagian dari kaum idealis.

Namun pada kenyataannya, Liga Bangsa-Bangsa sendiri tidak mampu mencegah terjadinya Perang Dunia II yang berlangsung tahun 1939 sampai 1945. Nah kalau sekarang bagaimana? Apakah PBB sudah bisa mencegah terjadinya perang?😉

Paska kegagalan Liga Bangsa-Bangsa dalam mencegah terjadinya perang, aliran idealisme kemudian mengembangkan diri ke dalam varian barunya yaitu liberalisme-institusionalis. Liberalisme-institusionalis ini memandang bahwa politik dalam negeri dari setiap negara itu penting.

Di dalam politik dalam negeri itu, hal yang dipantau adalah aspek demokrasi dan penentuan nasib dari bangsa secara mandiri. Liberalisme-institusionalis bahkan juga memandang dan menyadari kalau Perang Dunia II itu dianggap sebagai kegagalan dari pandangan idealis dalam hubungan internasional.

Ini terbukti dengan sifat hubungan antar negara yang bukannya bekerjasama konstruktif, tetapi malah sebaliknya saling mengedepankan egoisme demi kepentingan nasional yang tengah dicapainya dengan penggunaan kekuatan militer. Maka dari itu, aliran realisme seakan-akan mendapatkan pembenaran atas pandangan mereka dalam melukiskan fenomena hubungan internasional.

Sebab itu muncullah pengembangan dari aliran idealisme selanjutnya yaitu globalisme dan neoliberalisme institusionalis. Aliran globalisme ini muncul sebagai kritikan terhadap pandangan realisme yang secara sempit menganggap bahwa aktor politik internasional itu hanya negara saja.

Bahkan globalisme juga mengkritik kalau realisme itu terlalu pesimis dan meremehkan dimensi pasifis atau suka damai yang ada pada tiap-tiap diri aktor politik.

Globalisme, yang tumbuh di tahun 1970an ini memandang bahwa aktor politik internasional itu tidak cuma negara, tetapi juga meliputi pemerintahan internasional (misalnya saja PBB), lembaga swadaya masyarakat (misalnya saja Red Cross, Green Peace), koalisi internasional (misalnya saja International Political Science Association), multi national corporation (misalnya saja Mc Donald, KFC, Toyota, Sony) ataupun asosiasi masyarakat transnasional (misalnya saja International Olympic Committee).

Nah tidak seperti realisme, globalisme itu memandang kalau hubungan antar aktor lintas negara tersebut bersifat positif. Pencapaian kepentingan para aktor dapat diperoleh melalui sumber daya sosial yang terus-menerus berkembang sebanding dengan kemajuan teknologi, rasionalisasi cara produksi, dan makin rumitnya pembagian kerja antar aktor.

“Permainan” ini dinamakan kerjasama internasional, yang mana masing-masing aktor itu ingin memperoleh hasil yang maksimal. Sedangkan tujuan dari globalisme sendiri adalah perdamaian dunia, yang dicapai melalui saling ketergantungan antar aktor di level internasional.

Pengembangan lain dari idealisme selanjutnya adalah neoliberalisme-institusionalis. Neoliberalisme-institusionalis muncul sebagai kritik dari neorealisme dalam memandang sistem politik internasional.

Neoliberalisme-institusionalis sendiri merupakan pengembangan dari Liberalisme, yaitu ideologi yang berkembang di Eropa awal abad ke-19. Liberalisme ini sendiri lebih menekankan pada pemenuhan kepentingan individu semaksimal mungkin.

Pengembangan neoliberalisme-institusionalis ini merupakan kombinasi antara liberalisme dengan realisme. Aliran ini pun juga sepakat dengan realisme bahwa negara itu adalah aktor internasional yang penting, tetapi di satu sisi ragu bahwa negara secara sendirian bisa mampu mencapai perolehan absolut ketimbang sekedar relatif saja.

Karena pada saat negara berupaya mencapai kepentingannya, maka ia akan membentuk organisasi yang diperuntukkan bagi pencapaian kepentingannya itu.

Maka dari itu, posisi organisasi-organisasi semacam organisasi internasional, lembaga swadaya masyarakat, gerakan sosial transnasional dan multinational corporation menjadi sama pentingnya dengan negara.

Memang semua gerakan dalam politik internasional itu dilakukan oleh negara, tapi itu hanya sekedar langkah awal saja, sebab di akhir nanti penyelesaiannya kemudian diserahkan kepada organisasi-organisasi yang tadi sudah disebutkan.

Dalam hal ini, organisasi-organisasi itu dapat saja mempengaruhi negara, dan sebaliknya. Negara akan sepenuhnya mendukung kerjasama ketika itu dianggap mampu menghasilkan perolehan kepentingan relatif maupun absolut. Sebaliknya, jika negara menilai organisasi tersebut tidak mendukung perolehan kepentingannya, mereka akan dianggap menentang.

Bahkan bisa dinyatakan juga bahwa neoliberalisme-institusionalis ini dianggap sebuah teori liberal pilihan negara yang bisa memasukkan aktor-aktor dalam negeri secara luas, baik itu yang bersifat transnasional dan internasional, sehingga dapat dihubungkan dengan kepentingan domestik ke dalam suatu perilaku negara.

Mudahnya, menurutnya neoliberalisme-institusional ini, bukan tidak mungkin bahwa politik luar negeri suatu negara itu bisa dipengaruhi oleh aktor-aktor domestiknya.

Mengenai tokoh dari neoliberalisme-institusional ini, banyak yang mengidentikkannya kepada Robert Keohane dan Robert Axelrod. Kemudian untuk contoh dari organisasi-organisasi yang terbentuk serta berlatar belakang neoliberalisme-institusionalis ini adalah World Trade Organization, International Monetary Fund, World Bank, bahkan perusahaan-perusahaan swasta transnasional.

Jika kita mencoba menengok kembali terhadap bagan yang pernah saya berikan dalam tulisan sebelumnya yang berjudul Belajar Ilmu HI Yuk.. [7], dapat diperhatikan bahwa munculnya realisme itu sebagai lawan dari idealisme.

Realisme kemudian memperoleh kritikan dari globalisme (varian lain dari idealisme), namun globalisme sendiri juga kembali dikritik oleh varian realisme yang lain, yaitu neorealisme. Lebih lanjut neorealisme juga dilawan kembali oleh varian idealisme yaitu neoliberalisme-institusionalis yang mana kemudian dilawan kembali oleh varian baru yaitu realisme-strukturalis.

Paling tidak sebagai penstudi hubungan internasional, kita bisa sedikit memahami apa itu realisme dan idealisme beserta varian-variannya. Tapi namanya juga ilmu HI ini bagian dari ilmu sosial dan politik, pastinya ia akan berkembang terus-menerus mengikuti keadaan zaman yang ada.

Bahkan selain realisme dan idealisme, ilmu hubungan internasional ini juga dapat dikaji dengan beberapa aliran-aliran baru. Yang mana aliran ini terbentuk paska terjadinya pertentangan antara realisme versus idealisme serta seiring berjalannya waktu. Saya coba sebutkan sebagian aliran-aliran tersebut, misalnya saja teori dari imperialisme, dependensi, sistem dunia kapitalis dan masih banyak lagi yang lainnya.🙂

Baiklah kita akan lanjutkan lagi tulisan ini dalam edisi selanjutnya yaa..

Salam Hangat dan Jabat Erat Selalu,

@Jenggis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s