Suriah: Apakah Hanya Sekedar Senjata Kimia (3)

jenggis.com

Kondisi Suriah hampir sama dengan Irak, warga Sunni terus dibantai oleh tentara Suriah. Jika Suriah dan Irak tetap dikendalikan Syiah, maka dua negara ini akan menjadi ancaman besar bagi negara-negara Arab. Ambisi Iran untuk menjadikan Iran pemimpin dunia Islam sangat ambisius. Ayatullah Khomeini, pemimpin besar revolusi Iran, dahulu sudah mentitahkan agar mengekspor revolusinya ke negara-negara Arab dan Islam di dunia.

Ia sendiri juga sadar bahwa resistensi penolakan kaum Sunni sangat besar terhadap Syiah. Maka, Khomeini membuat strategi yang mana dua diantaranya adalah mencitrakan diri sebagai ikon perlawanan terhadap Israel dan Barat, dan cara kedua yaitu menggunakan metode pemikiran taqrib (pendekatan mazhab).

Ikon perlawanan Khomeini terhadap Israel dan US sendiri masih sulit dirasionalkan hingga kini. Alasannya, Ayatullah Khomeini sendiri sebelum revolusi sebenarnya tidak terlalu resisten di Barat. Puluhan tahun bahkan sejak remaja ia hidup di Perancis, termasuk di masa pengasingan saat Shah Reza Pahlevi memimpin Iran. Baru menjelang revolusi ia pulang ke Iran.

Bahkan guru Khomeini sendiri yaitu Ayatullah Al-Kashani juga disebut-sebut agen CIA. Meski Reza Pahlevi sangat pro Amerika Serikat, namun kabarnya CIA juga terlibat dalam revolusi Iran. Hal ini seperti keterlibatan CIA juga dalam perang Afghanistan terhadap Uni Sovyet.

Anehnya selama perang teluk Irak-Iran, Iran diam-diam malah membeli senjata ke Israel dengan bantuan US, kasus skandal ini pun menguak dan terkenal dengan sebutan “Iran Gate”.

Sebutan Amerika adalah Setan Besar dari Iran sama sekali tidak membangkitkan US untuk menginvasi Iran. Padahal Iran sendiri juga menyimpan senjata nuklir. Bandingkan saja dengan invasi US ke Afghanistan dan Irak. US cukup berbekal asumsi, tidak bukti, untuk menyerang kedua negara itu. Irak dituduh menyimpan senjata kimia, belakangan tuduhan itu malah tidak terbukti. Afghanistan diserang dengan tuduhan melindungi Osama bin Laden, nah sekarang Suriah juga dituduh menggunakan dan menyimpan senjata kimia.

Ditilik lebih lanjut, ketika pecah perang Irak-Iran selama 8 tahun. Iran mendapatkan keuntungan politis. Paska perang panjang itu, Irak langsung dimusuhi Amerika. Bahkan negara-negara Arab juga terprovokasi Barat memusuhi Irak. Padahal Irak, paling berani melawan Israel. Beberapa rudal Scudnya mendarat di Tel Aviv, ibukota Israel. Kenyataannya sekarang, Iran malah tidak pernah sama sekali terlibat perang langsung dengan US.

Fakta-fakta tersebut menunjukkan bahwa bantuan-bantuan Iran terhadap negara-negara Muslim tidaklah gratis. Sebab di balik bantuan tersebut mereka membawa misi Syiah. Di Palestina misalnya, HAMAS mungkin saja ‘terpaksa’ dibantu Iran melawan Israel. Namun, jika secara rasional menganalisis sepak terjang gerakan politik Iran seperti di atas. Maka, bantuan itu sejatinya tidak gratis.

Ada misi besar, sebagaimana yang telah diungkapkan oleh Vali Nasr, yaitu menarik simpati untuk membangun imperium Syiah di Timur Tengah. Pada sisi lain, umat Muslim dihadapkan dengan dilema yaitu Arab masih saja memperhitungkan langkah-langkah manuver yang tepat. Umat Muslim benar-benar diuji keteguhan dan kesabarannya.

Irak telah menjadi Syiah, berikutnya kira-kira siapa lagi? Yang jelas, lembar sejarah Islam tidak akan pernah lupa bahwa dalam Perang Salib II, Syiah berkhianat melemahkan tentara Islam. Maka, Gaza Palestina dan negara-negara Muslim lainnya tidak boleh jatuh ke tangan Israel dan Syiah. Dan yang terakhir akankah Suriah bernasib sama menjadi seperti Irak?😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s