Politik dan Karakter Universal Islam

Politik dan Karakter Universal Islam by Akhmad Jenggis

Banyak pihak mengatakan politik dan agama itu tidak ada hubungannya, mereka secara tidak langsung harus dipisahkan. Inilah yang menjadi senjata mereka yang menentang politik dicampuradukkan dengan agama.

Para pengikut paham Modernis, Marxisme, dan Sekulerisme menganggap hubungan agama dan politik adalah hubungan yang saling berlawanan dan bertentangan. Jadi sampai kapanpun kalau mau dijadikan satu ya nggak bisa, soalnya keduanya tidak akan pernah bertemu. Ini dikarenakan sumber, ciri, dan tujuan keduanya berbeda.

Alasannya agama itu berasal dari Allah sementara politik dari manusia. Agama bersifat sakral, suci dan lurus, sementara politik mempunyai sifat kotor dan kejam. Agama bertujuan untuk akhirat sementara politik bertujuan untuk kepentingan dunia. Oleh karena itu, agama yang mengurus ya ahli agama saja kemudian politik yang mengurus ya politikus saja.🙂

Tetapi kenapa para pembaharu-pembaharu muslim di masa sekarang, seperti contoh misalnya Khairuddin At-Tunisi, Al-Amir Abdul Qadir, Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh, Syakib Arsalan, Rasyid Ridha, Hasan Al-Banna di Mesir, Ibnu Badis di Aljazair, Alal Al-Fasi di Maroko, Al-Maududi di Pakistan dan sebagainya sepakat bahwa syariat Islam itu mencakup akidah dan syariat, dakwah dan daulah, serta agama dan politik.

Mengapa mereka beranggapan seperti itu? Apa yang menjadi landasan berfikir mereka sehingga politik merupakan bagian dari Islam?

Baiklah paling tidak ada beberapa hal yang menjadikan jawaban atas persoalan tersebut. Salah satunya karena ajaran Islam bersifat komprehensif. Maksudnya, ajaran Islam yang disyariatkan oleh Allah SWT tidak mengabaikan satu aspek pun dalam kehidupan kita sehari-hari.

Islam merupakan petunjuk atau ketentuan hidup yang mencakup seluruh aspek, baik material maupun spiritual serta individu maupun sosial.

Ini telah dtunjukkan oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah. Allah SWT berfirman dalam ayat berikut, “Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (An-Nahl: 89)

Kemudian jika memperhatikan beberapa ayat dibawah ini, kita akan mendapatkan bahwa Al-Qur’an menggunakan redaksi yang sama untuk menunjukkan ‘hukum yang bersifat fardhu’, yaitu kata kutiba ‘alaikum (diwajibkan atas kamu). Baiklah kita ambil misal:

Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu.” (Al-Baqarah: 183)

Allah SWT berfirman, “Hari orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh.” (Al-Baqarah: 178)

Allah SWT berfirman, “Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara ma’ruf.” (Al-Baqarah: 180)

Allah SWT berfirman, “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu.” (Al-Baqarah: 216)

Dari beberapa ayat tersebut diatas dapat dilihat bahwa kaum muslimin diwajibkan melaksanakan beberapa perintah Allah SWT, yaitu puasa yang merupakan ibadah ritual, qishas yang merupakan ketentuan syariat berkaitan dengan tindakan kriminal, wasiat yang berkaitan dengan hukum keluarga dan perang yang merupakan persoalan negara.

Semuanya merupakan ketentuan Allah SWT yang mana kaum muslimin tidak dapat menerima salah satunya dan meninggalkan yang lain, seperti puasa saja kemudian menolak qishas, wasiat, ataupun perang. Seperti yang tertera diatas, semuanya mempunyai redaksi yang sama yaitu kata kutiba ‘alaikum (diwajibkan atas kamu).

Itulah syariat Islam yang mengatur segala perbuatan manusia, tidak ada satu perbuatan manusia pun yang tidak memiliki ketentuan hukumnya, karena pasti tidak akan terlepas dari pada hukum syariat Islam yang jumlahnya ada lima yaitu wajib, sunnah, haram, makruh, dan mubah.😉

Allah SWT berfirman, “Al-Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (Yusuf: 11)

Islam adalah petunjuk bagi seluruh aspek kehidupan, petunjuk bagi seluruh manusia, bagi dunia secara keseluruhan, dan tetap akan berlaku untuk selama-lamanya.

Ini dapat dilihat apabila kita menengok berbagai literatur fiqih Islam, misalnya disana ada pembahasan fiqih tanmiyah (perkembangan), fiqih aljaudah (kualitas), fiqih kitab, fiqih kebersihan dan kesucian, fiqih keluarga, fiqih taskhir (pendayagunaan), fiqih aulawiyat (prioritas), fiqih sosial, fiqih dakwah, dan juga fiqih kenegaraan, yang mana semuanya dibahas secara jelas dan mudah dipahami termasuk oleh para pemula, apalagi bagi seseorang yang sudah memiliki ilmu yang memadai, itupun jika dia menghendaki.

Inilah salah satu karakteristik kesempurnaan dan universal yang dimiliki Islam. Wallahu a’lam bishowab.

One thought on “Politik dan Karakter Universal Islam

  1. Yg penting bagaimana pelaku politik n masyarakat melandaskan setiap kebiajakan n perilaku politiknya pada prinsip2 universal agama, spt keadailan dsb agar agama tdk diperkosa oleh kepentingan2 politik🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s