Bersyukur Dalam Hidup

04-04-2014-wujud-syukur-dalam-hidup

Sebagai hamba Allah SWT, seseorang Muslim sudah sepatutnya untuk tidak mengeluh terhadap apa yang telah diberikan kepadanya. Bersyukur, itulah kunci dari terbelenggunya perasaan selalu kekurangan. Mengapa demikian? Continue reading

Advertisements

Partai (Bagian 1)

partai,bagian,pertama

Partai atau hizb yang bentuk jamaknya Ahzab (partai-partai), adalah setiap kelompok atau jamaah yang dipersatukan oleh arah sasaran pada satu tujuan politik, atau tujuan non-politik. Pada mulanya dalam realitas modern, sebutan istilah partai ditujukan untuk organisasi yang menghimpun kelompok individu yang memiliki kesamaan konsep tentang beberapa masalah politik dan membentuk satu pandangan elektif. Continue reading

Bekerja

bekerja-jenggis-com

“Apabila Telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (Al-Jumu’ah: 10)

Bagi setiap laki-laki Muslim pastinya seringkali mendengar ayat Al-Qur’an tersebut dalam sholat Jum’at. Itulah ayat yang terkadang dijadikan bukti bahwasannya umat ini tidak boleh hanya pasrah menyerah terhadap tantangan kehidupan. Setiap muslim menyadari bahwa dirinya hanya berharga apabila dia berkarya, menciptakan sesuatu dan mampu memberikan arti kepada lingkungannya. Continue reading

Seorang Muslim dan Hidup Kaya

muslim dan hidup kaya

Salam sahabatku semuanya.. tulisan Die Notiz di hari Jum’at yang penuh barokah kali ini, saya akan mencoba berbagi atau ‘share’ dengan teman-teman semua mengenai bagaimanakah seorang Muslim dan hidup kaya. Jika dengan kaya, kita bisa hidup mulia, mengapa kita tidak memilih hidup kaya? Jika dengan kaya, kita bisa memberi dan bermanfaat bagi banyak orang, lantas kenapa kita tidak memilih hidup kaya?

Itulah beberapa pertanyaan yang harusnya ada dalam jati diri kita. Namun bagaimana bisa kaya jika kita berharapnya selalu saja kepada manusia, malahan terkadang kita lupa siapakah yang Maha Kaya lagi Sang Maha Pemberi Rezeki. Makanya sudah tidak usah heran ketika kita bisa mengerti mengapa orang kaya semakin kaya, sedangkan orang miskin semakin miskin. 😉

Sebenarnya dengan kita banyak menengadahkan tangan kita dan berharap belas kasihan kepada manusia yang juga tidak berdaya, secara tidak langsung kita telah menghinakan diri kita sendiri. Apalagi yang meminta-minta kepada makhluk lainnya yang padahal sudah jelas kalau kita manusia itu merupakan makhluk yang paling sempurna diantara makhluk ciptaanNya.

Allah SWT pun telah memperingati kita dengan jelas dalam firmanNya surat Thaha ayat 124, “Barangsiapa yang berpaling dari mengingatKu, sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit.”

Mengenai masalah kaya atau miskin nih, sepertinya kita memang harus memilih kaya. Karena nampaknya banyak sekali yang bisa dilakukan oleh segolongan orang kaya, makanya jangan pernah cuma iri saja. Kalau misalnya iri saja bisa buat kaya sih nggak pa pa. Nah supaya kita lebih termotivasi lagi untuk kaya ada baiknya kita lanjutkan bacanya.

Pada zaman Rasulullah SAW, segolongan orang-orang fakir miskin dari sahabat Muhajirin datang dan mengeluh kepada Rasulullah SAW. Mereka mengadukan nasib mereka, seraya mengatakan, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya orang-orang kaya telah memborong semua pahala dan tingkat-tingkat yang tinggi serta kesenangan abadi.”

“Mengapa bisa demikian?” tanya Rasulullah SAW.

“Mereka bisa sholat sebagaimana kami sholat. Mereka bisa puasa sebagaimana kami puasa. Mereka bisa mendapatkan pahala sedekah, sedangkan kami tidak. Mereka bisa mendapatkan pahala haji dan umrah, sedangkan kami tidak.

Orang-orang kaya bisa banyak melakukan amal ibadah dengan kekayaan mereka, sedangkan kami tidak wahai Rasulullah!” ujar sahabat dari orang-orang fakir miskin Muhajirin.

Para sahabat ini sadar bahwa orang kaya yang sholeh dan dermawan memiliki banyak peluang dalam mendapatkan pahala yang besar. Rasulullah SAW menghibur mereka. Beliau bersabda, “Sukakah kalian sekiranya aku ajarkan amal perbuatan yang dapat mengejar mereka, dan tiada seseorang yang lebih utama dari kamu kecuali yang berbuat seperti mereka?”

“Bersedia, ya Rasulullah!” sahut mereka.

“Bacalah tasbih, tahmid, dan takbir sebanyak 33 kali seusai sholat!”

Apakah setelah fakir miskin mengamalkan amal tersebut, orang-orang miskin itu sama mulianya dengan orang kaya? Ternyata tidak! Orang-orang fakir miskin kembali mengeluh dan berkata kepada Rasulullah SAW, “Ya Rasulullah, saudara-saudara kami yang kaya, mendengar perbuatan kami, mereka pun melakukan apa yang kami lakukan.”

Apa jawaban Rasulullah SAW demi mendengar hal itu?” Beliau bersabda “Itulah karunia Allah yang diberikanNya kepada siapa saja yang dikehendakiNya.”

Wallahu a’lam bishowab.

Wassalam