Ngapain Jadi Pengusaha, Nggak Penting..!!

entrepeneur,pengusaha,pendidikan,wirausaha

Entrepreneur, mungkin itulah kata yang seringkali kita dengar akhir-akhir ini. Bahkan pemerintah pun sepertinya juga meningkatkan kepedulian khusus untuk hal ini. Namun masih banyak dalam benak kita sehari-hari hanyalah tertarik sementara, kemudian menggebu-gebu pingin mengetahui, setelah itu yah lewat begitu aja.

Entrepreneur ini memang identik dengan keberanian, keyakinan, keaktifan, kegigihan, kreativitas, serta usaha. Tanpa hal tersebut barusan nggak usahlah bilang entrepreneur. Bahkan kebanyakan literatur ataupun pelakunya mengatakan usaha atau bisnis itu gila, kalo perlu juga nggak usah dan nggak penting tuh yang namanya sekolah.

Saya sendiri sempat mengira memang ada benarnya, ketika pendidikan kita sejak sekolah dasar dididik meningkatkan otak kiri yang teratur, terencana, realistis, perhitungan, logis, dan terkait dengan otak sadar.

Maka alih-alih mau mendirikan usaha, yang ada baru corat-coret aja merasa dah rugi, katanya analisa tempat kurang mendukung, tidak strategis, modal ndak ada, mikirin bagaimana nanti cara penjualan dan lain-lain, yang padahal masih dalam rencana otak doang dan belum ada sama sekali aplikasi atau tindakan nyata.

Eh terus dah takut duluan, yah mana mungkin mau mendirikan usaha. Namun bagaimanapun juga menuntut ilmu itu tetaplah penting, nggak usahlah dikasih dalil-dalil juga dah pada tau.

Identik sebagian orang mengatakan, “Hati-hati kita nggak usah kaya ntar diperbudak harta lho.” Hmm… menurut saya sendiri sih, orang-orang yang masih mengatakan seperti itu berarti, mohon maaf masih kurang meneladani nabi kita sendiri. Pernahkah Nabi Muhammad itu miskin? Pernah, tapi hanya sebentar.

Yang sesungguhnya, ia lebih lama kaya daripada miskin. Mau bukti karena masih nggak percaya:

Ia menjadi pedagang sejak usia 12 tahun dan menjadi pengusaha selama 25 tahun. Ia berdagang ke luar negeri setidaknya ada tuh 18 kali, menjangkau Yaman, Syiria, Busra, Iraq, Yordania, dan Bahrain. Dah keluar negeri tuh, lah kita keluar daerah aja belum pernah hee…

Ia menyerahkan puluhan unta muda untuk mas kawin dan itu setara dengan ratusan juta rupiah. Ia memiliki banyak unta perah dan 20 untanya pernah dirampas oleh Uyainah bin Hishn. Ia memiliki unta pilihan dan keledai pilihan untuk memudahkan perjalanan dan perjuangan.

Hanya saja, beliau tetap sederhana. Makanya beliau hanya memiliki makanan, pakaian, dan alas tidur yang ala kadarnya.

Mau ngomongin juga sahabat Nabi? Oke kita coba perhatikan diantara empat sahabat terdekat Nabi, ternyata hanya Ali bin Abu Thalib saja yang tidak kaya. Umar bin Khattab mewariskan 70.000 properti (istilahnya sekarang) senilai triliunan rupiah. Usman bin Affan mewariskan properti sepanjang wilayah Aris dan Khaibar senilai triliunan rupiah juga.

Bahkan masih mau ngomongin sahabat lainnya yang di antara sepuluh sahabat Nabi ini dijamin masuk surga, ternyata hampir semuanya orang kaya. Salah satunya, Abdurrahman bin Auf. Meski sering bersedekah besar-besaran, namun ia masih mewariskan harta senilai triliunan rupiah. Bagaimana dengan istri kesayangan Nabi, Siti Khadijah? Ternyata ia lebih kaya daripada Nabi.

Terus Islam juga dibawa masuk ke Indonesia oleh para pedagang. Mereka adalah orang-orang kaya. Pimpinan Wali Songo, Maulana Maghribi juga orang kaya. Pendiri NU dan Muhammadiyah adalah orang-orang kaya, terus Serikat Dagang Islam yang turut memperjuangkan kemerdekaan negeri ini juga merupakan kumpulan orang-orang kaya.

