Meraih Hidup Sukses

Meraih-Hidup-Sukses-jenggis.com-sydney-liverpool

Pada suatu kali diriwayatkan telah terjadi dialog antara Nabi Ibrahim AS dengan Allah SWT. Waktu itu Allah SWT bertanya kepada Nabi Ibrahim AS: “Fa aina tazhabuun?” (Mau pergi kemana engkau Ibrahim?) Nabi Ibrahim menjawab, “Aku sedang pergi menuju Tuhanku. Semoga Tuhanku memberi petunjuk kepadaku.”

Sebetulnya dialog ini juga ditujukan kepada kita semua, “Mau pergi kemana kalian semua hamba-hambaKu?”, kata Allah SWT. Mestinya jawaban kita sama dengan jawaban Nabi Ibrahim, “Kita semua sedang menuju Allah, semoga Allah Yang Maha Penyayang memberi petunjuk kepada kita.”

Mengapa jawaban kita harus sama dengan Nabi Ibrahim? Karena Allah SWT berfirman dalam surat Luqman ayat 15, “Ikutilah jalan orang-orang yang kembali kepadaKu. Karena hanya kepadaKu tempat kembalimu. Maka nanti akan Aku kabarkan kepadamu, apa saja yang telah engkau lakukan di dunia ini.”

Ibnul Qoyyim pernah berkata bahwa sewaktu kita lahir ke dunia, tidak ada yang pasti tentang kita. Kita tidak tahu dimana kita akan dilahirkan. Apa yang akan jadi pekerjaan kita. Siapa isteri kita, anak kita dan orang tua kita. Hanya satu yang pasti katanya, yaitu bahwa setelah kita lahir ke dunia, kita langsung mendapat tiket menuju kematian.

Semua kita, tanpa kecuali sedang menuju kematian kita. Kalau kita sudah berumur 40 tahun, artinya kita sudah selama 40 tahun berjalan menuju kematian kita. Kapan sampainya, ini tentu saja sesuai dengan jadwal yang sudah ditetapkan Allah SWT. Tidak dapat dimajukan atau ditunda satu detikpun. Nabi Muhammad SAW sudah memberikan batasan, “Umur umatku sekitar 60-70 tahun.” Dan beliau sendiri sudah membuktikan ucapannya dengan umur 63 tahun.

Meraih Takwa Melalui Puasa

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa kita sedang berjalan menuju Allah SWT, menuju kematian kita. Normalnya sebuah perjalanan pasti membutuhkan bekal. Dan bekal untuk perjalanan menuju Allah ini, sudah ditegaskan dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 197, “Berbekallah kalian semua, dan sebaik-baik bekal adalah takwa.”

Persoalannya mungkin, dari mana saja kita bisa mengumpulkan bekal takwa tersebut? Ternyata banyak cara yang sudah Allah SWT tunjukkan dalam Al-Qur’an tentang bagaimana cara mengumpulkan bekal takwa tersebut.

Salah satu cara mendapatkan bekal takwa adalah dengan melaksanakan ibadah puasa dengan penuh iman dan ihtisaban. Allah telah menjanjikan kepada kita dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 183, “Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan kepadamu untuk berpuasa sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu, mudah-mudahan kamu bertakwa.”

Jadi, kalau kita berhasil melaksanakan puasa dengan benar, sesuai dengan ketentuan Allah dan RasulNya, maka kita akan mendapatkan bekal takwa. Yang sangat dibutuhkan nanti sewaktu berhadapan dengan Allah pada akhir perjalanan kita. Perolehan takwa pada bulan puasa adalah anugerah Allah terbesar untuk hamba-hambaNya yang dicintaiNya.

Oleh karena itu, harus diusahakan semaksimal mungkin agar puasa kita jangan sampai kehilangan kesempatan mendapatkan takwa. Jangan sampai seperti yang pernah dikhawatirkan Nabi Muhammad SAW dalam salah satu hadist beliau, “Berapa banyaknya dari orang-orang yang berpuasa, tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan haus saja.

Anjuran Allah dan RasulNya agar takwa bisa kita raih selama bulan Ramadhan adalah, dengan banyak bermanfaat bagi sesama. Antara lain kita dianjurkan memberikan minum atau makanan untuk orang yang berbuka puasa, menyantuni yatim piatu, memperhatikan fakir miskin, meringankan beban pembantu dan lain sebagainya sejenis ini.

Meraih Takwa Melalui Berkhidmat

Sumber bekal takwa lainnya yang sangat luar biasa adalah sewaktu kita memfokuskan diri berkhidmat, melayani dan bermanfaat bagi sesama hamba Allah lainnya. Pernah diriwayatkan suatu kisah yang hebat sewaktu Nabi Musa AS bermunajat kepada Allah SWT. Ketika itu Allah SWT bertanya kepada Nabi Musa AS, “Wahai Musa, banyak sekali ibadahmu, mana yang untukKu?”

