Partai (Bagian 1)

partai,bagian,pertama

Partai atau hizb yang bentuk jamaknya Ahzab (partai-partai), adalah setiap kelompok atau jamaah yang dipersatukan oleh arah sasaran pada satu tujuan politik, atau tujuan non-politik. Pada mulanya dalam realitas modern, sebutan istilah partai ditujukan untuk organisasi yang menghimpun kelompok individu yang memiliki kesamaan konsep tentang beberapa masalah politik dan membentuk satu pandangan elektif.

Terminologi partai dalam dasar-dasar Islam, Al-Qur’an dan Sunnah, begitu pula dalam pengalaman negara Islam pertama, pada periode Rasulullah SAW, tidak ditolak secara mutlak dan tidak pula secara mutlak diterima karena alasan istilah partai itu sendiri.

Tetapi hal yang menjadi ukuran penerimaan istilah partai (hizb), kemudian istilah berpartai (tahazzub) dan organisasi kepartaian (at-tanzhim al-hizb) adalah muatan tujuan, sasaran dan prinsip-prinsip yang menjadi asas partai ini. Sebab kemusyrikan dan kaum musyikin adalah sebuah partai, akan tetapi partai ini tertolak dan dikecam, para penolong setan adalah partai akan tetapi dikecam dan ditolak.

Sedangkan para pembela Allah (auliya’ Allah) adalah suatu partai yang diterima dan mendapat pujian. Begitu pula kaum mukminin, para pembela Rasulullah SAW (anshar ar-Rasul) mereka adalah partai Allah (Hizbullah) yang bergabung dalam jihad untuk membela agama.

Konflik Islam senantiasa terjadi antara partai politik syirik, kufur, dan setan melawan partai tauhid dan iman Hizbullah. Jadi istilah partai, dapat diterima atau ditolak dengan melihat pada prinsip-prinsip dan tujuan. Berpartai, yakni afiliasi manusia pada partai dapat ditolak atau diterima dilihat dari kriteria yang berlaku di dalamnya, bukan karena istilah itu sendiri, bukan karena berpartai itu sendiri dan bukan pula karena organisasi partai secara mutlak.

Kaum musyirikin adalah partai-partai, menurut Al-Qur’an, “Dan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu (Al Ahzab), mereka berkata: ‘inilah yang dijanjikan oleh Allah dan RasulNya kepada kita’. Dan benarlah Allah dan RasulNya. Dan demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan.” (Al-Ahzab: 22)

Begitu pula keadaan mereka dalam rentang sejarah risalah samawiah. Diuraikan dalam Al-Qur’an: “Suatu pasukan tentara yang besar yang berada di sana dari golongan-golongan (al-Ahzab) pasti akan dikalahkan. Telah mendustakan (rasul-rasul pula) sebelum mereka kaum Nuh, ‘Ad. Fir’aun yang mempunyai tentara yang banyak, dan Tsamud, kaum Luth dan penduduk Aikah. Mereka itulah golongan yang bersekutu (Al-Ahzab) menentang rasul-rasul.” (Shaad: 11-13)

Dalam doa Rasulullah SAW kita menemukan, “Ya Allah, yang menurunkan kitab, yang membuat awan berjalan, yang mengalahkan golongan-golongan (partai), kalahkanlah mereka.” (HR. Bukhari, Muslim dan Abu Daud)

Setan mempunyai partai, yaitu partai setan (hizb asy-syaithan) sebagaimana dikatakan oleh Al-Qur’an, “Setan-setan itu mengajak golongannya (hizbahu) supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (Faathir: 6)

Allah mempunyai partai sendiri yaitu partai Allah (Hizbullah) sebagaimana ditegaskan dalam firmanNya, “Dan barangsiapa mengambil Allah, RasulNya dan orang-orang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya partai Allah itulah yang menang.” (Al-Maidah: 56)

“Allah ridha terhadap mereka dan merekapun merasa puas atas (limpahan) rahmatNya. Mereka itulah golongan Allah (Hizbullah). Ketauhilah bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang .. “ (Al-Mujaadilah: 22)

Dalam kesastraan periode Nabi Muhammad SAW istilah Amir dipakai untuk Rasulullah SAW karena kepemimpinannya dalam pemerintahan. Begitu pula istilah hizb (partai) dipakai untuk para  pendukungnya. Anas bin Malik meriwayatkan bahwa kelompok  Asy’ariyyin yang diantara mereka adalah Abu Musa Al Asy’ari ketika datang kepada Rasulullah SAW dan mendekati kota Madinah, mereka membaca baik-baik puisi, diantara salah satu baitnya adalah, “Esok hari, kita berjumpa kekasih sejati, Muhammad dan partainya.” (Imam Ahmad)

Bahkan dari Aisyah ra diriwayatkan, “Bahwa istri-istri Rasulullah SAW, mereka ada dua kelompok (hizb): satu kelompok di dalamnya terdapat Aisyah, Hafshah, Shafiah, dan Saudah. Sedangkan kelompok lain ialah Ummu Salamah beserta istri-istri Rasulullah lainnya.” (HR. Bukhari)

Ini tentang terminologi yang dipakai. Sedangkan kriteria penolakan atau penerimaan adalah tujuan partai dan sasaran berpartai. Mengenai legalitas berorganisasi dan berpartai, tidak diragukan berlandaskan pada keyakinan terhadap legalitas adanya kemajemukan visi dan orientasi.

Masyarakat-masyarakat yang mengambil acuan legalitas kemajemukan pemikiran adalah yang mengacu pada pluralitas organisasi dan keikutsertaan dalam partai.

Jika Islam telah berbicara tentang kesatuan agama sejak dari Adam hingga Nabi Muhammad dan sepanjang masa setiap rasul dan nabi, Islam juga telah berbicara tentang pluralitas dalam syariat umat-umat sesuai dengan rasul yang diutus kepada mereka, “Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya.” (Asy-Syuura: 13)

“Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja).” (Al-Maidah: 48)

Jadi agama (ad-din) hanya ada satu sejak dulu hingga kapanpun. Sedangkan syariat atau aturan dan jalannya bersifat majemuk, dari dulu hingga kapanpun. Disinilah terdapat pluralitas dalam kerangka kesatuan.

Manusia pada dasarnya merupakan satu kesatuan, dari satu ayah dan satu ibu, akan tetapi majemuk dalam bahasa dan warna kulit, yakni dalam kebangsaan.

“Hai sekalian manusia bertaqwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan darinya Allah menciptakan istrinya, dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak.” (An-Nisaa: 1)

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya adalah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan) bagi kaum (orang-orang) yang mengetahui.” (Ar-Ruum: 22)

Di sini sekali lagi terdapat kesatuan dalam kemanusiaan dan pluralitas dalam kerangka kesatuan ini. Umat Islam itu adalah satu kesatuan, “Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua, agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu maka sembahlah Aku.” (Al-Anbiya: 92)

Dan dalam kerangka umat yang satu terdapat umat-umat yang berbeda, yakni kelompok-kelompok yang berhimpun dalam kesepakatan untuk melakukan amar ma’ruf nahi munkar.

Sekian dulu bagian tulisan pertama dari Partai ini, untuk melanjutkan ke bagian ke dua silahkan baca di Partai bagian 2.

One thought on “Partai (Bagian 1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s