Mau bukti dari sisi teladan mana lagi? Mengingkari mereka semua adalah pengusaha? Halaah paling cuma mau cari alasan aja kalo ajaran kita itu harus sederhana, biasa-biasa aja. Nah bukannya malah bagus udah kaya terus hidup sederhana, biasa-biasa aja bahkan zuhud. Lah kita? Udah kere, eh tergila-gila pula sama dunia.

Itu kalo tidak mau dibilang kita mengecewakan teladan kita, yuuk bareng-bareng kita saling mengingatkan.

Terkadang rasa benci kita terhadap suatu kaum tertentu lebih menggelora dan membara daripada semangat kita untuk berubah dan berbenah. Ini jelas-jelas keliru dan melemahkan diri kita sendiri. Karena kebencian hanya akan memadamkan energi, menegatifkan perasaan dan mematikan potensi. Saat ini juga, coba yuk kita renungkan bersama dengan baik-baik.

Kalau kita sebagai pribadi, sebagai umat, sebagai bangsa masih miskin dan lemah, yah kita bisa apa? Tolong dijawab yaah, kita bisa apa? Sekali lagi, kita bisa apa coba?

Ketika ditekan, paling-paling kita cuma bisa mengeluh dan mengutuk. Padahal bangsa Yahudi tahu persis, kutukan itu tidak mempan. Katanya, “Ngutukin dan ngecam aja teruss sana hehehe…!”

Boro-boro bisa menyelamatkan Masjidil Aqsha. Lha, masjid atau mushola di sebelah rumah saja tidak bisa diselamatkan. Habisnya jorok dan bau, terus bocor lagi, terbengkelai sekian lama karena kitanya miskin dan lemah.

Kalau kita sebagai pribadi, sebagai umat, sebagai bangsa sudah kaya dan  kuat, nah akan lain ceritanya. Kita bisa menjaga diri agar tidak mudah ditekan. Kita juga bisa menjaga pihak-pihak yang benar agar tidak ditekan.

Wasiat Nabi, “Sebaik-baik harta berada di tangan orang beriman.” Dengan begitu, orang beriman dapat menyetir dunia ke arah yang lebih baik, bukannya malah kebalikannya mengemis-ngemis ngarep bantuan minta dikasihani.

Lihatlah keadaan sekarang. Minyak Irak dikuasai Amerika. Sebagian Palestina dikuasai Israel. Belum lagi soal rekayasa tragedi 11 September dan penyerangan ke Afghanistan atau kasus penjara Guantanamo. Kita bisa apa?

Maka dari itu kita saling mengingatkan, “Kaya itu harus!” Baik sebagai pribadi, sebagai umat, maupun bangsa dan negara.

Trus eh ini masih ada aja yang ngeles, “Kalo pada kaya semua ntar gimana nih, yang miskin tidak ada dan ngnggak bisa sedekah dong?” Kalo begitu mah bilang aja, “Yawdah kita aja sih yang kaya, kalo kamu mau miskin ya sana!”

Oke, buat akhir tulisan singkat ini saya mau sedikit cerita. Konon pada suatu saat nanti di depan pintu surga, berdirilah dosen, dokter, dan ulama. Dulunya, selama di dunia si dosen telah mendidik banyak mahasiswa, si dokter telah menyembuhkan banyak orang sakit, dan si ulama telah membimbing banyak orang yang berdosa.

Walhasil, masing-masing menganggap dirinya paling berjasa, sehingga masing-masing merasa berhak dan pantas untuk masuk surga paling dulu. Mereka pun akhirnya berebut.

Tiba-tiba, datanglah pengusaha. Anda tahu apa kata mereka kemudian? Si dosen langsung menyambut, “Nah, ini dia pengusaha kita! Beliaulah yang membangun dan menyumbang kampus kami.”

Si Dokter pun berseru, “Beliau juga yang telah banyak membantu klinik rumah sakit kami.” Si Ulama pun turut melengkapi, “Beliau juga yang merupakan donatur tetap untuk tempat ibadah dan berbagai kegiatan perayaan ibadah kami.”

Akhirnya, mengingat jasa-jasa si pengusaha, maka baik dosen, dokter, maupun ulama pun rela untuk mengalah. Mereka bertiga sepakat mempersilahkan pengusaha untuk masuk surga paling dulu! Memang sih, cerita ini cuma isapan jempol belaka. Boleh-boleh saja pembaca tertawa.

Namun poinnya amat jelas, pengusaha itu tak terkira jasanya. Terus tanggapan judul dari tulisan ini mengenai “Ngapain jadi pengusaha, nggak penting..!!” Yah itu mah terserah anda, loh paling tidak saya sudah mencoba mengingatkan.

Nah kalo menurut teman-teman gimana nih jadi pengusaha?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s