Nabi Musa terkejut  dengan pertanyaan Allah SWT, karena ia merasa seluruh ibadahnya ditujukan kepada Allah SWT semata. Lalu Nabi Musa AS menjawab, “Rabb, semua ibadahku untukMu, sholatku, doaku, zikirku, hajiku, kurbanku, semuanya untukMu Ya Allah.” Kemudian Allah SWT berkata, “Tidak, itu semuanya untuk kamu, mana yang untukKu?” Musa bingung dan berkata, “Tunjukkanlah pada hambaMu yang lemah ini, bagaimana ibadahku yang untukMu?” Lalu Allah SWT berkata, “Berkhidmatlah kepada hamba-hambaKu.”

Jadi, dari riwayat ini kita paham, bahwa ternyata semua yang kita lakukan untuk melayani, membantu dan menolong sesama adalah ibadah untuk Allah. Dan Allah sangat menyukai orang-orang yang mencintai sesama. Dan ini salah satu cara meraih takwa.

Jamil Azzaini dalam bukunya Menyemai Impian Meraih Sukses Mulia menuliskan, “Orang bisa disebut hidup mulia bila ia mampu memberi banyak manfaat kepada orang lain. Orang mulia adalah orang yang senang berbagi dengan orang lain.”

Artinya, banyak harta belum tentu mulia, kecuali kalau sebagian hartanya itu juga dinikmati oleh orang yang tidak mampu. Punya jabatan tinggi, tidak akan memuliakan kalau jabatan itu tidak digunakan untuk melayani dan membantu orang yang membutuhkan. Punya ilmu banyak, tidak akan memuliakan kalau ilmu itu hanya untuk dirinya sendiri, tidak dirasakan manfaatknya oleh orang lain.

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya.” Dan banyak cara bermanfaat bagi orang lain, tapi yang paling utama dari pandangan agama adalah sewaktu kita berusaha membantu orang-orang miskin. Minimal dengan mendoakannya.

Pernah sewaktu Nabi Musa bermunajat dengan Allah SWT dan Nabi Musa diberi tahu oleh Allah bahwa ada seorang hambaNya, memiliki dosa dan kesalahan yang banyak sekali, sampai memenuhi sudut-sudut langit Allah. Tapi Allah mengabaikan dosanya yang banyak itu. Bahkan Allah ampuni dosa-dosanya itu. Nabi Musa bertanya, “Ya Rabb, mengapa Engkau abaikan dosa-dosanya yang banyak itu, bahkan Engkau ampuni.” Allah menjawab, “Aku sangat suka dengan salah satu amalan yang dilakukannya.”

Kemudian Musa bertanya, “Amalan apa itu Ya Allah?” “Hambaku itu sangat senang bergaul dengan orang-orang miskin, selalu membantu mereka dan memperhatikan kebutuhan mereka, dia tidak sombong dihadapan orang-orang miskin, bahkan ia sangat mencintai fakir miskin,” jawab Allah SWT. “Kalaulah ada hamba-hambaKu yang lain seperti dia, maka akan Aku abaikan dosa-dosa dan kesalahannya bahkan Aku ampuni,” lanjut Allah.

Hadist-hadist Rasulullah SAW yang senada dengan ini banyak sekali. Antara lain, Rasulullah SAW bersabda, “Wahai Aisyah, cintailah orang miskin dan akrablah dengan mereka, supaya Allah juga dekat denganmu pada hari kiamat.” (HR. Hakim)

Pada kesempatan Rasulullah SAW bersabda, “Segala sesuatu ada kuncinya, dan kunci surga adalah mencintai orang-orang miskin.” (HR. Daruquthni dan Ibnu Hiban)

Rasulullah SAW juga bersabda, “Orang yang bekerja keras untuk membantu janda dan orang miskin adalah seperti pejuang di jalan Allah, atau orang yang terus menerus sholat malam atau terus-menerus puasa.” (HR. Muslim)

Rasulllah SAW bersabda, “Barangsiapa di waktu pagi berniat untuk membela orang yang teraniaya dan memenuhi kebutuhan seorang Muslim, baginya ganjaran seperti ganjara haji yang mabrur. Hamba yang paling dicintai Allah ialah yang paling bermanfaat buat manusia. Seutama-utamanya amal ialah memasukkan rasa bahagia pada hati orang yang beriman, melepaskan rasa lapar, membebaskan kesulitan atau membayarkan hutang.” (HR. Thabrani)

