Bersyukur Dalam Hidup

04-04-2014-wujud-syukur-dalam-hidup

Sebagai hamba Allah SWT, seseorang Muslim sudah sepatutnya untuk tidak mengeluh terhadap apa yang telah diberikan kepadanya. Bersyukur, itulah kunci dari terbelenggunya perasaan selalu kekurangan. Mengapa demikian?

Rasulullah SAW pernah memberikan peringatan; “Andaikata manusia mempunyai dua buah ladang yang seluruhnya berisi emas, akan puaskah manusia? Tidak. Mereka akan cari ladang emas yang ketiga.” Sungguh mulut manusia ini tidak akan pernah penuh terisi, kecuali kalau sudah disumpal dengan tanah, artinya kalau dia sudah dipendam di liang lahat.

Sepanjang dia masih bergerak, masih hidup dan bernyawa dia tidak akan pernah puas bekerja dan ini akan mendorong manusia untuk menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan, yang penting cepat kaya, perkara itu judi, korupsi dan menyangkut hajat hidup orang banyak. Tidak peduli sudah jadi kebiasaan dan yang aneh sudah tidak malu lagi menumpuk kekayaan dengan cara yang tidak wajar.

Tetapi manusia juga tidak diperkenankan hanya duduk bertopang dagu mengharapkan uang jatuh dari langit. Sungguh itu perbuatan yang sangat tercela. ‘Dan, katakanlah; “Bekerjalah kamu sekalian.” (At-Taubah: 105)

Kemudian Rasulullah SAW pun selalu menekankan kepada kita sebagaimana sabdanya; “Sekiranya diantara kamu membawa tali dan pergi ke bukit untuk mencari kayu. Kemudian dipikul ke pasar untuk dijual dan dengan itu dapat mencukupi sedikit dari kebutuhannya. Maka yang demikianlah itu lebih baik daripada meminta-minta pada orang-orang, baik mereka memberi atau menolaknya.” (HR Bukhari)

Walaupun sudah ada keinginan dan semangat, masih saja ada alasan yang dibuat-buat. Sehingga jadilah ‘irodah’ (kemauan) kita cuma setengah-setengah.

Padahal dengan iman kepada taqdir sudah merupakan bekal yang cukup sebagaimana yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari Ali bin Abi Thalib; “Setiap diri kalian telah ditulis (ditetapkan) tempatnya di surga atau di neraka. Ada seorang sahabat bertanya, “Mengapa kita tidak (tawaakul-pasrah) saja, wahai Rosul Allah?” Beliau menjawab, “Tidak. Berbuatlah karena masing-masing akan dimudahkan.”

Lalu beliau membacakan surat Al-Lail ayat 4-7: “Sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda. Adapun orang-orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertaqwa dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.” (QS Al-Lail: 4-7)

Seorang yang pantang menyerah pasti tidak mengenal putus asa, ia akan selalu meraih dan mencapai cita-cita yang diidamkan selama ini. Maka kombinasi dari rasa optimis dan usaha kerja keras yang selalu diiringi dengan doa merupakan kunci keberhasilan seorang Muslim dalam menempuh kehidupan ini.

Janganlah kita mengesampingkan salah satunya, tetapi harus seimbang dunia dan akhirat. Inilah yang terkadang membuat manusia lupa, dimana selalu menggebu-gebu meraih harta di dunia tetapi lupa akan amalan bekal di akhirat.

Maka kita harus menyadari bahwa, manusia itu diciptakan seorang diri, oleh karena itu haruslah waspada kelak akan mati juga seorang diri. Semoga kita selalu dalam lindungan hidayah-Nya. Wallahu a’lam bishowab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s