Hikmah di Balik Pergantian Tahun Baru Islam

Hikmah di Balik Pergantian Tahun Baru Islam
”Saudara-saudara, kita sebenarnya tidak perlu memperingati atau merayakan tahun baru. Yang perlu kita lakukan adalah menumbuhkan tekad atau komitmen untuk punya semangat baru. Kita harus rayakan semangat baru itu pada tahun baru ini. Ya, semangat untuk punya rasa mandiri, tidak minder sebagai bangsa yang besar dengan potensi alam yang besar. Jangan kita rendah diri. Kita harus punya keberanian untuk percaya diri di depan bangsa-bangsa di dunia. Jangan sampai kita kalah dengan negara tetangga kita, yang kecil bahkan kebutuhan airnya saja itu harus ngimpor tetapi punya percaya diri yang besar. Kita harus bersatu untuk sukses hidup.” Abdullah Gymnastiar

Hari demi hari berlalu, demikian juga minggu, bulan, dan tahun. Tak terasa kita sudah berada di tahun baru umat Islam 1434 H, tahun dimana harus meningkatnya seluruh kegiatan, perbuatan, dan amal kita kepada yang lebih baik dari yang sebelumnya. Kita pun selalu mendengar dalam sebuah hadist yang dikatakan, “Barangsiapa yang harinya lebih baik dari yang kemarin, maka dia beruntung, barangsiapa yang harinya sama dengan hari yang kemarin maka ia merugi, barangsiapa yang harinya lebih jelek dari yang kemarin, maka dia celaka.”

Kita, baik secara individu maupun masyarakat, dalam hari-hari yang telah berlalu itu, senantiasa mengisi lembaran-lembaran yang setiap tahun kita tutup untuk kemudian membuka lagi dengan lembaran-lembaran baru pada tahun berikutnya. Lembaran-lembaran itu adalah sejarah hidup kita secara amat rinci. Itulah kelak yang akan disodorkan kepada kita untuk dibaca dan dipertanggungjawabkan dihadapan Allah SWT pada hari kiamat nanti.

“Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu.” (Al-Israa’: 14), kemudian Allah SWT pun berfirman dalam surat Al-Jaatsiyah ayat 28, “Dan (pada hari itu) kamu lihat tiap-tiap umat berlutut, tiap-tiap umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amalnya. Pada hari itu kamu diberi balasan terhadap apa yang Telah kamu kerjakan.”

Oleh karena itu sebaiknya kita mengetahui bahwa keimanan terhadap penghisaban pada hari kiamat mewajibkan disegerakannya koreksi diri dan persiapan diri. Kita pun seringkali mendengar, “Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab.”

Allah SWT juga berfirman dalam surat Al-Anbiyaa’ ayat 47, “Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. Dan jika (amalan itu) Hanya seberat biji sawipun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai Pembuat perhitungan.”

Dan barangsiapa menghisab dirinya termasuk waktu-waktu yang dipergunakan dan apa yang ia pikirkan, niscaya akan ringan kesedihan yang harus ditanggung di hari kiamat nanti. Tetapi barangsiapa tidak menghisab dirinya, maka kekallah kesedihannya dan menjadi banyak pemberhentiannya di hari kiamat.

Dalam hal ini Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (Ali ‘Imran: 200)

Setelah kita mengetahui dan kita melihat segala kekurangan dalam diri kita, maka kita harus ingat selalu terhadap firman Allah SWT dalam surat Ar-Ra’d ayat 11, “Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”

Begitulah bunyi sebuah ayat yang menafikan secara tegas ketentuan sejarah dan secara tegas pula sikap terdalam manusia sebagai penentu sejarah. Dari sini dapat dipahami mengapa para Nabi memulai langkah mereka dengan menanamkan kesadaran terdalam dalam jiwa ummat. Dari mana kita datang? Kemana kita akan menuju? Bagaimana alam ini terwujud dan ke arah mana ia bergerak? “Semua dari Allah dan akan kembali kepadaNya” dan “Akhir dari segala siklus adalah kembali ke permulaan,” demikian para filosof muslim merumuskan.

Itulah kesadaran pertama yang harus ditanamkan pada manusia. Kemudian disusul dengan kesadaran jenis kedua yaitu kesadaran akan kemanusiaan manusia serta kehormatannya. Ruh Ilahi dan potensi berpengetahuan yang diperoleh makhluk dari Tuhan, mengundang untuk memanusiakan dirinya, dengan  jalan mengaktualkan pada dirinya sifat- sifat Ilahi sesuai kemampuannya. Dan kesadarannya ketiga akan tanggung jawab sosial.😉

Nah, kalau manusia atau masyarakat mampu mengisi hari-hari yang berlalu dalam hidupnya atas dasar kesadaran diatas, maka disanalah dia akan memperoleh kebahagiaan abadi. Dengan ini semua dan dengan pergantian tahun hijriah ini mari kita merubah mulai dari diri kita sendiri, karena adalah mimpi bisa merubah apapun dengan baik tanpa diawali merubah diri sendiri, kita perbaiki diri sendiri berarti kita mulai memperbaiki segalanya. Selanjutnya mulai dari hal yang terkecil, karena tak ada prestasi besar, kecuali rangkaian prestasi kecil dan mudah. Kemudian mari kita mulai dari saat ini juga, janganlah menunda, karena belum tentu ada hari esok, keberuntungan kita adalah kebaikan yang kita laksanakan saat ini. Wallahu a’lam bishowab.

Wassalam,

Akhmad Jenggis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s