Kemudian Rasulullah SAW juga bersabda, “Siapa yang menghilangkan satu kesusahan dari berbagai kesusahan orang mukmin di dunia, maka Allah akan menghilangkan satu kesusahan dari berbagai kesusahan di akhirat. Siapa yang memudahkan satu kesulitan, maka Allah akan memudahkan kesulitannya di dunia dan di akhirat. Siapa yang menutupi rahasia seorang Muslim, maka Allah akan menutupi rahasianya di dunia dan di akhirat. Allah berada dalam pertolongan hamba selagi hamba itu berada dalam pertolongan saudaranya.” (HR. Muslim)

Meraih Takwa Melalui Sedekah

Rasulullah SAW pernah bersabda, “Orang yang suka bersedekah dekat dengan Allah, dekat dengan surga, dekat dengan manusia dan jauh dari neraka. Dan orang yang kikir jauh dari Allah, jauh dari surga, jauh dari manusia dan dekat dengan neraka. Dan sesungguhnya, seorang yang bodoh, tapi suka bersedekah, lebih dicintai Allah dari pada seorang ahli ibadah yang kikir.” (HR. Tirmidzi)

Bahkan Allah SWT dalam Al-Qur’an surat Ali Imran ayat 133-134 lebih tegas lagi menyebutkan, “…bahwa surga yang seluas langit dan bumi disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, yang salah satu cirinya adalah senantiasa menginfakkan atau mensedekahkan hartanya, baik di waktu lapang maupun di waktu sempit..”

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa maksud dari di waktu lapang maupun sempit adalah juga termasuk dalam keadaan senang ataupun waktu menderita, waktu gembira ataupun susah, waktu sehat maupun sakit. Artinya dalam segala keadaan orang-orang yang bertakwa itu tetap bersedekah. Jadi, seharusnya kita menjaga agar tetap istiqamah dalam bersedekah agar dengan mudah meraih takwa.

Dalam surat Al-Baqarah ayat 177, Allah SWT berfirman, “..memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerluan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta, Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya), dan mereka itulah orang yang bertakwa.”

Bahkan hadist-hadist tentang keutamaan bersedekah ini juga luar biasa banyaknya. Antara lain adalah:

  • Sesungguhnya sedekah itu benar-benar akan memadamkan kemurkaan Allah dan mencegah kematian dalam keadaan su’ul khotimah. (HR. Tirmidzi)
  • Mendapatkan naungan Allah di akhirat nanti, disaat tidak ada naungan kecuali naunganNya, yaitu orang yang bersedekah, yang tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diperbuat tangan kanannya. (HR. Bukhari Muslim)
  • Bersedekahlah kamu, karena sedekah dapat membebaskanmu dari api neraka. (HR. Thabrani)
  • Sedekah itu akan menghapuskan kesalahan sebagaimana air memadamkan api. (HR. Tirmidzi)
  • Sesungguhnya Allah SWT tertawa melihat seseorang apabila ia mengulurkan tangannya untuk bersedekah, dan barangsiapa yang ditertawai Allah, maka Dia akan mengampuni dosa-dosanya. (HR. Dailami)
  • Sebaik-baik pintu kebaikan adalah sedekah. (HR. Daruquthni)
  • Barangsiapa bersedekah dengan sebutir kurma dari usaha yang baik maka Allah akan menerimanya dengan tangan kananNya lalu mengembangkannya untuk pelakunya, seperti salah seorang dari kalian mengembangkan maharnya hingga menjadi seperti bukit. (HR. Muttafaqun ‘alaih)
  • Sedekah itu tidak mengurangi harta. Tidaklah Allah menambah kepada seorang hamba dengan ampunan, melainkan kemuliaan. Dan tidaklah seorang bertawadhu karena Allah, melainkan Dia meninggikan derajatnya. (HR. Muslim)

Dari semua hadist-hadist yang membicarakan sedekah, hampir semunya mengarah kepada satu pemahaman yaitu, bahwa sedekah mendekatkan diri kepada Allah, dan jalan tercepat untuk meraih takwa.

Akhirnya, dari keseluruhan uraian tulisan diatas tadi, dapat disimpulkan bahwa kalau ingin meraih takwa sebagai bekal perjalanan menuju Allah dan agar kita selamat di dunia serta bahagia di akhirat, maka kita harus puasa dengan sempurna, senang melayani dan membantu sesama terutama orang-orang miskin dan membiasakan diri untuk bersedekah.

Insya Allah kalau semuanya itu bisa dilakukan dengan istiqomah, dengan niat mencari ridho Allah, akan mengantarkan kita untuk hidup sukses mulia, bahagia di dunia dan bahagia di akhirat. Amin Ya Robbal Alamin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s